Keluarga Tetap Yakin Erfin Alami Kekerasan

TANGERANG,SNOL Keluarga almarhum Erfin Juniantoro (19) tetap meyakini siswa Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) itu mengalami tindak kekerasan sebelum meninggal. Meski begitu, mereka akan menunggu hasil otopsi pria yang tewas saat Diklat Orientasi Pembelajaran (DOP) atau sejenis Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sekolah calon pelaut tersebut, Kamis (12/7) lalu.
Erfin dimakamkan Jumat (13/7) sekitar pukul 19.35 malam setelah jenazahnya selesai diotopsi oleh tim medis di RSUD Tangerang. Jenazahnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Selapajang, Neglasari, Kota Tangerang, dekat pintu belakang (M1) Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Dugaan kami masih kuat bahwa Erfin dianiaya sebelum meninggal. Tapi, untuk kepastiannya kami akan menunggu hasil otopsi. Kami kami serahkan seluruhnya pengusutan kepada pihak kepolisian,” kata Hari Wibobo (26), kakak kandung Erfin kepada Satelit News, Minggu (15/7).
Dugaan ini, jelas Hari, diperkuat fakta bahwa keluarga menemukan banyak luka di sekujur tubuh Erfin saat jenazahnya akan dimandikan. “Sebelumnya keluarga memang tidak ingin memperkeruh soal meninggalnya almarhum. Tapi, setelah ada kejanggalan keterangan sekolah dan fakta ditubuh adik kami, keluarga akhirnya setuju dilakukan otopsi. Kini, tunggu saja apa hasilnya, nanti keluarga dikasih tahu,” jelasnya.
Sebelumnya, Hari yang ditemui di Villa Regency, Jalan Bumi Raya VI, No.7, RT. 07/07, Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, mendapati pada jenazah Erfin sejumlah luka, berupa empat luka bolong di telapak kaki yang terkelupas. Dan juga luka lecet cukup dalam dibagian tulang kering. Ditambah lagi, luka memar di bagian pinggang dan punggung.
Banyaknya luka di tubuh Ervin itulah yang membuatnya semakin yakin bahwa, kematian Ervin tidak wajar. Apa lagi, sebelum meninggal, Ervin sudah 4 hari mengikuti ospek ala BP2IP dan tetap dalam keadaan sehat. “Tidak pernah ada rekam jejak penyakit diderita adik saya. Terakhir sakit keras hanya tifus. Makanya, keluarga kaget begitu mendapatkan kabar dari BP2IP kalau Ervin sakit saat mengikuti DOP,” kata saat itu.
Sabtu (14/7), keluarga kembali melaporkan tentang dugaan adanya tindak kekerasan dan penghilangan nyawa kepada Polres Kota Tangerang. “Harapan kami, polisi cepat bertindak, dan cepat pula memastikan apa penyebab kematian adik saya. Desakan kami dari keluarga juga agar polisi mengusut tuntas kasus ini, jangan sampai kami terus bertanya-tanya apa yang menimpa adik saya,” singkatnya.

Pengakuan Eks Taruna
Salah seorang mantan taruna DP 4 yang pernah mengikuti pendidikan selama 8 bulan di kampus BP2IP Tangerang pada tahun 2011 lalu, Fanny Adi Prasetyo kepada wartawan, Sabtu (14/7), mengaku mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh para seniornya.
“Perlakuan senior terhadap yuniornya di kampus BP2IP ini sangat kasar. Pukulan, tonjokan dan tendangan sudah menjadi hal yang biasa. Dan itu dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan dari instruktur,” ungkap Fanny.
Menurut penuturan orang tua Fanny, Dartim (47), keluarnya Fanny dari kampus BP2IP juga disebabkan karena putera mengaku tidak kuat menjalani pendidikan di kampus ini. “Awalnya saya tidak tahu, kenapa tiba-tiba anak saya kok kepengen keluar dari pendidikan di BP2IP. Tapi lama-lama ia cerita tentang apa yang terjadi, bahwa selama tinggal di asrama ia seringkali dianiaya oleh seniornya,” bebernya.
