Sindikat Uang Palsu Cilegon-Jakarta Terbongkar

CILEGON,SNOL Sindikat pengedar uang palsu (upal) yang ditangkap Polres Cilegon sepekan terakhir, ternyata dilakukan secara berantai yang melibatkan dua warga Cilegon dan warga Jakarta.
Menariknya, dari empat pelaku yang diringkus di empat titik itu dua diantaranya adalah wanita paruh baya yakni Nenni Wahyuni warga Cilegon, dan Santi Marina warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Hal itu diketahui dalam konfrensi pers yang dilakukan Polres Cilegon, Selasa (1/5).
Kapolres Cilegon AKBP Umar Surya Fana kepada wartawan menuturkan, pihaknya berhasil mengamankan empat tersangka pengedar upal di empat titik berbeda. Awalnya polisi menangkap Fajar Nurudin, (23/4) lalu di dekat rambu putar balik ujung jembatan layang Cibeber.
Saat itu, Fajar ditangkap saat mengendarai mobil Honda Jazz warna cokelat metalik. “Infonya dari masyarakat. Kita geledah kemudian ditemukan barang bukti 100 lembar upal pecahan Rp100 ribu. Tersangka merupakan warga Kota Cilegon,” kata Umar seraya memperlihatkan barang bukti ribuan lembar upal.
Dari penangkapan Fajar, ia mengaku memperoleh upal itu dari Nenni Wahyuni (juga warga Cilegon, red). Polisi kemudian mengejar Nenni dan berhasil meringkusnya di sebuah rumah di Kramatwatu, Kabupaten Serang. “Dari tersangka ini, kami menemukan barang bukti 100 lembar upal pecahan Rp100 ribu yang disimpan dalam tas warna biru,” terangnya.
Mata rantaipun terus ditelusuri. Kemudian muncul nama Santi Marina. Wanita asal Lebak Bulus itu disebut oleh Nenni sebagai pemilik awal keberadaan 200 lembar upal pecahan Rp100 ribu yang ada di Cilegon. “Santi kami tangkap di rumahnya tepat di belakang Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sayang kami tidak mendapatkan barang bukti di rumahnya,” kata Umar.
Saat diintrogasi petugas, lanjut dia, Santi mengaku bahwa upal sebanyak 200 lembar yang dipegang Fajar dan Nenni itu merupakan hasil semedi dan berasal dari Nyi Roro Kidul. Pengakuan itu tentu tak membuat penyidik Polres Cilegon percaya begitu saja. Akhirnya, Santi pun mengaku bahwa upal itu dia peroleh dari Ahmad Taufik, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
“Mendapat informasi itu, petugas kami langsung melakukan pengejaran. Saat dilakukan penangkapan, kami langsung menggeledah rumah tersangka dan menemukan upal sebanyak 1.200 lembar atau setara dengan Rp120 juta. Upal yang kita amankan dari Fajar dan Nenni sebanyak 200 lembar merupakan bagian dari total 1.400 milik Ahmad Taufik,” ujarnya.
Hingga kini, Polres Cilegon terus melakukan pengembangan. Polisi sudah menetapkan Daftar Pencarian Orang (DPO) atas DR dan PR. Keduanya merupakan dua kunci peredaran 1.400 lembar uang palsu itu. “AT (Ahmad Taufik, red) mengaku mendapatkan upal pecahan Rp100 ribu itu dari DR disaksikan PR. Keduanya masuk DPO kami. AT mengaku bahwa ia mendapatkan 1.400 lembar upal itu dengan cara membeli seharga Rp30 juta,” tandasnya.
Ketika ditanya terkait Honda Jazz yang digunakan Fajar, Kapolres menyatakan bahwa untuk pengembangan maka mobil sport itu diamankan beserta ribuan lembar upal lainnya. Mobil itu sendiri merupakan mobil yang dirental oleh Fajar dari sebuah perusahaan rental mobil di Cilegon. Keempat tersangka kini mendekam di sel tahanan Polres Cilegon. Mereka dijerat Pasal 36 Ayat (2) UU RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.
Sementara itu, di Kabupaten Lebak juga sudah banyak beredar upal. Dua bersaudara Ahmad (21) dan Topik (27) pemilik counter penjual pulsa dan HP bekas menjadi korban peredaran upal. Warga Kampung Curug Tutul, Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung itu tertipu, sebab dua HP bekas dibeli oleh dua orang menggunakan Honda Biet bernomor polisi F 4523 NH, Senin  (30/4) sekitar pukul 21.30 lalu dengan uang palsu.
“Saya sedang nunggu counter, tiba-tiba datang dua laki-laki, alasannya numpang istirahat. Sambil memesan minuman dan rokok mereka menawar dua HP Nokia bekas yang ada di etalase,” kata Ahmad.
Setelah ada tawar menawar, harga akhirnya disepakati Rp700 ribu. Saat hendak bayar, keduanya mengaku tidak megang uang cash dan menanyakan ATM terdekat. Ahmad kemudian menunjukan ATM yakni di Indomart Citeras. “Mereka minta antar, Ahmad kemudian meminta kakaknya bernama Topik untuk mengantar keduanya,” terang Ahmad.
Di lokasi, mereka masuk ATM dan ke luar lalu memberikan uang sebesar Rp700 ribu. Tanpa pikir panjang, Topik menerima uang pembayaran HP itu. “Setelah menyerahkan uang keduanya pergi ke arah Cikande. Uang palsu ini kami ketahui saat belanja asesoris HP malam itu juga sekitar pukul 22.00. Pemilik toko bilang bahwa uang kami palsu. Jelas saya kaget mendengar bahwa uang yang kami belanjakan itu palsu,” tuturnya.
Kabag Ops Polres Lebak, Kompol Yudis Bibisana mengaku baru mengetahui adanya perderan uang palsu dari wartawan. “Kami baru tahu, namun demikian kami akan  segera menyelidikinya,” katanya.(fan/ris/bnn/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.