Atut Sebut Sudah Maafkan Pelaku Teror

SERANG, SNOL Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengaku sudah memaafkan pelaku teror ancaman pembunuhan melalui SMS kepada nomor HP miliknya. “Ibu sudah memaafkan pelaku SMS itu,” kata Atut saat dikonfirmasi wartawan di Serang, Selasa (3/7).
Atut juga mengaku tidak menyimpan rasa benci ataupun dendam kepada pelaku teror tersebut. “Ibu sangat sayang kepada pelaku teror itu, meski ada ancaman kepada ibu untuk berbuat jahat. Begitu juga kepada masyarakat lain, ibu sangat sayang,”ujarnya.
Meski mengaku sudah memaafkan, namun untuk persoalan hukum  diserahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib yang menangani kasus tersebut, lantaran tidak ingin mencampuri penanganan kasus itu yang kini disidangkan Pengadilan Negri  (PN) Serang. “Ibu serahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Ibu tidak ingin mencampuri persoalan yang ditangani sama pihak penegak hukum,” ujarnya.
Sayang Atut tidak menjelaskan alasan tidak memenuhi panggilan jaksa untuk dimintai keterangan sebagai sanksi. Atut hanya mengharpkan persoalan itu segera diselesaikan oleh pihak berwajib. “Kedepan ibu akan lebih berhati-hati lagi. Dan berharap pesoalan itu bisa segera diselesaikan oleh pihak berwajib,” harapnya.
Ditempat berbeda, Majilis Hakim PN Serang, bersikukuh meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Serang untuk menghadirkan Atut agar dapat dimintai keterangan sebagai saksi korban dalam sidang lanjutan perkara dugaan perkara perbuatan tidak menyenangkan, yang dilakukan oleh terdakwa Ahmad Bawazir terhadap Atut melalui berupa SMS di PN Serang, Selasa (3/7).
“Kami tetap meminta jaksa menghadirkan Ratu Atut, untuk diminta keteranganya sebagai saksi korban. Karena Atut adalah korban jadi keteranganya harus didengarkan langsung, sebagai bahan pertimbangan majelis untuk menentukan putusan terhadap terdakwa,” kata Ketua Majelis Hakim PN Serang Sumartono.
Sumartono menerangkan, sebenarnya hakim bisa saja membacakan keterangan saksi korban sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang sebelumnya dihadapan penyidik Polda Banten. Tetapi, hakim ingin lebih mendetail mencari keterangan dalam kasus ini. “Kalau Ratu Atut dihadirkan dalam persidangan, kami bisa lebih dalam mengorek informasinya, ingat ya, Atut itu saksi korban lho. Jadi dia akan lebih dalam mengetahui informasi itu,” ujarnya.
Sementara itu, JPU dari Kejari Serang, Zulkarnaen mengaku sudah dua kali melayangkan surat pemanggilan terhadap Gubernur Banten Atut. Namun, yang bersangkutan tidak bisa hadir karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. “Kami sudah melayangkan surat, yang bersangkutan tidak bisa hadir. Sekarang juga kami layangkan kembali surat panggilan, sesuai perintah majelis, untuk dimintai keteranganya pada sidang pekan depan,” kata Zulkarnaen usai persidangan.
Dalam sidang lanjut tersebut dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, JPU menghadirkan dua saksi. Saksi pertama adalah Deni Arisandi, Deni dihadirkan Jaksa lantaran mengetahui mendapatkan SMS yang sama dari terdakwa. Sedangkan saksi kedua adalah Ahmad Taufik, saksi ini adalah yang rumahnya ditempati terdakwa saat penangkapan yang dilakukan oleh penyidik dari Polda Banten di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak.  (bagas/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.