Mantan Atlet WNBA Latih Puluhan Santri di Pesantren Assidiqiyah

Sambil Latihan, Diajari Kata ‘Semangat’ oleh Santri

Santriwati Pondok Pesantren Assidiqiyah, Batu Ceper, Kota Tangerang mendapat kesempatan langka kemarin (3/5). Ya, mereka kedatangan Edna Campbell, legenda Women’s National Basketball Association (WNBA), kompetisi basket wanita terpopuler di Amerika Serikat untuk berbagi ilmu. Seperti apa?

SINAR Edna Campbell di lapangan mungkin sudah mulai redup. Namun, mantan pemain basket Internasional itu tetap bersinar saat melatih puluhan santri di Pondok Pesantren Assidiqiyah.
Meski lapangan basket yang tidak lebih elit dibandingkan lapangan NBA di Amerika sana, hal itu dianggap tidak masalah bagi Edna yang didampingi official NBA, Becky Bonner yang juga mantan atlet WNBA. Kedua wanita itu nampak bersemangat melatih puluhan santri dan siswa dari sekolah lain di kawasan tersebut.
Sesekali Edna melontarkan teriakan penyemangat dalam Bahasa Indonesia dengan fasih, hasil ajaran para santri di sela-sela mereka berlatih bersama. “Ayo semangat, bagus,” teriak wanita yang kini menjabat sebagai duta olahraga untuk Negara Adi Daya itu.
Mantan pebasket yang pernah divonis menderita kanker payudara itu tetap sabar mendampingi satu persatu peserta pelatihan basket memperagakan pemanasan. Seperti mendrible bola dengan berbagai teknik, dia pun tidak segan ikut berlari kecil bersama santriwati.
“Siswa di sini punya peluang menjadi atlet basket professional seperti saya dulu. Termasuk bagi mereka yang mengenakan jilbab,” ujar Edna. Menurutnya, siapapun berhak menjadi atlet basket dunia. Tidak ada pengecualian agama ataupun kepercayaan yang dianut.
Edna, yang keturunan Afrika ini tidak canggung berbaur di tengah-tengah para santri. Sedangkan Becky, dengan kaos dan celana legging hitamnya, tampak sporti melatih santriwan atau siswa pria. Di akhir latihan yang berlangsung selama satu jam itu, Becky sempat memberi evaluasi pada masing-masing peserta pelatihan.
“Biasakan diri rajin berlatih bermain basket, agar gerakan tidak terlalu kaku,” kata Becky yang memberi saran pada seorang anak. Saran tersebut pun disambut baik para santri dan siswa, kedua mantan atlet asli Paman Sam itu, didampingi juga empat pemain basket nasional, diantaranya Ari dan Roni Candra.
Seperti komentar dari Sri Ageng Wirdhana (16) salah seorang santri yang tampak asik bermain basket. Menurutnya, pengalaman dilatih atlet professional sekelas WNBA sangat langka. “Kami jarang latihan basket juga, tapi sekalinya dilatih dengan atlet WNBA, wah sangat beruntung,” aku santriwati yang biasa disapa Wirdha itu.
Areand C Zywartjes, Wakil Atasse Kebudayaan, Kedubes AS untuk Indonesia yang berkesempatan hadir mendampingi mengatakan, langkah ini diambil untuk misi
kebudayaan. Dikatakannya, basket yang pada dasarnya menjadi olahraga favorit di Amerika juga Indonesia bisa dijadikan wadah untuk mempersatu kedua bangsa.
“Kami sengaja hadir untuk menjalin hubungan baik antara Indonesia dan Amerika,” ungkap Areand. Menurutnya, dipilihnya pesantren sebagai lokasi pelatihan, tidak lepas dari keingintahuannya terhadap pendidikan di dalamnya.
Dan ternyata, Areand berkesimpulan, tidak ada bedanya antara pesantren dengan sekolah pada umumnya. Hanya saja, penekanan pada pelajaran agama dilebihkan. Dan itu, ujarnya, memang sangat bagus untuk kepribadian anak.
Sebelumnya, mantan atlet NBA Ricky Mahroon, direncanakan hadir. “Karena sakit di punggungnya, Ricky hanya datang saat berkunjung ke Universitas Tarumanagara di Jakarta,” jelasnya. (Pramita Tristiawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.