Jasad Korban Sukhoi Tak Utuh, Ditemukan di Jurang Berbentuk V

TANGERANG, SNOL Innalillahi! Ucapan itu langsung terlontar dari mulut Sikun Hadi Sunarto saat televisi mengumumkan penemuan jasad pertama kali oleh tim Search And Rescue (SAR) Darat di Gunung Salak Bogor pukul 10.00 WIB, Jumat (11/5/2012). Sunarto ayah reporter Trans TV Ismiyati itu langsung berdoa dan mengatupkan dua tangannya ke muka.
Keluarga korban yang lain juga berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Mereka saling berpelukan dan terisak-isak di ruang tunggu keluarga di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta.
Kondisi korban memang mengenaskan. Fotografer Jawa Pos Raka Denny yang berhasil mencapai lokasi crash site ( jatuh) bersama tim SAR darat melihat badan pesawat sudah berserakan. “Hanya keajaiban kalau ada yang masih hidup,” kata Raka yang baru bisa turun ke pos Cipelang Cijeruk kemarin petang.
Juru bicara Badan SAR Nasional Gagah Prakoso menjelaskan, kondisi jasad yang ditemukan tim sudah tidak utuh lagi. “Kurang etis kalau saya detailkan,” ujarnya pada Jawa Pos di pos Halim Perdanakusumah kemarin.
Menurut Gagah, korban ditemukan dalam radius puluhan meter dari lokasi crash site di koordinat 06.42.613 lintang selatan dan 106.44.412 bujur timur. “Dari laporan, itu mengumpul di dekat patahan jurang. Bentuknya V, ada aliran airnya juga,” kata Gagah.
Meski begitu, Gagah meminta keluarga tetap optimistis. “Selalu ada mukjizat, semoga ada dalam musibah kali ini,” katanya.
Dalam jumpa pers resmi, Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo menjelaskan, sudah ada 12 kantong jenazah yang berhasil dikumpulkan tim. “Enam berhasil dibawa ke puncak salak 1, yang enam masih di lokasi,” katanya.
Daryatmo menjelaskan, evakuasi jenazah akan menggunakan helikopter dari helipad terdekat di dekat lokasi crash site. “Sekarang sedang dirapikan tim, jaraknya sekitar 300 hingga 500 meter dari titik jatuh,” kata mantan Kadispen TNI Angkatan Udara itu.
Pagi ini, helikopter dari Lanud Atang Sanjaya Bogor akan membawa korban dari helipad darurat itu ke helipad terdekat di kecamatan Cigombong. Lalu diterbangkan lagi ke bandara Halim Perdanakusumah. “Setelah itu langsung dipusatkan ke RS Polri,” kata Daryatmo yang juga penerbang heli tempur ini.
Ketua Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kombes Anton Castilani menjelaskan, meskipun sudah ada 12 kantong jenazah atau cadaver, belum tentu ada 12 jasad di kantong itu. “Bisa saja lebih, bisa juga kurang,” katanya.
Itu karena, potongan tubuh yang diduga tidak utuh harus dicek dulu sesuai data antemortem (sebelum kematian) yang sudah disetor keluarga korban. “Satu kantong jenazah itu bisa saja 30 jasad,” katanya.
Meskipun sudah menerima laporan dari lapangan langsung, Anton menolak menjelaskan secara detail kondisi korban. “Tunggu identifikasi saja,” katanya.
Untuk tes DNA satu sampel butuh waktu dua minggu. Laboratorium DNA Polri bisa memeriksa 96 sampel sekaligus dalam satu waktu. “Semoga saja kondisinya baik,” kata Anton.
Dia juga sudah menerima data-data antemortem berupa sisa rambut, bekas sikat gigi, bahkan sampel lipstick dari para keluarga korban. “Itu sangat berguna sekali,” katanya.
Dari barang-barang sehari-hari itulah sampel DNA diambil lalu nanti dicocokkan. “Kalau yang teridentifikasi secara fisik, misalnya bentuk giginya, ya tidak perlu tes DNA,” katanya.
Di depan keluarga korban, Kombes Anton berjanji akan mengembalikan setiap potongan tubuh korban pada keluarga. “Sebagai pribadi dan atas nama Polri, saya akan pastikan setiap jasad atau potongan tubuh keluarga bapak ibu akan kami kembalikan ke keluarga,” katanya dengan nada tegas.
Ucapan Anton ini disambut haru oleh keluarga. Sebagian besar menangis lagi. Bahkan salah satu adik kandung korban Edward Panggabean (IndoAsia), Ellida ,43 mendadak pingsan dan harus dirawat di ruang P3K.
Namun, banyak juga keluarga yang masih optimistis. Misalnya, Syenni, mertua salah satu korban bernama Rully Darmawan. “Aku yakin Tuhan lindungi Rully, dia masih hidup,” katanya berkali-kali.
Dihubungi terpisah, Kepala Penerangan Lanud Atang Sanjaya Bogor Mayor Amri Lubis menjelaskan, jika pagi ini cuaca clear, heli akan berangkat pukul 5 pagi. “Diperkirakan jam 8 sudah bisa sampai di Halim Perdanakusumah,” katanya.
Meski begitu, heli tidak bisa langsung menurunkan rescuer dengan terbang hoisting (heli standby di udara). “Kemiringannya tidak memungkinkan bagi penolong untuk turun langsung dari heli menggunakan teknik rappelling,” katanya.
Jadi, heli akan turun di helipad darurat, selanjutnya menunggu tim SAR darat membawa korban dengan jalan kaki. “Lancar tidaknya tergantung dari cuaca, kita berdoa sky clear besok (hari ini, red),” katanya.
Di bagian lain, tim evakuasi Marinir dari Pasmar -2 Cilandak mengaku berhasil pertama kali melihat jasad pada pukul 07.20 kemarin. “Kita menemukan delapan,” kata Letkol Mar Oni Junianto , komandan regu Marinir.
Menurut Oni, kondisi tebing sangat curam. “Kita secara visual melihat korban-korban lain namun harus menggunakan peralatan khusus untuk evakuasi,” katanya.
Tim lain dari Mapala UI yang ikut bersama Marinir mengaku menemukan KTP korban. Ridwan Hakim, satu diantara tiga anggota Mahasiswa Pencinta Alam Mapala mengaku menemukan paspor dan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Mandiri atas nama Gannis Arman Zuvianto.
“Paspor ada, atas nama Gannis Arman,” ujar Ridwan di Posko Utama kecelakaan SS100, Balai Ternak Embrio, Cipelang, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/5) petang.
Ridwan juga mengaku menemukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Nur Ilmawati. Dalam catatan petugas, Nur Ilmawati merupakan pramugari maskapai penerbangan Sky Aviation dan Gannis Arman Zuvianto dari perusahaan Indonesia Air Transport.
Ia juga mengaku melihat sejumlah barang lainnya yang diduga milik korban, seperti paspor, kartu ATM Mandiri, kamera digital, I-phone, dan laptop, dalam kondisi hangus. “Mengerikan sekali pokoknya,” katanya. (rdl/ken/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.