Kompol Wahyu Dicopot, Halangi Tugas Jurnalistik saat Evakuasi Imigran

SERANG, SNOL Sikap arogan Kompol Wahyu, Kasibdit I Direktorat Kriminal Umum Polda Banten terhadap wartawan yang melakukan kerja jurnalistik saat evakuasi imigran gelap di Pelabuhan Peti Kemas Indah Kiat, Merak, Selasa lalu mendapatkan balasan setimpal. Wahyu dicopot dari jabatannya sebagai Kasibdit I Direktorat Kriminal Umum Polda Banten. “Oknum tersebut dicopot dari jabatannya. Saat ini yang bersangkutan bertugas di Kasibdit I Direktorat Kriminal Umum Polda Banten,” terang Kabid Humas Polda Banten, AKBP Gunawan Setiadi, Rabu (11/4).
Menurut Gunawan, insiden antara oknum polisi dengan para jurnalis seharusnya tidak perlu terjadi. Yang bersangkutan akan dikenakan sanksi disiplin. Penyidik Propam akan memanggil korban dan rekan media lainnya untuk dimintai keterangan sebagai saksi. “Dalam proses pembuktian membutuhkan segitiga perkara, yaitu ada saksi, bukti dan terlapor,” imbuhnya.
Masih kata Gunawan, Kapolda sangat menyayangkan terjadinya insiden di Pelabuan Indah Kiat tersebut. “Ya Kapolda sudah memerintahkan secara langsung kepada Kabid Propam untuk melakukan pemeriksaan kepada oknum polisi berinisial Kompol WI,” itu ujarnya. “Kapolda memegang teguh komitmennya, untuk menindak tegas oknum petugas yang melakukan tindakan kekerasan baik kepada media ataupun kepada masyarakat,” tandasnya.
Di hari yang sama, sebelumnya puluhan wartawan harian cetak dan elektronik di Provinsi Banten melakukan aksi unjukrasa di depan Mapolda Banten Jl Syekh Nawawi Kota Serang. Mereka mendesak Kapolda Banten Brigjen Pol Eko Hadi Sutedjo memberikan sanksi tegas terhadap oknum anggota kepolisian berisial W yang sudah melakukan tindakan pengusiran dan kekerasan terhadap sejumlah wartawan saat peliputan evakuasi 120 imigran Afganistan di Pelabuhan Indah Kiat Merak Kota Cilegon, Selasa (10/4).
“Wartawan ini bekerja dilindungi undang-undang pers, apa dasarnya oknum anggota Polda Banten melarang pengambilan gambar saat evakuasi imigran gelap itu,” kata koordinator pengunjuk rasa Krisna Widi Aria, kemarin.
Widi mengungkapkan, oknum anggota polisi itu sempat memukul kamera salah seorang wartawan TV lokal bernama Tomi yang akan mengambil gambar saat evakuasi imigran. Merasa pukulannya tidak kena, kemudian oknum polisi mendorong hingga menyebabkan beberapa wartawan lain nyaris jatuh.
“Kami menagih komitmen Kapolda Banten untuk melindungi wartawan saat menjalankan tugas jurnalistiknya,” kata Teguh Mahardika, wartawan Seputar Indonesia.  “Oknum polisi itu tidak paham dengan Undang Undang Pers, sehingga perlu dididik kembali,” tambah Amrin Nur, wartawan lainnya.
Niatan wartawan untuk bertemu dengan Kapolda Banten tidak kesampaian. Karenanya, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Pemprov Banten, Adam Adhary Abimanyu meminta agar wartawan di Banten mengembalikan kartu Pokja Polda Banten sebagai bentuk protes karena Kapolda enggan menemui para demontrans. “Secara resmi Id Pers Pokja Polda Banten saya kembalikan kepada Bapak,” kata Adam kepada Kabid Humas.
Dalam sksi yang berjalan sekitar satu jam ini sempat terjadi ketegangan. Pasalnya, anggota Dalmas dari Polda Banten melakukan pengamanan di belakang pagar utama Mapolda Banten. Beruntung hal tersebut tidak berlangsung lama, karena sejumlah perwira datang ke lokasi aksi meminta Dalmas untuk pergi dan tidak melakukan penjagaan.
Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Kombes Pol Nasri meminta kepada wartawan untuk melakukan audensi di ruangannya. Namun hal itu ditolak karena tidak semua waratwan diperbolehkan masuk untuk mengikuti audensi. “Ruangan saya terbatas, jadi yang bisa masuk ya secukupnya,” kilahnya.
Lantaran tidak menemukan titik temu, akhirnya proses audensi tidak bisa dilakukan. Setelahnya, sejumlah demontran melakukan orasi, akhirnya demontran membubarkan diri.(eman/zal/tbe/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.