Terapkan Demokrasi pada Keluarga

Menerapkan rasa tanggung jawab dan menyelesaikan masalah keluarga dengan berdialog, menjadi ciri khas keluarga Nurul Yaqien. Bos dari agent properti Ben Hook dan juga Ketua DPD Banten AREBI ini memberikan kebebasan kepada istri dan kedua anaknya dalam menentukan pilihan dan memutuskan pilihannya itu.
“Contoh masalah terbaru terbaru, seperti keputusan Khalid, anak saya yang pertama. Disaat saya punya keinginan menyekolahkannya ke Australia atau Malaysia, dia bersikukuh memilih kuliah di Jerman,” cerita Nurul, saat ditemui Satelit News di kantornya, kemarin.
Untuk meyakinkannya mengenai kenginginan sang anak kuliah di Jerman, Khalid sampai mengajaknya berdiskusi menjelaskan kenapa memilih Jerman sebagai negara tujuan lanjutan pendidikan sarjana Bisnisnya. “Untuk meyakinkan saya, anak saya sampai mengajak saya mengikuti seminar tentang pendidikan di Jerman,” tukasnya.
“Dari sana dia bisa meyakinkan saya, makanya saya langsung menandatangani persetujuan Khalid kuliah disana (Jerman, Red),” ujarnya.
Menurutnya, menyelesaikan masalah pilihan kuliah di Jerman bukanlah yang pertama. Dia sudah seringkali mempercayakan keputusan besar sepenuhnya pada anak. Dengan sistem keluarga demokratis seperti yang diterapkannya, Nurul merasa keluarganya memiliki pandangan hidup dan pemikiran lebih maju dan selalu bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya. Begitu juga ketika dia diprotes keluarga tentang jam kerjanya, sebagai seorang pemilik agent broker terbesar di Serpong, Nurul tidak segan membahasnya secara terbuka dihadapan anak dan istrinya.
“Istri saya sudah paham betul, kalau kedua jagoan saya mesti diberikan pemahaman dan wawasan. Bahkan ketika mereka kecil dulu, mereka saya ajak bekerja,” kenang Nurul.
Waktu berdialog panjang dengan anggota keluarga bukanlah waktu libur saja. Nurul menganggap pembagian waktu yang berkualitas untuk keluarga dan pekerjaannya cukup sederhana. Disaat matahari terbit dia gunakan untuk bekerja. Sedangkan saat matahari terbenam, Nurul gunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Disaat-saat itulah, obrolan ringan mengenai keinginan anak dan istri saling dibicarakan.
“Saya sangat bersyukur punya istri yang memiliki jiwa pendidik. Jadi saya serahkan pengawasan pendidikan agama maupun formal anak kepadanya,” ujar suami dari Neneng Susilawati itu.
Sedangkan sebagai ayah, dirinya bertanggug jawab penuh terhadap pengawasan disiplin kedua jagoannya itu. Setelah kepergian anaknya untuk melanjutkan pendidikan di Jerman, kini ayah dari dua orang anak itu tengah mempersiapkan si bungsu yang akan naik ke kelas satu SMA.
“Bagaimanapun juga memberikan pendidikan terbaik adalah kewajiban utama orangtua,” tuturnya.(mitah/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.