Pakar Bahasa: Email Ira Bermakna Fitnah

TANGERANG,SNOL Kasus pencemaran nama baik melalui email dengan terdakwa dr. Ira Simatupang  kian menarik diikuti. Seorang pakar bahasa menyebutkan isi email Ira Simatupang, memuat fakta penghinaan dan fitnah.
Pakar bahasa dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Sriyanto yang dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang lanjutan kasus itu di PN Tangerang, Senin (30/4) menyatakan hal itu.
“Dari 9 email yang saya pelajari dari BAP (Berita Acara Pidana), ada dua kategori yang tertuang dalam email-email terdakwa (Ira Simatupang, Red). Pertama, mengandung hujantan atau hinaan, kedua mengandung fitnah,” katanya sebelum persidangan.
Pihaknya tidak perlu membuktikan hingga ratusan email yang disebarkan Ira untuk membuktikan adanya dua unsur hinaan dan fitnah tersebut. “Memang saya mendengar bahwa ada ratusan email yang dikirimkan, tapi saya hanya mengecek 9 contohnya saja. Jadi, jangankan ratusan, satu saja ada kalimat hinaan dan fitnah itu sudah cukup,” tegasnya masih di luar persidangan.
Di dalam persidangan, Sriyanto menegaskan kembali di hadapan majelis hakim yang diketuai Ketua PN Tangerang Ridwan Ramli, jaksa penuntut umum (JPU) Riyadi, dan kuasa hukum terdakwa dari kantor hukum OC Kaligis.
“Fitnah itu adalah kabar yang tidak sesuai fakta yang disiarkan/disebarkan kepada orang banyak yang ditujukan kepada salah satu pihak. Dan isi email terdakwa mengandung kalimat fitnah itu. Selain itu, email itu juga mengandung kata hinaan,” kata Sriyanto.
Ketika ditanya hakim apa yang mendasari pernyataannya, Sriyanto menegaskan, hal itu bisa diketahui dari kaidah dasar bahasa dan makna tata bahasa. Dimana, hinaan adalah kata-kata yang bisa membuat orang malu atau merasa direndahkan. “Untuk hinaan ini tidak perlu pembuktian, karena dari isi kalimatnya jelas, seperti kata-kata pemakan kodok, dalam email terdakwa,” tegasnya.
Ketika ditanya JPU apakah kata fitnah itu bisa menjerat seseorang mana kala tidak terbukti, Sriyanto mengatakan, fitnah itu harus dibuktikan faktanya. Sedangkan jika tidak ada fakta, maka hal itu bisa dikatakan fitnah. “Kalau tidak ada buktinya, itu tidak benar. Dan itulah kategori fitnah,” jelas Sriyanto.
Dalam persidangan itu, tim kuasa hukum juga sempat menanyakan sejumlah makna kalimat yang dianggap meringankan terdakwa. Seperti kata-kata bahwa terdakwa terintimidasi, diputus kerjanya oleh pihak RSUD Kabupaten Tangerang, dan juga kalimat bahwa ada persekongkolan antara Bambang Gunawan, Sherley, dan Josep Talangi merupakan bentuk amarah.
“Apakah kalimat yang dimulai dengan kalimat tanya itu juga bisa dikatakan fitnah?, seperti kalimat “atau apakah karena dia memakai vagina yang sama? Apakah kalimat itu fitnah juga?,” tanya Ficki Faher, salah satu kuasa hukum terdakwa.
Sriyanto menyatakan hal itu bisa jadi fitnah yang perlu dibuktikan kebenarannya. Apalagi, bentuk kalimat tanya yang diungkapkan dalam email hanya kalimat tanya retorik, yang tidak perlu jawaban, dan hanya bentuk penegasan saja. “Hal itu sama saja fitnah, dan harus diungkapkan kebenarannya. Kalau tidak ada buktinya itu sama saja omongan bohong,” tegasnya.
Sementara Ira Simatupang yang diminta komentarnya atas pernyataan-pernyataan saksi ahli, menyangkal bahwa kalimat “atau apakah karena dia memakai vagina yang sama?” adalah kalimat tanya retorik. Menurutnya, itu bentuk keputusasaannya yang kebingungan harus mengungkapkan apa soal kasus yang membelitnya.
“Maaf yang mulia, saya tidak bermaksud begitu (memberikan penegasan melalui bertanya). Posisi saya sudah sangat kebingungan,” singkatnya kepada Ridwan Ramli.
Setelah mendengar semua kesaksian dari Sriyanto, majelis hakim pun memutuskan akan menunda sidang dan akan melanjutkannya pada Selasa (15/5) mendatang. Dengan agenda saksi yang meringankan terdakwa. “Ya sudah tidak ada lagi pertanyaan. Sidang akan kita tutup dan akan kita lanjutkan lagi pada 15 Mei 2012 mendatang. Tolong, kuasa hukum siapkan saksi bagi terdakwa,” tutup Ridwan Ramli seraya mengetuk palu sidang penutup. (pane/susilo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.