Calon Pelaut Tewas saat MOS, Ada Memar dan Luka

TANGERANG,SNOL Ervin Juniyantoro (19), siswa Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP), tewas saat mengikuti masa orientasi sekolah (MOS), Kamis (12/7) malam. Sejumlah luka baret, lecet dan memar ditemukan di tubuh pria kelahiran Jakarta 30 Juni 1993 itu. Kepastian penyebab kematian alumni SMK 2 Tangerang itu baru diketahui dari hasil otopsi yang mulai dilakukan sore kemarin (13/7).
Menurut Kepala Unit Kerjasama dan Alumni BP2IP Amirullah, sebelum meninggal di hari keempat masa Diklat Orientasi Pembelajaran (DOP), atau MOS ala BP2IP, Ervin sempat minta istirahat diklinik.
“Tidak ada tindak kekerasan yang dilakukan. Untuk calon taruna Ervin sebelum di rujuk kerumah sakit memang sudah sempat beberapa kali masuk ke Poliklinik BP2IP karena kurang sehat,” kata Amirullah dalam jumpa pers di sebuah rumah makan, kemarin (13/7).
Amirullah mengatakan, Ervin dinyatakan lulus oleh pihak sekolah yang berlokasi di BP2IP di Jalan Raya Karang Serang, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang itu dengan nomor registrasi pendidikan 133.40.02.03.12. Semua calon taruna termasuk Ervin diwajibkan mengikuti DOP yang berlangsung 9-15 Juli 2012.
“Pada tanggal 9 Juli 2012, semua peserta masuk dan mengikuti ceramah umum. Berkas mereka juga dicek kembali, termasuk catatan kesehatannya. Semua normal, termasuk Ervin,” kata Amirullah.
Pada tanggal 10 Juli 2012, sama seperti calon pelaut lainnya Ervin mengikuti apel pagi, ceramah umum, dan kegiatan lainnya sampai siang. “Siang itu digelar latihah fisik yakni lari bersama dipandu oleh instruktur Nursalis. Ervin sudan menunjukkan tanda-tanda kelelahan karena lari paling belakang,” urai Amirullah.
Ervin kemudian berhenti lari dan duduk dengan kondisi tampak letih. Insturktur pun merekomendasikan agar Ervin ke poliklinik menemui tim medis. Hasil pemeriksaan tim medis menyatakan Ervin sehat. Dia kembali mengikuti ikuti  istirahat malam. “Tanggal 11, ia ikut semua kegiatan,” imbuhnya.
Kamis (12/7), sebelum kegiatan DOP dimulai lagi, instruktur pendamping meminta calon taruna yang sakit untuk melapor. Saat itulah Ervin meminta izin untuk tidak mengikuti kegiatan. Alasannya, kakinya lecet akibat sepatu laras TNI. “Bersama dia ada satu kawannya yang juga sakit, dia diminta untuk istirahat di poliklinik lagi,” ujarnya.
Sampai akhirnya, saat makan siang Ervin memakan melon dengan kulit-kulitnya. Saat itu instruktur yang menemaninya yakni David Ricardo curiga. Apalagi, Ervin langsung kejang-kejang. ”Ervin kami larikan lagi ke klinik namun sudah parah, sampai akhirnya diterima di RSU dan meninggal disana,” tandas Amirullah.
Ervin dilarikan ke Rumah Sakit Sari Asih Tangerang pada Kamis malam. Namun, kemudian ia dirujuk ke Rumah Sakit Kesdim di Jalan Daan Mogot, Tangerang. Dari situ, siswa ini dirujuk lagi ke RSUD Tangerang dan meninggal pada Kamis pukul 22.30 WIB.

Versi Keluarga

Kemarin, di rumah keluarga Ervin digelar pengajian.  Wajah-wajah penuh duka nampak memenuhi rumah bercat hijau di Villa Regency, Jalan Bumi Raya VI, No.7, RT. 07/07, Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang.
Pasangan suami istri Mulyono (50) dan Sundari (45) dan saudara kandung Ervin tampak berusaha tegar ditengah keluarga besar, kerabat, dan para tetangga mereka. Jenazah bungsu dari dua bersaudara yang diletakkan di tengah ruangan rumah, hampir tak pernah lepas dari tatapan sang Ibu.
Banyaknya luka di tubuh Ervin jadi masalah sendiri bagi Hari Wibowo (26), kakak Ervin. “Tidak pernah ada rekam jejak penyakit diderita adik saya. Terakhir sakit keras hanya tifus. Makanya, keluarga kaget begitu mendapatkan kabar dari BP2IP kalau Ervin sakit saat mengikuti ospek,” katanya.
Dimata Hari, Ervin merupakan sosok pendiam dan pintar. Badannya kuat dan tinggi besar. Karenanya, ada rasa curiga saat mendapatkabar bahwa Ervin sakit keras (keluarga mendapat kabar Ervin sempat mengalami kejang, red).
“Keluarga masih ingin mengetahui kejelasan penyebab kematian adik saya. Sebab, saat saya ikut memandikan Ervin, saya menemukan luka-luka baret di sana sini. Ada luka bolong di telapak kaki, memar di bagian pinggang dan punggung. Ada juga luka lecet cukup besar di tulang kering kanan dan kiri Ervin,” jelasnya.
Peristiwa ini menanamkan duka yang dalam dihati sang Ibu. “Sampai sekarang ibu belum mau bicara. Dia sangat sedih, sebab Ervin sangat disayang sama ibu. Makanya, meskipun ikhlas kami tetap menunggu kejelasan penyebab kematiannya,” kata Hari.
Dari luka fisik, ada kecurigaan yang pantas ditelusuri. “Kami juga masih menunggu hasil otopsi. Jika nanti terbukti ada tindak kekerasan, harapan kami diusut dan ditemukan pelakunya,” pungkasnya.

Polisi Pastikan Ada Memar

Terpisah, Kasat Reskrim Polresta Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga mengatakan sampai kemarin sore pihaknya belum menerima laporan dari pihak keluarga terkait kematian Ervin.
“Sejauh ini kami belum bisa melakukan pemeriksaan, Kalau pihak keluarga telah membuat laporan, tentu kami akan cepat bergerak melakukan penyidikan. Tapi, otopsi merupakan langkah awal kami untuk melakukan penyidikan,” jelas Shinto.
Menurut Shinto, pihaknya baru menerima kabar dari pihak keluarga bahwa besok (hari ini-red) mereka akan memasukkan laporan kepada pihak kepolisian.
“Jika benar pihak keluarga membuat laporan kepada kami maka sudah barang tentu kami akan langsung memintai keterangan kepada pihak-pihak terkait yang bisa dijadikan saksi atau dimintai keterangannya,” jelasnya.
Saat ditanyakan apakah ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan saat pihak kepolisian melakukan identifikasi, Shinto mengakuinya. Ada tanda lecet di kaki serta memar di beberapa bagian tubuh.
Namun demikian, polisi belum bisa memastikan apakah itu merupakan bekas tindak kekerasan atau bukan. “Kami bisa menentukan itu bekas tindak kekerasan atau tidak dari hasil otopsi yang dilakukan rumah sakit,” jelas Shinto.(pane/hendra/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.