Suatu saat, sang anak mengeluhkan rasa sakit di bagian dada, lambung dan ulu hati. “Saya langsung memintakan ijin cuti untuk Fanny dan membawanya ke rumah sakit untuk dirontgen. Hasilnya, terjadi pembengkakan pada bagian lambung akibat pukulan, serta kerusakan jantung dan hati,” paparnya.
Hasil rontgen tersebut, kata Dartim dijadikan rujukan untuk mengadukan persoalan tersebut kepada pihak BP2IP. Namun, pihak BP2IP tidak menanggapi secara serius. “Ketika saya mengadukan permasalahan ini, memang pihak BP2IP sempat memanggil salah seorang senior yang melakukan penganiayaan terhadap Fanny. Bahkan orang tuanya juga sempat dipanggil. Sayangnya tidak ada tindakan apa-apa dari pihak BP2IP,”keluhnya.
Sementara PPID unit kerjasama BP2IP, Amirulah ketika dikonfirmasi wartawan, Sabtu (14/7) menampik ada tindak kekerasan di kampus BP2IP. “Kami mengawasi para taruna baik yunior maupun seniornya selama 1×24 jam, jadi tidak mungkin ada kekerasan,” ujarnya.
Amirulah juga membantah, ada taruna DP 4 BP2IP yang mengundurkan diri, karena tidak kuat menghadapi perlakuan tindak kekerasan dari seniornya. “Sejauh ini belum pernah ada wali murid, atau orang tua Taruna BP2IP yang komplain kepada pihak kami, apalagi mengenai tindak kekerasan yang dituduhkan pada kami,” pungkasnya.
Erfin tewas saat mengikuti masa orientasi sekolah (MOS), Kamis (12/7) malam saat tengah mengikuti DOP di hari keempat di kampusnya. Alumni SMK 2 Tangerang itu, menurut Kepala Unit Kerjasama dan Alumni BP2IP Amirullah, sebelumnya sempat minta istirahat diklinik.
“Tidak ada tindak kekerasan yang dilakukan. Untuk calon taruna Ervin sebelum di rujuk kerumah sakit memang sudah sempat beberapa kali masuk ke Poliklinik BP2IP karena kurang sehat,” kata Amirullah, Jumat (13/7).
Semua calon taruna termasuk Ervin diwajibkan mengikuti DOP yang berlangsung 9-15 Juli 2012.  Pada tanggal 9 Juli 2012, semua peserta masuk dan mengikuti ceramah umum. Berkas mereka juga dicek kembali, termasuk catatan kesehatannya. Semua normal, termasuk Ervin.
Pada 10 Juli 2012 digelar, digelar latihan fisik berupa lari bersama dipandu oleh instruktur Nursalis. “Erfin sudan menunjukkan tanda-tanda kelelahan karena lari paling belakang,” urai Amirullah. Erfin kemudian berhenti lari dan duduk dengan kondisi tampak letih. Instruktur merekomendasikan agar Ervin ke poliklinik menemui tim medis. Hasil pemeriksaan tim medis menyatakan Ervin sehat. Dia kembali mengikuti ikuti  istirahat malam.
Kamis (12/7), sebelum kegiatan DOP dimulai lagi, instruktur pendamping meminta calon taruna yang sakit untuk melapor. Erfin meminta izin untuk tidak mengikuti kegiatan dan beristirahat di poliklinik. Alasannya, kakinya lecet akibat sepatu laras TNI.  Saat makan siang Ervin memakan melon dengan kulit-kulitnya. Saat itu instruktur yang menemaninya curiga. Apalagi, Erfin langsung kejang-kejang. Ervin dilarikan ke klinik, namun karena kondisinya parah dia dirujuk ke sejumlah rumah sakii, sampai meninggal di RSUD Tangerang pada Kamis pukul 22.30 WIB.
Kasat Reskrim Polresta Kota Tangerang, Kompol Shinto Silitonga menyatakan pihak kepolisian menemukan tanda-tanda kekerasan saat melakukan identifikasi berupa tanda lecet di kaki serta memar di beberapa bagian tubuh. Apakah itu bekas tindak kekerasan atau bukan baru diketahui dari hasil otopsi yang dilakukan rumah sakit.(pane/hendra/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.