Cisadane Tercemar Limbah B3

TANGERANG,SN Berbahaya! Kini, pencemaran di Sungai Cidasane yang merupakan sungai kebanggaan warga Tangerang kian kronis. Sungai yang mengalir dari hulu gunung Salak, Kabupaten Bogor melewati Kota Tangsel, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang itu sudah tercemar limbah rumah tangga dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
Tingginya tingkat pencemaran sungai tersebut terungkap dalam dialog PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) Kabupaten Tangerang dengan LSM Pelangi di Aula PDAM TKR di Jalan Ki Samaun, Kota Tangerang, Selasa (20/3).
“Membicarakan Sungai Cisadane memang tidak sederhana. Karena tingkat pencemarannya sudah kronis, sebab telah mengandung sampah domestik dan limbah B3,” ungkap Ida Farida, Dirtek PDAM TKR dalam dialog bertajuk Program Cisadane Lestari.
Sebetulnya gerakan membuang sampah pada tempatnya sudah mulai dibudayakan, salah satunya menerapkan 3R yakni reuse, reduce, dan recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama, ataupun fungsi lain.
Reduce, berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang,Red) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.
Namun demikian, implementasinya di masyarakat masih jauh dari harapan. Tidak heran, jika di Sungai Cisadane masih ada yang membuang air besar, sampai limbah B3 yang berbahaya. “ Sejatinya, PDAM sangat bergantung pada sungai ini, sehingga tentu saja kami memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga kelestariannya,” jelas Ida.
Untuk itu pihak PDAM TKR sangat menyambut baik jika ada pihak yang memiliki niatan untuk menjaga kelestarian Sungai Cisadane ini.
Ketua LSM Pelangi, Dedi Suprapto menerangkan, panjang sungai Cisadane dari hulu di Gunung Salak hingga hilirnya berakhir di Kabupaten Tangerang, panjangnya mencapai 136 kilometer.  Namun sungai Cisadane kini menyimpan berbagai macam problema lingkungan.
“Selain Sungai Cisadane dijadikan tempat tong sampah limbah domestik dan B3 dari pabrik-pabrik, juga kerusakan terjadi di hampir sepanjang bantaran sungai. Ada bantaran yang dijadikan tempat menanam sayuran, ada juga bangunan-bangunan air,” paparnya.
Dedi bersama timnya melakukan sweeping ke sungai Cisadane, khususnya dari Pintu Air X hingga ke kawasan Serpong Town Squre (Setos). “Sejauh 10 Km dari arah Pintu Air X sampai Setos itu, banyak sekali limbah domestik seperti yang membuang kotoran dan B3 seperti limbah bubur kertas, laundry, borak untuk pembuatan tahu, dan minyak,” ujarnya.
Dia mengatakan, sudah saatnya, masyarakat Tangerang Raya, termasuk masyarakat yang hidup di pinggiran sungai, dan para pemilik pabrik diberi edukasi tentang pentingnya Sungai Cisadane bagi kehidupan manusia, tanpa menghilangkan nilai-nilai ekonomi untuk mereka.(hendra/susilo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.