Dumierti, 7 Tahun Merawat Anak Berkebutuhan Khusus

Dumierti, usianya kini genap 28 tahun. Disaat semua wanita seusianya memilih berkarir mapan di perusahaan bonafit, wanita asal Yogyakarta ini justru lebih memilih mengabdikan hidup dan karirnya sebagai perawat untuk anak berkebutuhan khusus (special needs), di Yayasan Sayap Ibu, Bintaro Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
“Ini pilihan, dan ini panggilan. Sudah tujuh tahun lamanya saya mengabdi di sini,” tegas wanita berkulit sawo matang itu.
Ucapan tersebut tergambar jelas dengan apa yang dilakukannya di yayasan tersebut. Tidak ada rasa enggan ataupun canggung saat merawat anak-anak penderita hidrosefalus, autisme, hingga jenis berkubutuhan khusus lainnya. Dumierti hanya mencoba tetap menjalankan tugasnya, memandikan, memakaikan baju, memberi nutrisi, hingga memberi makan.
Belum lagi jika anak-anak itu sakit, tengah malam hanya perasaan miris saat mendengar mereka merengek kesakitan. “Sedih banget kalau mereka sudah sakit,” katanya lirih sambil mengelus dan memeluk erat salah seorang anak yang dirawatnya.
Rutinitas seperti ini bukanlah setahun atau dua tahun dikerjakan Dumierti. Dia berada di Yayasan Sayap Ibu sudah lebih dari tujuh tahun. Awalnya, bukanlah perkara mudah Dumierti melakukan semuanya bersama teman-teman perawat lain. Awal mulanya berada di yayasan yang beralamat di Jalan Raya Graha Bintaro, Tangerang Selatan itu, sangatlah kesulitan. Terlebih jika ada anak berkebutuhan khusus itu sakit, Dumierti pasti merasa pilu mendengar mereka merengek ataupun menangis kesakitan.
Seiring berjalannya waktu, kesabaran dan ketelatenan merawat puluhan anak berkebutuhan khusus tersebut muncul dengan sendirinya. “Saya bisa merawat anak-anak. Mereka mayoritas adalah anak yatim, ataupun jauh dari orangtua. Saya bisa menjadi orangtua kedua mereka,” ujarnya lirih.
Hingga saat ini bersama dengan para perawat lainnya, ada sekitar 33 anak berkebutuhan khusus yang dirawat. “Justru sekarang, enggak kebayang harus berpisah dengan mereka semua, sudah terlanjur sayang sepertinya,” kata Dumierti, senyum manis tersungging dibibirnya.
Saat yang paling membanggakan untuknya, ketika dia melihat proses pertumbuhan dan keceriaan anak-anak berkebutuhan khusus ini. Walaupun lelah karena harus siaga 24 jam diyayasan tersebut, hanya keceriaan mereka lah yang jadi obat penawar Dumierti.
“Terkadang, tengah malam mereka bangun. Dan itu hanya untuk ngajak saya atau perawat lainnya becanda,” ujar Dumierti. Justru hal tersebutlah yang dimanfaatkan Dumierti untuk pendekatan dengan anak-anaknya.(pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.