Otak Bom Bima Lolos dari Pidana Seumur Hidup

TANGERANG,SN Otak pelaku teroris bom Bima Abrori bin Al Ayubi lolos dari hukuman seumur hidup. Pimpinan Pondok Pesantren Umar bin Khotob (UBK) tersebut hanya diganjar 17 tahun penjara atas tindak terorisme yang dilakukannya, dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Jl. TMP Taruna, Rabu (28/3), kemarin.
Putusan yang jauh lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu dibacakan langsung ketua majelis hakim sidang Iman Gultom.
Dia menyatakan, apa yang dilakukan Abrori melalui ajaran yang disampaikan kepada ratusan santri di pondok pesantren UBK, sangat berbahaya. “Ajaran jihad yang disampaikan sangat keras, dan tidak sesuai dengan hati nurani,” ucapnya.
Sedangkan dalam pemeriksaan di persidangan, apa yang dilakukan Abrori melalui ajaran jihadnya, telah mengakibatkan santrinya bernama Sya’ban membunuh seorang polisi, karena dianggap kelompok toghud (berlainan keyakinan, Red). Selain itu, Abrori juga terbukti merakit beberapa bom. Dia juga memerintahkan santrinya membentengi diri dengan senjata tajam saat akan dilakukan penggerebekan oleh polisi.
“Perbuatan terdakwa mengakibatkan banyak orang terluka. Selain itu perbuatan terdakwa juga mencoreng nama baik Indonesia di luar negeri, dan tidak sejalan dengan program pemerintah dalam memberantas terorisme,” ucap Iman yang kemudian membacakan vonis 17 tahun penjara bagi terdakwa.
Abrori bin Al Ayubi yang mendengarkan keputusan itu langsung berkonsultasi dengan kuasa hukumnya Asruddin. Dan atas putusan tersebut, terdakwa memilih sikap untuk berpikir terlebih dahulu. “Saya pikir-pikir dulu atas vonis ini,” ujar Abrori atas putusan majelis hakim.
Atas putusan itu juga, Abrori bersama kuasa hukumnya, Asruddin, akan memanfaatkan waktu sepekan kedepan untuk mempelajari vonis tersebut. “Kami belum tahu, apakah akan menerima atau tidak putusan ini,” ujar Asruddin seusai sidang.
Menurut Asruddin, vonis majelis hakim memang lebih rendah daripada tuntutan JPU. Akan tetapi vonis 17 tahun dianggap tetap memberatkan kliennya. “Bagaimanapun putusan ini masih memberatkan terdakwa. Sebab, hakim hanya menilai bahwa ajaran terdakwa sesat namun tidak melihat perbuatan yang telah dilakukan terdakwa yang jauh dari tindak terorisme,” elaknya.
Asruddin membela lebih lanjutan, jika majelis hakim yakin bahwa Abrori adalah teroris yang sangat berbahaya, maka harus ada perbuatan konkret yang telah dilakukannya. “Tidak ada tindakan teror yang dilakukan Abrori. Hal ini yang nanti akan kami pikirkan,,” tandasnya
Anggota JPU Rahmad Isnaini menyatakan, pihaknya juga pikir-pikir atas vonis hakim. “Memang lebih rendah dari tuntutan semula. Tapi saya akan koordinasikan dahulu dengan pimpinan atas vonis ini, apakah terima atau tidak,” jelasnya.
Dalam sidang tersebut, sejumlah terdakwa aksi terorisme Bima lainnya, antara lain Rahmat Ibnu Umar, Asraf, Rahmat Hidayat, dan Furqon juga telah mendapatkan vonisnya. Keempatnya, divonis majelis hakim dengan putusan tiga tahun enam bulan penjara. Vonis ini dijatuhkan lantaran majelis hakim menilai, para santri Pondok Pesantren UBK ini tidak melaporkan kepada polisi atas tindak tanduk Abrori, selaku pimpinan pondok pesantren UBK, yang diindikasi sebagai teroris.
Sedangkan Sya’ban terdakwa lainnya yang sebelumnya dituntut 17 tahun penjara oleh JPU, dijatuhkan hukuman selama 15 tahun penjara. Sya’ban terbukti melakukan pembunuhan anggota polisi dan terbukti memiliki sejumlah rakitan bom yang disimpan di dalam pesantren. (pane/susilo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.