Manfaatkan Fisika, Gedung Surya Institute Mirip Aliran Magnet

Gedung Surya Institute atau SuRE Centre yang berlokasi di Gading Serpong Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang, sungguh unik dari sesi arsitektur. Sang pemilik, Prof Yohannes Surya, mengaplikasikan teori fisika ke dalam bentuk gedung yang dipakai untuk mencetak para juara sains Indonesia.
Dari luar, gedung yang beralamat lengkap di Scientia Boulevard, Gading Serpong, Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang itu memang terlihat bundar. Namun ternyata, ada cerita unik dibalik berdirinya bangunan yang berada di ujung kawasan elit Serpong itu.
“Saya mengambil konsep Fisika dalam membangun gedung SuRE Center. Kemudian tim arsitek Arkitekton Limatama yang menerjemahkannya ke dalam bentuk nyata,” ujar Profesor yang aktif mencari peserta olimpiade sains Indonesia.
Di masing-masing sudut kanan dan kiri gedung, terdapat 46 pipa besi putih dengan diameter 30 centimeter melengkung dari atap bangunan sampai ke tanah. Besi-besi tersebut berderet disamping bangunan yang terbungkus oleh kaca.
Dan ternyata, jika dilihat dari atas bangunan, besi-besi melengkung tersebut akan menggambarkan sebuah aliran magnet dengan dua kutubnya, seakan terus mengalirkan arus magnet ke dalam tanah. Sama persis seperti ilmu fisika pada bagian pembelajaran magnet, bentuk bangunan seolah terus mengalirkan medannya.
“Coba saja masuk ke dalam bangunan kita, pengunjung akan menemui sebuah atrium berbentuk lingkaran dengan diameter 20 meter yang mendapat sinar cahaya matahari dari atap kubah,” jelas Profesor yang biasa disapa Pak Yo itu. Jika anda penggemar berat ilmu Fisika, anda akan dibuat takjub pada atrium yang dibuat ramp melingkar sebagai jalur sirkulasi utama dari satu lantai ke lantai lainnya.
Pak Yo menjelaskan, seperti halnya sekrup Archimedes yang berfungsi untuk memindahkan sesuatu dari bawah ke atas dan sebaliknya, maka tangga utama yang dibuat tidak berundak itu sebagai praktek dari teori Archimedes dalam ilmu fisika. Bedanya,  yang berpindah adalah manusia. Tidak sampai di sana, ditiap lantai, Pak Yo menyediakan hanya tujuh kelas saja. Angka tujuh menurutnya menggambarkan jumlah warna spectrum pada ilmu fisika. Untuk itu, tiap warna mewakili tiap kelas yang ada di masing-masing lantai.
Sesuai dengan filsafat fisika yang melekat pada bangunannya, setiap orang yang beraktivitas di dalamnya pun sama seperti bangunannya. “Kami menargetkan akan ada 30 ribu SDM Indonesia yang mendapatkan gelar PhD hingga tahun 2030 mendatang,” ujarnya.
Untuk saat ini, gedung SuRE digunakan untuk mendidik anak‐anak dari Indonesia Timur khususnya Papua. Juga untuk penelitian bagaimana caranya agar anak‐anak daerah tertinggal bisa menjadi luar biasa dan tidak kalah dengan siswa dari kota‐kota besar. “Bagi saya, tidak ada anak yang bodoh,  adanya hanya mereka yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode tepat,” tegas pak Yo.(pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.