Curi Emas, 15 Anak Ditangkap

SERPONG, SNOL Ini patut menjadi perhatian buat orang tua. Di Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, 15 anak berusia sekolah dasar (SD) dan SMP ditangkap warga setempat. Gara-garanya, entah tergabung dalam komplotan penjahat cilik atau tidak, mereka tertangkap tangah mencuri.
Mereka diduga melakukan pencurian perhiasan dan barang berharga seperti laptop dan handphone. Dugaan itu semakin kuat ketika warga sekitar merasa sering kehilangan perhiasan dan barang berharga.
Jaro (ketua lingkungan) Lengkong Gudang Mardedi menerangkan, penangkapan 15 anak ini merupakan pengembangan dari tertangkap tangannya salah satu anak yang tengah mencuri handphone milik warga setempat. “Warga sudah lama memantau dan ingin tahu siapa sebenarnya yang suka mencuri,” jelasnya kepada Tangsel Pos (Satelit News Group), Minggu (22/4).
Dedi, sapaan akrab Mardedi, menjelaskan, sebelum tertangkap tangan, banyak pengaduan dari warga soal kehilangan barang berharga lainnya seperti, laptop dan emas. Lantaran tidak mengetahui siapa pelakunya, maka warga hanya menunggu saja.
Informasi yang dihimpun di lapangan, hasil pencurian berupa perhiasan dijual ke toko emas di Pasar Serpong. Sedangkan barang-barang elektronik seperti laptop atau handphone dijual secara ecer. Hasil pencurian itu lantas untuk membeli makanan atau jajanan lainnya dan dinikmati bersama-sama.
“Hasil curian digunakan untuk mentraktir anak-anak yang lain,” kata salah seorang anak yang disidang tersebut. “Saya tidak tahu menahu. Yang saya tahu nama saya dicatat setelah ditraktir,” ucap anak lainnya. Ke-15 anak-anak ini kerap bermain game online di warnet dan nongkrong di warung kelontong wilayah sekitar.
Hasil persidangan warga itu, antara orang tua pelaku, korban dan tokoh masyarakat bersepakat untuk tidak melanjutkan kasus pencurian ke ranah hukum (kepolisian) dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Ke 15 anak-anak itu akan dipantau perkembangannya dan dibina secara khusus oleh warga. Orang tua pelaku juga diminta membuat pernyataan untuk terlibat dan memantau perkembangan anak-anak mereka. “Dukungan moral dan pembinaan berkelanjutan diharapkan mampu mengubah sikap dan prilaku mereka,” harap Dedi.
Humas Bintara Pembina Desa (Babinsa) Tangerang Wahyu Adi W mengatakan, perbuatan anak-anak merupakan imbas dari minimnya pengawasan orang tua. “Ini bukan murni kesalahan anak-anak, tetapi juga karena minimnya pengawasan orang tua,” tuturnya.
Terkait kasus ini, psikolog Universitas Indonesia Indri Savitri menilai perbuatan melanggar hukum dan sosial yang dilakukan anak-anak merupakan salah satu ciri terjadinya penyimpangan prilaku. Hal ini harus menjadi perhatian serta pembinaan dan pengawasan masyarakat maupun orang tua.
Menurut Indri Savitri, hukuman tepat bagi penyimpangan prilaku yang berkepanjangan oleh seorang anak adalah memberikan hukuman sosial atau pengabdian sosial, seperti kerja sosial di kantor kelurahan maupun di Dinas Sosial.
“Jadwalkan setelah pulang sekolah mereka harus bekerja di kelurahan atau di Dinas Sosial seperti panti jompo, panti asuhan atau lainnya,” ujarnya kepada Tangsel Pos.
Selanjunya, kata Indri Savitri, tujuan hukuman tersebut merupakan metode untuk memberikan pembinaan mental secara langsung. “Hanya saja perlu pengawas atau mentor untuk melihat perkembangan mental anak-anak tersebut,” jelasnya. (cr13/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.