Jayanto Rancang Robot Evakuasi Korban Gempa Bumi Pakai Bahan Bekas

Karya inovatif Jayanto patut diacungi jempol. Remaja 15 tahun siswa kelas satu SMA Harapan Bangsa, Kota Tangerang ini adalah pembuat robot evakuasi korban gempa. Robot buatannya pun pernah memenangkan Olimpiade Robotic Internasional.
Sekilas, Jayanto seperti kebanyakan siswa SMA pada umumnya. Remaja berkacamata ini sangat ramah saat ditemui Satelit News kemarin. “Saya perkenalkan Quick Equator,” kata Jayanto. Quick Equator adalah robot pendeteksi korban gempa.
Remaja yang dijuluki Robotis, atau seseorang yang berkecimpung di dunia robot dan turut memajukan robotika di Indonesia itu, bersama dua rekannya, berhasil menciptakan robot beroda pencari korban bencana gempa dan mengevakuasinya. Sepertinya, gempa berkekuatan 8,5 SR mengguncang Aceh kemarin membutuhkan robot buatan Jaya.
Robot beroda empat yang berukuran tidak lebih dari dua meter itu diciptakan Jaya dengan kamera termal atau pendeteksi suhu dan pergerakan tubuh. “Tidak seperti kamera biasa, kamera termal melihat dengan sensor dan menembus bawah tanah atau reruntuhan akibat gempa bumi,” jelasnya.
Menurut Jaya, robot ciptaannya itu terinspirasi dari berita-berita tim SAR yang kesulitan ketika mengevakuasi korban di bencana gempa. “Seperti kekurangannya alat evakuasi, kalaupun ada alat berat untuk mengevakuasi, justru malah mempersempit lahan atau jalur evakuasi korban,” kata Jaya.
Dari sanalah, Jaya bersama dua temannya mulai mensketsa hingga proses produksi selama enam bulan. “Kebetulan paman saya punya bengkel las, teman punya spare part mobil, dan teman yang satu lagi punyai toko bangunan, jadi kita saling memanfaatkan,” kata Jaya.
Bukan barang bagus atau masih baru yang menjadi bahan dasar dibuatnya Quick Equator atau biasa disebut Equator-2G itu, melainkan kumpulan barang bekas atau tidak terpakai lagi yang dirangkai menjadi satu unit robot beroda.
“Kita sekalian memanfaatkan barang bekas. Sayang kan, daripada dibuang jadi sampah,” ujar Jaya. Alhasil, robot yang ditaksir mencapai Rp 10 juta, Jaya dan timnya hanya membuat robot tersebut dengan nilai 7,2 juta rupiah saja.
Tidak hanya hemat, hasil kerja keras Jaya pun dibayar dengan disandangnya juara Technical Award pada ajang Olympiade Robotic International ke 12, pada robot buatan timnya.
Selain itu, robot yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia tersebut menjadi 10 robot terbaik dan berada pada peringkat ketiga pada vooting award. “Robot ini mengalahkan negara maju lain, seperti Korea Selatan, China, Australia, dan 13 negara lainnya,” kata Jaya.
Prestasi robotis muda itu tidak hanya sampai situ. Pada 2010, Jaya pernah menyabet gelar yang sama pada robot amphibinya. Robot yang memenangkan Technical Award di Australia itu difungsikan untuk eksplorasi dan patroli wilayah di dalam laut.
Dari seabrek prestasi di dunia robotika, remaja yang juga menyabet peringkat kedua dalam pemilihan siswa teladan se-Kota Tangerang itu, mempunyai harapan Indonesia mampu berdiri sendiri menunjukan kemampuannya di dunia robotik.“Saya percaya bangsa ini hebat dan cerdas pada pembuatan robot modifikasi, kita bisa disejajarkan dengan negara maju lainnya,” katanya bersemangat.(mita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.