Aksi Mogok Makan Mahasiswa Didukung Eks Rektor

SERANG, SNOL Aksi mogok makan yang dilakukan empat mahasiswa Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, mengenai penolakan terhadap kebijakan rektorat dalam memberlakukan Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP) Flat terus berlanjut hingga, Kamis (5/7).
Aksi mogok makan yang dilakukan mahasiswa di halaman gedung rektorat  yang sudah dilakukan sejak rabu (4/7) lalu, belum mendapat tanggapan serius dari pihak rektorat. Aris Perdana, salah satu peserta aksi mogok makan menyatakan, aksi tersebut akan terus dilakukan sampai tuntutan mahasiswa meminta mencabut kebijakan SPP  Flat disetukui pihak rektorat.
“Penolakan terhadap SPP Flat, karena kebijakan SPP flat yang dikeluarkan  rektorat  sangat  tidak adil  bagi kesluruhan mahasiswa.  Apalagi fisilitas dan sarana prasarana penunjang peningkatan pendidikan di Untirta tidak memadai. Dan kebijakan biaya SPP flat itu menimbulkan kecemburuan bagi mahasiswa lama,” kata Aris di sela-sela aksi berlangsung.
Selain itu, menurut Aris, kebijakan SPP Flat tidak dibarengi dengan kemajuan sarana dan prasarana serta manajemen kampus, tersmuk tidak dilakukan sosialisasi terhadap mahasiswa. “Kami akan tetap aksi, sampai tuntutan ini dikabulkan pihak rektorat, penolakan kami terhadap kebijakan SPP Flat karena ini tidak sesuai dengan fasilitas yang diterima oleh mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, ke-empat peserta aksi mogok makan, yakni Novendy, Anugrah Syalom, Aris Perdana Pangabean dan Wildan Widiyansah sudah terlihat lelah, diduga mahasiswa tersebut mengalami dehidrasi.
Aksi mogok makan dalam rangka penolakan kebijakan rektorat ini mendapat dukungan dari sejumlah mahasiwa, dosen dan termasuk mantan rektor Prof Rahman Abdullah yang langsung datang meninjau empat mahasiswa di Posko aksi mogok makan. “Saya mendukung langkah teman-teman mahasiswa, karena aksi ini untuk kebaikan kampus,” kara Rahman.
Dihubungi terpisah, Rektor Untirta Prof Soleh Hidayat mengaku tidak akan mencabut kebijakan pemberlakukan SPP Flat. Dia menegaskan, kebijakan tersebut sudah berjalan sejak tahun 2011. “Tidak bisa, dan kami tidak akan mencabut kebijakan itu, karena itu sudah hasil kesepatakan dalam rapat rektorat,” kata Soleh.
Terkait desakan mahasiswa yang menuntut fasilitas sesuai dengan diberlakukan biaya SPP Flat, Soleh menyatakan, semua sudah dilakukan sesuai mekanisme yang ada. Tetapi, dia mengakui ada beberapa persoalan dalam pemeliharaan, baik dalam perihal pembiayaan maupun sumber daya manusia.  “Memang ada beberapa fasilitas yang sedikit kurang terawat, ini karena memang masih dalam proses. Nanti kedepan semua fasilitas kampus akan dipenuhi termasuk penerangan,” tukasnya. (bagas/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.