Diinfus, Siswi Al Azhar Ikuti UN di Rumah Sakit

SERPONG,SNOL Melani Kurniati (17), siswa SMA Al Azhar BSD, Tangsel ini menjalani UN di RS Medika BSD. Siswa tersebut harus menjalani opname karena terserang DBD sejak hari kedua UN.
Walau demikian, dua pengawas independen dan guru tetap mengharuskan Melani mengenakan seragam dan diawasi saat mengerjakan soal ujian. “Tetap berjalan seperti biasa, pengawasan pun tidak ada yang dispesialkan, tetap pakai sistem silang,” jelas Cucu Rostika, guru yang bertindak sebagai pengawas Melani dari SMAN 2 Tangsel, Rabu (18/4).
Cucu bersama seorang pengawas independen, mengawasi Melani tanpa ada tekanan, sedikit berbeda dengan mengawasi siswa sehat di dalam kelas. Melani juga diwajibkan mengenakan seragam putih abu-abu saat mengerjakan soal UN.
Bedanya Melani tidak ditekan harus menyelesaikan semua soal dalam waktu singkat. “Terlebih hari kedua dan ketiga ini Matematika dan Ekonomi, hitungan semua, jadi tidak begitu memaksakan siswa ini terlalu berfikir keras dalam mengerjakannya,” ujar Cucu.
Saat Melani mengerjakan soal UN, pihak keluarga yang menunggui diwajibkan keluar. Jadi hanya ada pengawas dan Melani saja dalam ruang perawatan 329 itu.
Sementara itu, Melani yang bersikukuh ingin mengikuti UN di saat dia tengah menjalani opname, mengatakan, kalau dia sudah mendapat izin dari sekolah dan dokter yang mengawasi perawatannya. Melani yang masuk rumah sakit pada Senin malam atau setelah UN hari pertama, langsung mendapat kunjungan dari kepala sekolahnya.
“Saya langsung bilang ke Pak Lukman, kepsek saya, agar diizinkan mengikuti Ujian Nasional seperti teman-teman lain di sekolah,” ujar Melani, siswa Al Azhar dalam kondisi tangan masih diinfus cairan berwarna kuning.
Kepala sekolah Melani langsung meminta persetujuan dokter RS Medika BSD, agar dia diperbolehkan mengikuti UN di rumah sakit. Setelah mendapat persetujuan semua pihak, akhirnya pada pelaksanaan UN hari kedua hingga hari terakhir (19/4), Melani bisa mengerjakan soal ujian di rumah sakit.
Gadis berumur 17 tahun ini mengaku tidak memaksakan diri untuk belajar terlalu keras, mengingat kondisinya yang masih lemah. “Malamnya aku cuma beristirahat untuk mempersiapkan fisik untuk keesokan harinya,” katanya.
Melani merasa terbantu dengan diselenggarakannya try out UN yang diselenggarakan sekolah, selama satu semester sebelum pelaksaan ujian akhir negara itu berlangsung. Bermodal pelatihan mengerjakan prediksi soal-soal UN itulah, Melani percaya diri mengerjakan setiap soal UN. “Aku enggak mau ikut susulan, katanya kalau soal susulan itu lebih sulit dibanding soal UN aslinya,” ujar Melani.
Selain itu, diapun merasakan tidak enak, kalau teman-teman yang lain sudah lega menempuh UN, hanya dia sendiri yang belum. (pramita/susilo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.