Gempa Banten Berpotensi Terulang

TANGERANG, SNOL Gempa bumi berkekuatan 6.0 SR yang terjadi Minggu (15/04) pukul 02.26.39 WIB di 95 km barat daya Kabupaten Pandeglang, Banten atau selatan Ujung Kulon, dengan kedalaman 10 Km, terjadi di ujung utara dari bidang kontak dari lempeng Indo-Australia dengan Pulau Jawa dan merupakan gempa subduksi.
“Cirinya terlihat dari arah jurusan gempa yang di atas 300 derajat kedalaman lebih dari 40 km dan mekanismenya sesar naik (thrust),” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Bidang data dan Informasi BPNB, Minggu (15/4).
Dia menjelaskan, berdasarkan analisis para pakar gempabumi ITB, dalam tahun 2011 telah beberapa kali terjadi gempa yang mirip yaitu pada 12 Januari 2011 dan 30 Desember 2011. Gempa-gempa ini membuktikan bahwa subduksi di Selat Sunda secara tektonik aktif.
Kemudian adanya daerah kekosongan kegempaan (seismic gap) di bagian barat dayanya (Selat Sunda) yang berpotensi menghasilkan bencana kembali di masa depan. Maka masyarakat diwajibkan untuk terus waspada. “Hingga pukul 08.15 wib, belum ada laporan kerusakan akibat gempa ini,” kata Sutopo.
Meski tidak berpotensi menimbulkan bencana tsunami, besarnya gempa membuat warga di wilayah selatan Banten panik. Bahkan gempa juga dirasakan hingga Jakarta, Sukabumi sampai Madura.
Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Serang, Eko Widyantoro mengatakan, titik gempa berada di 7.17 Lingkar Selatan (SL) – 105.13 Bujur Timur (BT), 95 kilometer Baratdaya Kabupaten Pandeglang, tepatnya di selatan Kecamatan Ujung Kulon. “Itu tidak berpotensi tsunami, tapi kami belum bisa memprediksikan apakah akan terjadi gempa susulan atau tidak, kerena tugas kami hanya melakukan pengamatan saja,” kata Eko, kemarin.
Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Suyadi Wiraatmadja mengatakan, gempa yang terjadi di 95 Km berat daya Pangelang selatan itu tidak menimbulkan kerusakan terhadap fasilitas perkantoran, infrastuktur maupun rumah penduduk yang berada di sekitar pantai di Pandeglang.
“Kami sudah melakukan pengecekan langsung ke lokasi, hasilnya tidak ada fasilitas yang rusak akibat gempa tadi malam (kemarin,red). Masyarakat hanya merasakan kepanikan saja saat gempa berlangsung,” kata Suyadi.
Meski demikian, Suyadi mengaku siap membantu perbaikan, jika ada masyarakat yang melaporkan kerusakan rumah akibat gempa. “Kalau ada laporannya, tentu kami akan menindaklanjutinya. Tapi, hingga sore ini (kemarin), kami tidak menerima laporan adanya rumah warga rusak,” ujarnya.
Rere Kurnia, warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, yang saat terjadi gempa sedang berada di kawasan wisata Binuanguen, tepatnya di Kampung Jati, Desa Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak mengatakan, gempa yang dirasakannya sangat kuat. Sehingga membuat panik warga yang tinggal di sekitar pesisir Pantai Binuangeun. “Gempa terjadi 3 kali, yang pertama goncangannya kecil dan yang kedua besar dan ketiga kecil lagi, Warga saat gempa terjadi sangat panik dan keluar rumah,” kata Rere.
Warga panik karena khawatir akan menimbulkan tsunami, sehingga warga banyak yang bertahan diluar rumah. Namun, setelah warga mendengar informasi dari BMKG yang menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami akhirnya warga kembali masuk ke rumah. “Saat ini aktvitas warga sudah kmbali normal, tapi warga tetap khawatir akan terjadi gempa susulan yang lebih besar bahkan terjadi tsunami,” ujarnya.
Menurut Rere, di Binuangeun terdapat jalur evakuasi jika terjadi gempa bumi yang berpotensi tsunami. Namun, untuk di Kampung Jati, Desa Muara Binuangeun, menuju ketempat evakuasi sangat jauh. “Kata warga di Binuangeun tempat evakuasi ada, cuma jauh. Jadi kalau terjadi tsunami sudah dipastikan tidak akan sempat untuk evakuasi diri,” katanya. (eman/fat/deddy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.