Awas, Razia PSK Tebang Pilih

CIPUTAT, SNOL Razia pekerja seks komersial (PSK) di sejumlah tempat hiburan di Serpong, Sabtu (25/5) malam menuai kritik. Instansi penegak Perda itu dinilai tebang pilih dan diduga melakukan lobi-lobi dengan pengusaha karaoke.
Hal itu dilontarkan Sekretaris MUI Kota Tangsel Abdul Rozak, menanggapi pertanyaan wartawan terkait razia tersebut, semalam. “Razia ini harus dievaluasi kembali, jangan ada diskriminasi terhadap tempat-tempat karaoke atas dan bawah, seperti yang dilakukan kemarin (Sabtu 25/5-red), terkesan Satpol PP bermain mata dan melakukan lobi-lobi di tempat karaoke The First, Serpong,” ungkap Rozak saat itu ikut dalam razia gabungan yang digelar Satpol PP tersebut.
Pada prinsipnya MUI mendukung atas operasi razia yang dilakukan Satpol PP, karena secara tidak langsung memberikan efek jera kepada tempat hiburan malam, namun pelaksanaannya harus dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya, jangan hanya nampak di luar tapi tidak ada keseriusan yang dilakukan dalam menertibkan tempat hiburan di Tangsel.
Dalam razia tersebut pastinya mengeluarkan anggaran yang besar, jangan sampai anggaran tersebut terbuang sia-sia. “Saya harap ada evaluasi dari razia yang dilakukan kemarin ini, jangan sampai razia ini terkesan buang-buang anggaran saja,”ungkap Rozak.
Itulah yang terjadi saat pelaksanaan penertiban pekerja hiburan malam di Kota Tangsel. Bagaimana tidak, puluhan perempuan pemandu karaoke tersebut dipersilakan pulang apabila dijemput oleh rekan atau keluarga. Tidak ada penjemput, para perempuan itu dihantar langsung ke penampungan di Pasar Rebo, Jakarta. Aneh, karena apa dasar hukumnya mereka diperbolehkan pulang? Nyata, jelas-jelas mereka dipersilakan pulang oleh petugas setelah didata.
Sekira pukul 01.30 dini hari Sabtu, 38 perempuan pemandu karaoke yang ditertibkan dari berbagai tempat hiburan di Tangsel dikumpulkan di aula Kecamatan Ciputat, depan kantor Satpol PP Kota Tangsel.
Mereka satu persatu didata oleh petugas. Kejadian lebih aneh nan ajaib terjadi saat pendataan selesai. Satu persatu perempuan pemandu karaoke tersebut boleh meninggalkan aula. Mereka dijemput oleh orang yang mengaku rekan atau kerabat.
Nama perempuan yang dijemput itupun dipanggil oleh beberapa anggota Satpol PP, agar memisahkan diri untuk pulang bersama rekan atau kerabatnya. Hingga pukul 02.00, perempuan yang tersisa tinggal 16 orang. Merekalah yang akhirnya dikirimkan ke Pasar Rebo menggunakan truk Satpol PP B 9017 WOQ, karena tidak dijemput rekan atau kerabatnya. (irm/adn/bnn/susilo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.