Dindik Sebut Tanah SD yang Disegel Itu Sudah Dibayar Lunas

TIGARAKSA,SNOL Sengketa lahan Sekolah Dasar (SD) Negeri Wanakerta 3 terus bergulir. Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang mengklaim lahan seluas sekitar 1200 meter di Kampung Sumur Desa Wanakerta Kecamatan Sindangjaya, sudah menjadi milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang. Penegasan itu disampaikan setelah adanya pengakuan dari pihak ahli waris yang mengaku pemilik tanah tersebut.
Kepala Bidang Kurikulum TK/SD, Endang Waryo mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, lahan SDN Wanakerta 3 sudah dibeli oleh pemerintah daerah melalui kepala sekolah (Kepsek) setempat. “Lahan itu informasinya sudah dilunasi oleh Kepsek yang lama. Saat ini dia bertugas di Pasar Kemis,” tegasnya kepada Satelit News, Rabu (18/4).
Endang mengaku, persoalan lahan SDN Wanakerta 3 kembali di klaim ahli waris setelah adanya pergantian Kepsek. Sayangnya bukti pelunasan itu belum diketahui keberadaannya.
“Bukti fisiknya memang tidak ada karena saat itu kalau yang saya dengar, pembayaran dilakukan dengan menyicil. Padahal, kemarin-kemarin masalahnya sudah selesai, kok tiba-tiba ada plang dan rame lagi,” tuturnya. Guna memastikan lahan itu sudah dibeli, Dindik akan melakukan klarifikasi bukti kepemilikan lahan.
Terkait kerusakan sejumlah ruang kelas, Kepala Dindik Kabupaten Tangerang, Arsyad Husein mengatakan, sejumlah lokal kelas yang bocor dan plafonnya bolong di SDN Wanakerta 3 bisa diperbaiki. “Rencananya ada tiga sekolah yang akan diperbaiki tahun ini. Kalau memang membutuhkan perbaikan, bisa nanti disampaikan ke Dindik,” imbuh Arsyad.
Seperti diberitakan koran ini, pengembangan SD Negeri Wanakerta 3 di Kampung Sumur, Desa Wanakerta terganjal masalah lahan. Pihak ahli waris yang mengaku pemilik tanah tersebut menyegel bangunan sekolah.
Akibatnya, sekolah yang memiliki murid sekitar 346 orang tersebut hanya mengandalkan empat kelas untuk belajar. Sebelumnya masalah lahan juga menghambat pengembangan SMA Negeri 23 Kabupaten Tangerang.
Guru kelas 4A SDN Wanakerta 3, Aminah mengatakan, persoalan sengketa sudah lama terjadi. Namun, pihaknya tidak mengetahui persis persoalan lahan sekolah yang diklaim oleh ahli waris sejak tiga tahun lalu. “Persoalan ini masih mengambang hingga saat ini dan belum ada penyelesaian. Kondisi ini membuat pengembangan sekolah menjadi terkendala,”ujarnya kepada Satelit News, Selasa (17/4).
Pantauan wartawan, sebagian kondisi bangunan perlu perbaikan karena rusak, seperti plafon yang bolong dan atap yang bocor. Serta bangunan kantor guru yang sudah tinggal rangka bangunan. Pihak sekolah tidak bisa membangun karena ada klaim dari ahli waris. Terlihat plang dengan tulisan tanah milik ahli waris H. Sinta. Bahkan sekitar tiga tahun lalu sekolah tersebut pernah disegel ahli waris. Hingga muncul isu penggusuran sekolah. (fajar aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.