11 Mahasiswa Banten Terluka, Demo BBM di Gambir

JAKARTA, SN Bentrok antara mahasiswa yang berdemonstrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di sekitar Stasiun Kereta Api, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (27/3) sore dengan aparat kepolisian tak terelakkan. Bentrok terjadi sekitar pukul 17.30 WIB.
Bentrokan itu berujung dengan penangkapan sekitar 35 mahasiswa yang tergabung dalam Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami). Puluhan mahasiswa ini diamankan aparat saat bentrok dengan aparat.
Saat bentrok terjadi, untuk memukul mundur mahasiswa yang melempari petugas dengan batu, polisi terpaksa melontarkan gas air mata. Tak hanya itu, water cannon pun berkali-kali disemprotkan ke arah demonstran yang menolak kebijakan SBY-Boediono yang akan menaikkan harga BBM.
Aparat kepolisian juga mengejar beberapa mahasiswa yang diduga provokator. Terlihat ada mahasiswa yang dikejar bahkan dipukuli aparat saat tertangkap. Tidak hanya mahasiswa, wartawan yang tengah melakukan tugas jurnalistik juga jadi sasaran amarah aparat kepolisian.
Berdasarkan sumber JPNN,  seorang kameramen dari salah satu stasiun televisi swasta nasional, sempat menjadi korban pemukulan. “Katanya gara-gara mengambil gambar saat (oknum) polisi memukuli mahasiswa,” ujar sumber JPNN. “P2 card (seperti memory card) camera juga diambil,” sambung dia.
Sedikitnya 30 mahasiswa terluka dalam bentrokan itu, 11 diantaranya adalah mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi di Banten, yakni Denny Firdawan Wahyudi (19) Universitas Pamulang, Dicky (17) Pd Cabe 4 Tangerang, Ira (20) Universitas Pamulang, Hamzah (22) Universitas Tirtayasa Banten, Fikri (22) mahasiswa Universitas Pamulang, Aris Dwi Susanto (22) Universitas Pamulang, Ajo (21) UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Sami (22) Universitas Pamulang, Ali Sugai (26) Universitas Pamulang, Syaiful (19) UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, dan Ade (20) Universitas Pamulang. Mereka dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan, massa yang bentrok dengan polisi di Gambir, memang bersiap untuk melakukan tindakan anarkis. Hal itu disinyalir karena massa sudah menyiapkan batu dan bom molotov. Saat barang-barang tersebut diamankan, massa malah memprovokasi. “Mereka memang berniat mau rusuh, bukan untuk demonstrasi,” kata Kombes Pol Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (27/3). “Saat diperiksa kita juga mendapatkan batu dan bom molotov yang disimpan dalam massa,” sambungnya.
Menurutnya, saat hendak sweeping, demonstran malah memprovokasi dengan menyerang mobil Xenia milik warga yang sedang melintas. Polisi pun langsung menertibkan massa. “Mereka malah merusak mobil Xenia milik warga bernama Agus Saleh. Barang-barang di Xenia itu juga hilang, seperti kamera digital, pakaian, buku tabungan, dan charger,” pungkasnya.
Rikwanto mengatakan, ada 32 orang yang diamankan dalam aksi tersebut. Dari 32 orang tersebut, 3 nya ialah warga sipil, sisanya adalah mahasiswa. “Kita amankan 32 orang asalnya ada yang dari Bogor, Jakarta, Tangerang, Kendari, Kuningan, Bekasi dan lain-lain. Statusnya masih kita periksa, kita gali dulu perannya,” tutup Rikwanto.
Sementara itu, Indonesia Police Watch (IPW) mengecam tindakan represif aparat kepolisian dalam mengendalikan aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Polisi dinilai sudah bertindak tidak profesional karena cenderung memprovokasi mahasiswa.
“IPW mengecam keras aksi represif Polri dalam mengendalikan aksi demo mahasiswa di Gambir, Jakarta Pusat, Selasa sore ini. Berkaitan dengan itu IPW sudah menyampaikan protes kepada Kapolri dan meminta Kapolda Metro Jaya (Irjen Pol Untung S Rajab) segera dievaluasi,” kata Ketua Presidium IPW Neta Saputra Pane, Selasa (27/3).
Ia mengatakan, dalam mengatasi aksi demo, aparat di lapangan tidak dilengkapi water canon  yang memadai. Akibatnya, kata dia, aparat lebih mengedepankan gas air mata berapi dan peluru karet. “Akibatnya mahasiswa menjadi terprovokasi untuk melempari polisi dengan batu,” ungkap Neta.

Bandara Soetta Kondusif
Jumlah petugas keamanan dari unsur TNI/Polri, yang menjaga Bandara Soekarno – Hatta, tidak sebanyak yang dikatakan pihak manajemen PT Angkasa Pura (AP) II, yang sebelumnya dicanangkan mencapai ribuan orang. Petugas keamanan hanya menjaga di sejumlah titik dengan jumlah sedikit, Selasa (27/3).
Demikian pantauan wartawan di Bandara Soekarno-Hatta (BSH), saat berlangsungnya aksi demo besar-besaran di Jakarta, yang dilaksanakan serempak kemarin. Padahal, sehari sebelumnya, pihak AP II memang sempat melakukan show of force (unjuk kekuatan), dengan menghadirkan ribuan TNI/Polri, sebagai upaya pengamanan BSH. Tapi pada realitanya, hanya ada puluhan aparat polisi yang dikerahkan untuk menjaga di sejumlah titik.
Kasubag Humas Polres BSH  Iptu Agustri mengatakan, sebenarnya BSH masih diamankan oleh sekitar 1.100 orang personil TNI/Polri yang berjaga. Hanya saja, keberadaan mereka sengaja tidak ditonjolkan dan mencolok. “Mereka tidak secara mencolok menjaga, mereka dalam posisi siap siaga jika dibutuhkan,” jelasnya.
Menurutnya, sepanjang situasi dianggap aman, maka tidak ada pengerahan petugas keamanan yang berlebihan. “Kami tak ingin menimbulkan ketakutan kepada masyarakat. Tapi kami selalu siaga jika ada aksi demo,” ucapnya. (pane/boy/kcm/dtc/deddy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.