JSS Punya Peran Strategis

SERANG, SNOL Jembatan Selatan Sunda (JSS) yang akan dibangun 2014 memiliki peran yang sangat strategis. Proyek ini dikelompokan dalam proyek strategis nasional dalam mewujudkan program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.
Demikian dikatakan Direktur Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bastary Pandji Indra saat Seminar Nasional Persiapan Masyarakat Banten Menyambut Pembangunan Jembatan Selat Sunda di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Serang, Banten, kemarin pagi.
Ikut hadir dalam diskusi itu Direktur Utama Wiratman & Associates atau Konsultan JSS Prof Dr Ir Wiratman Wangsadinata dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Banten Karimil Fatah.
Dalam paparannya, Bastary menjelaskan peran strategis infrastruktur. Peran dimaksud antara lain sebagai roda penggerak ekonomi, pendorong peningkatan produktivitas ekonomi, dan mempersempit kesenjangan antar daerah.
Pada kesempatan itu Bastary juga memaparkan beberapa potensi dampak pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS). Potensi dampak dimaksud antara lain berupa perubahan struktur dan pola pemanfaatan ruang di kabupaten dan pulau-pulau yang dilalui JSS. Selain itu juga perubahan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya regional serta perubahan fungsi kegiatan pelabuhan, baik di Bakauheni dan Panjang maupun di Merak.

Ditolak Mahasiswa
Terpisah, puluhan mahasiswa dari Untirta Movement Community (UMC) Serang melakukan aksi ujuk rasa di Depan Kampus Untira. Mereka menolak rencana pembangunan JSS. “Kami menolak terhadap rencana pembangunan JSS,” kata Muhamad Fakih salah satu orator aksi.
Fakih mengatakan, rencana pembangunan JSS yang akan menghubungkan Banten dengan Lampung dan Sumatera hanya akan membawa dampak kesengsaraan bagi masyarakat Banten. “Daerah Banten ini akan dijadikan tempat perlintasan kendaraan saja. Jadi, pembangunan JSS itu tidak ada nialai positifnya bagi kesejahteraan masyarakat Banten,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Fakih, kondisi infrastuktur jalan di wilayah Banten rusak berat. Terutama ruas jalan nasional dan provinsi. Kemudian, kerusakan lingkungan, alam dan  lahan pertanian. Berikutnya,  kondisi bangunan sekolah di setiap daerah rusak berat. Maka, kata Fakih, kondisi tersebut harus segera dilakukan perbaikan oleh pemerintah sebagai konpensasi adanya pembangunan JSS.
“Itu merupakan tuntutan aksi yang kami lakukan untuk menjadi priorotas perbaikan. Kalau tuntutan itu disetujui pemerintah dan dilakukan perbaikan di seluruh kabupaten/kota di Banten, kami mendukung pembangunan JSS,” tuturnya.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB itu mendapatkan pengawalan ketat pihak kepolisian dan keamanan kampus.
Dalam melakukan aksinya, mahasiswa tidak hanya melakukan orasi, juga membentangkan spanduk dan poster yang berisikan berbagai tututan. Mahasiswa juga melakukan orasi di depan pintu masuk ruang seminar, akibatnya panitia penyelenggara, kemanan kampus dengan mahasiswa bersitegang.
Beruntung peristiwa itu dapat direrai salah seorang dosen Untirta hingga aksinya diakhiri dengan pembakaran ban bekas di depan Gedung Rektorat Untirta.(eman/fahmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.