Spanduk Larangan Truk dan Selebaran Disebar

SERPONG,SN Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mensosialisasi larangan jam operasional truk. Sosialisasi dilakukan dengan memasang spanduk di lima pintu keluar tol yang ada di Tangsel, dan satu lagi di Jalan Pahlawan Seribu Serpong.
Kepala Pengawasan dan Pengendalian Operasi Dishubkominfo Kota Tangsel, Taufik Wahidin mengatakan dalam rangka mensosialisasikan Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 3 Tahun 2012, Dishubkominfo sejak Sabtu (17/3) lalu sudah melakukan langkah awal sosialisasi dengan memasang enam spanduk di pintu keluar tol yang ada di Tangsel.
“Kami telah memasang di lima titik pintu keluar tol diantaranya, di Alam Sutera, Kebun Nanas, Rawa Buntu, Ciater, Puspitek, dan satu di depan Teras Kota. Spanduk bertulisan jam operasional truk dilarang melintas terkecuali pukul 05.00-22.00 wib,” ungkap Taufik saat ditemui di lokasi pemasangan spanduk di Rawa Buntu.
Pemasangan spanduk merupakan langkah awal yang dilakukan Dishubkominfo. Pihaknya juga membagikan selembaran atau Ripret kepada para supir truk. “Rencananya kami juga membagikan selebaran larangan jam operasional truk di depan teras kota,” katanya.
Spanduk sosialisasi tidak hanya dipasang di pintu keluar tol, namun juga akan dipasang di setiap Jembatan Penyembarang Orang (JPO).
Sementara Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Tangsel menilai Perwturan Walikota (Perwal) nomor 3 tahun 2012 tentang pengaturan jam operasional kendaraan angkutan berat menyulitkan pengusaha truk.
Dalam Perwal tersebut, kendaraan angkutan barang yang dilarang melintas di Jalan Raya Serpong yakni dengan muatan di atas delapan ton, daya angkut 5500 dan lebar 2100 milimeter. Sedangkan, truk yang diperbolehkan melintas yakni Truk Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Gas (BBG) dan sembako, termasuk truk milik pabrik yang berada di kawasan Serpong.
Ketua Organda Kota Tangsel Yusro Siregar mengatakan kebijakan tersebut hanya menyulitkan pengusaha truk. Sebelumnya, DKI Jakarta pun mengeluarkan kebijakan yang sama. “Kalau tidak boleh melintas, truk mau lewat mana lagi,” ungkapnya.
Meskipun Pemkot Tangsel melakukan sosialisasi selama sebulan namun hal tersebut tidak menjanjikan keefektifannya. “Sosialisasi selam sebulan cukup. Namun sosialisasi yang paling efektif yaitu dengan memberikan brosur ke setiap sopir truk,” katanya.
Sejumlah pengusaha, kata Yusro, mengeluhkan dikeluarkannya kebijakan tersebut. Truk angkutan berat didominasi truk dengan tujuan Jawa-Sumatera. Yusro memastikan Perwal tersebut menghambat pengiriman barang terutama di sektor industri di sejumah daerah. “80 persen truk yang melintas di jalan raya Serpong tujuan Jawa Sumatera,” ungkapnya. (irm/bnn/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.