Warga Benda Geruduk Polres

TANGERANG, SNOL Puluhan ahli waris tanah garapan di Rawa Ki Mamud, Kampung Beting, Kelurahan Benda, Kecamatan Benda, Kota Tangerang menggeruduk Markas Polres Metro Tangerang, Kamis (19/4).Mereka menuntut Polres segera menyelesaikan sengketa lahan garapan seluas 48.020 meter persegi atas nama ahli waris keluarga Udin bin Tjemon, Asman bin Sailan, Aja bin Ijan yang diklaim milik keluarga Miharja.
Warga yang datang sejak pukul 09.30 WIB ini juga sempat membentangkan spanduk bertuliskan, “Polres Metro Harus Usut Tuntas Penyerobotan Lahan Kami” dan sempat menggelar aksi di depan pintu gerbang Markas Polres Metro Tangerang. Setelah 30 menit berorasi, akhirnya mereka ditemui langsung oleh Kapolres Kombespol Wahyu Widada di ruangannya.
Usai melakukan pertemuan, kuasa hukum ahli waris Haris Marbun menyatakan, pihaknya sengaja datang ke Polres untuk mendesak polisi mengusut tuntas kasus penyerobotan lahan yang sudah 1 tahun dilaporkannya. “Padahal, ahli waris mempercayakan kepada polisi bisa menuntaskan permasalahan hukum yang sedang mereka hadapi,” terang Marbun.
Sebelumnya, puluhan ahli waris juga sempat melakukan aksi kubur diri di lahan garapan yang masih berupa sawah. Tindakan tersebut mereka lakukan lantaran tak ingin sawahnya pindah tangan begitu saja kepada orang lain karena memang belum pernah dijual-belikan kepada pihak lain.
Agus Majar keluarga ahli waris Udin bin Tjemon mengatakan, begitu saja tiba-tiba sawahnya diklaim keluarga Yuliana Miharja. Sedangkan keluarga sendiri mengaku tidak pernah menjual-belikan. “Kami tidak pernah menjual belikan. Tapi, tahu-tahu sudah ada sertifikat atas nama Yuliana Miharja. Pokoknya sampai kapan pun saya akan perjuangkan tanah,” kata Agus Majar keluarga ahli waris Udin bin Tjemon, kemarin.
Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang AKBP Rahmat yang berhasil ditemui wartawan untuk menegaskan apa yang akan dilakukan polisi pasca penggerudukan warga, pihaknya memastikan bahwa proses hukum dan penyidikan yang dilakukan polisi masih berjalan. “Iya ini masih kita urus. Namun, kami juga tidak bisa sembarangan memproses tanpa alat bukti yang jelas,” ucapnya.
Menurut Rahmat, setelah kasus sengketa lahan itu dilaporkan ahli waris melalui kuasa hukumnya, sampai kini sejumlah bukti kuat soal surat-surat lahan, berupa keputusan lahan garapan, dan surat tanah asli atas nama keluarga Miharja tidak pernah diberikan aparat kepolisian.
“Kalau hanya kopian surat, itu tidak kuat. Kalau mau cepat tunjukkan kepada kami alat bukti yang sah berupa surat tanah asli dan surat putusan garapan asli. Karena kami tak mau menduga-duga dan tak mau berandai-andai dalam menyelesaikan satu kasus hukum,” tandasnya. (pane/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.