Penulisan Ulang Kitab Kuning Harus Terorganisir

SERANG, SNOL Penulisan ulang kitab kuning yang saat ini sudah cukup banyak dilakukan kalangan pesantren perlu ditingkatkan. Gerakan itu harus dilakukan secara terorganisir. Sehingga, kontekstualisasi kitab kuning dapat dirasakan masyarakat secara luas.
Demikian kesimpulan seminar dan diskusi dengan tema “Kontekstualisasi Kitab Kuning di Era Kontemporer” yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Banten di aula Kanwil Kemenang Provinsi Banten, Senin (7/5/2012). Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan itu Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar F Masudi dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Masdar mengatakan, kitab kuning dalam khazanah buku-buku keagamaan saat ini memiliki pangsa pasar tersendiri. Karena itu, kontekstualisasi melalui gerakan penulisan kembali (rewriting) kitab kuning perlu dilakukan. “Mayoritas umat Islam akan terus menjadi konsumen kitab kuning,” Masdar.
Penulisan kembali kitab kuning, menurut Masdar, mencakup substansi, bahasa, sistematika, dan postur yang disesuaikan. Antara lain bahasa harus lugas, namun tetap mengena (to the point), melengkapi dengan istilah terapan yang berkembang, terutama bidang muamalah atau bisnis, dan melengkapi diri dengan pembahasan isu sosial kemasyarakatan, lingkungan, politik, kenegaraan bahkan hubungan internasional.
“Intinya kitab kuning ke depan harus hadir sebagai kitab rujukan keumatan dalam hal akhlak keluarga, kemasyarakatan, kenegaraan dan lingkungan hidup. Bahkan lebih dari itu pada tingkatan yang lebih tinggi perihal etika hubungan antar komunitas yang berbeda, antar bangsa dan negara dengan sistem politik dan sosial yang tidak sama,” tuturnya.
Pesantren sebagai basis pendidikan dengan menggunakan kitab kuning, kata Masdar, mau tidak mau harus meredifinisi jati dirinya. Redifinisi jati diri pesantren bukan pada tampilan lahiriyahnya, melainkan pada bangunan epistemilogi, paradigma dan metodologi keilmuannya.
“Ilmu terus berkembang karena perubahan zaman. Maka, pesantren harus mendefinisikan agama dan keilmuannya sebagai acuan umat manusia dalam menjawab problem-problem kehidupan terutama pada tataran moral dan etika, baik individual, kelompok sosial yang terbuka dan multikultur,” paparnya.
Menurut Said Aqil, kitab kuning merupakan literatur primer bagi kalangan pesantren  yang hingga kini tetap tidak tergerus zaman. “Kitab kuning merupakan kearifan lokal. Tapi, tentu harus dikontekstualisasi. Misalnya dengan sistem perbankan sekarang,” kata Said Aqil.
Meskipun kalangan pesantren banyak yang memiliki kemampuan untuk melakukan penulisan ulang kitab kuning, menurut Said Aqil, hal itu belum terorganisasi secara baik. “Maka, kami akan terus mendorong adanya kontekstualisasi kitab kuning. Salah satu contohnya seperti yang dilakukan KH Ma’ruf Amien yang telah meluncurkan buku ekonomi syariah. Itu merupakan putra daerah Banten, dan hasil karyanya sangat kami kagumi,” katanya.(eman/fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.