Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (5)

Dua Jam setelah Finis, Seluruh “Stadion” Bersih
Untuk kali pertama, kawasan wisata ski Peyragudes jadi lokasi finis etape Tour de France. Rombongan Jawa Pos Cycling dapat fasilitas VIP. Tapi, sebelumnya, harus sekali lagi bersepeda mendaki gunung.
Setelah lima hari di Pegunungan Pyrenees, program Tour de France yang diprakarsai Jawa Pos Cycling dan Surabaya Road Bike Community (SRBC) itu lebih terasa sebagai training camp.
Senin hingga Rabu lalu (16″18 Juli) kami dihajar dua gunung tinggi plus keliling rolling hills (naik turun) saat temperatur di atas 40 derajat Celsius.
Kamis (19/7) “siksaan” belum berakhir. Walau kali ini paling pendek, kami kembali mendaki puncak yang cukup tinggi. Plus kali ini melawan suhu udara yang sangat dingin. Hanya 18 derajat Celsius!
Lengkap sudah programnya. Bersepeda panas dingin membuat badan kami “bukan atlet!” ikut panas dingin.
Untung, Kamis itu kami dapat hiburan terbesar. Menonton finis dengan fasilitas VIP. Juga, melihat betapa raksasanya operasional sirkus Tour de France serta betapa efektif dan efisiennya pembuatan “stadion” start dan finis di setiap etape.
Kamis lalu merupakan “hari penuh” bagi rombongan program. Rencananya, kami sudah harus meninggalkan hotel di Pau pada pukul 07.00. Naik van ke arah finis etape 17 Tour de France 2012, berhenti di satu tempat, bersepeda ke puncak, menonton, lalu naik van untuk balik ke Pau pada malam hari.
Karena sudah kelelahan luar biasa, rombongan baru bisa berangkat sekitar pukul 07.30. Perjalanan naik mobil lebih dari 1,5 jam kami tempuh, ke arah selatan Pau. Tepatnya ke kawasan wisata ski di Peyragudes, masih di Pegunungan Pyrenees.
Untuk kali pertama dalam sejarah, kawasan ski itu dijadikan lokasi finis Tour de France. Namun, jalur menuju ke sana, tanjakan bernama Col de Peyresourde, sudah 61 kali dilintasi. Tahun ini penyelenggara Le Tour memperpanjang beberapa kilometer garis finisnya, berakhir di Peyragudes.
Seharusnya, kami berhenti naik van sebelum tanjakan dimulai. Lalu, menurunkan sepeda dan kembali climbing ke puncak. Namun, jadwal hari itu dimodifikasi sedikit. Dua van yang mengangkut rombongan kami naik lebih ke atas sedikit.
Alasan utamanya bukan untuk memberikan keringanan bagi badan kami yang sudah lelah. Melainkan, untuk memastikan kami semua bisa mencapai puncak sebelum pukul 13.00. Sebab, saat itulah seluruh jalan akan ditutup polisi, persiapan menyambut kedatangan peleton Tour de France.
“Kalian harus mendaki secepat mungkin, jangan terlalu banyak berhenti. Dan kalau terlihat terlalu lambat, kami akan langsung mengangkut sepeda kalian ke atas van. Kita benar-benar tidak boleh terlambat sampai di puncak,” kata Francois Bernard, salah satu pemandu kami, saat brifing sebelum bersepeda.
Jarak dari tempat kami mulai ke puncak sebenarnya sangat pendek. Hanya sekitar 9 kilometer. Tapi, semuanya climbing berat. Col de Peyresourde termasuk category 1 (terberat kedua setelah hors categorie) dengan ketinggian 1.603 meter. Tingkat kecuraman 7 sampai 9 persen kami hadapi sepanjang jalan.
Seberapa berat 9 kilometer itu” Ketika kami sampai di atas, waktu hampir satu jam telah berlalu. Bayangkan, harus sabar merambat ke atas dengan kecepatan tak sampai 10 km/jam!
Selain karena kebanyakan di antara kami sudah “habis”, jalanan ke atas juga bisa dibilang macet. Para fans berebut menuju puncak sebelum pukul 13.00. Baik itu naik mobil, bersepeda, maupun jalan kaki. Pada suatu titik, bahkan sempat terjadi kebuntuan ketika arus benar-benar superpadat.
Serunya, banyak pula fans yang sudah bersiap menyambut para pembalap Tour de France di sisi jalan. Dengan berbagai atribut dan pesan dukungan. Beberapa orang tampak mengecat jalan, menuliskan pesan untuk pembalap favorit masing-masing.
Serunya lagi, rombongan kami kompak memakai jersey merah putih bertulisan “INDONESIA”. Jadi, di sepanjang jalan, para fans itu berteriak-teriak menyemangati kami. “Allez! Allez! Allez Indonesia!” Begitu teriak mereka.
Ada pula yang menepuk bahu kami untuk menyemangati. Mungkin karena melihat beberapa di antara kami punya wajah dengan ekspresi supersengsara!
Untung, hawa termasuk dingin. Rata-rata hanya 16 derajat Celsius. Kabut juga menyelimuti kawasan pegunungan itu, sering kami tak bisa melihat jauh ke depan (atas) atau ke belakang. Untung juga, tidak hujan. Ketika kami masih naik van, hujan sempat turun.
Akhirnya, rute pendek itu berakhir sekitar 1 kilometer dari finis di Peyragudes. Memang itu batas jalan yang boleh dipakai sebelum diblokade polisi. Di sanalah kawasan parkir untuk kendaraan berstiker khusus (kendaraan umum sudah harus berhenti di bawah). Di sana pula stan-stan merchandise kembali menyambut.
Setelah foto-foto bareng, semua sepeda dinaikkan ke atas van dan kami makan siang gaya piknik lagi. Semua sudah ganti baju dengan kaus merah “INDONESIA”.
Selama di Prancis, rombongan kami memang terus menarik perhatian. Khususnya di mata pihak-pihak yang juga mengikuti etape-etape Tour de France 2012. Kami selalu kompak pakai seragam.
Dan saat makan siang itu, salah satu anggota kami, Tjaeyahdy Oeitomo, mendapat kiriman pesan dari teman di Indonesia. Katanya, ada foto kami di salah satu situs sepeda paling populer, Velonews.
Dengan cepat, kami mencoba membuka internet di handphone. Benar saja, di salah satu galeri di situs itu terpampang Tjaeyahdy dan Hengky “Dming” Kantono mengenakan jersey batik. Foto diambil waktu kami menonton start etape 16 di pusat Kota Pau.
Pukul 14.00, setelah santai-santai, kami berjalan menuju garis finis. Sebenarnya, ada opsi naik bus khusus untuk VIP. Tapi, kami memilih jalan kaki. Toh, hanya 1 kilometer. Juga, sambil jalan, kami bisa menikmati suasana yang heboh dan pemandangan yang begitu indah.
Sebuah layar LED raksasa tampak sudah terpasang di salah satu sisi bukit. Dengan begitu, ribuan penggemar bisa menonton siaran langsung Tour de France saat para pembalap berlomba menuju Peyragudes.
Hari itu kami masuk rombongan elite. Barisan VIP yang akan menonton dari salah satu “bus VIP” yang diparkir di sisi garis finis. Total hanya ada tiga “bus” untuk VIP. Milik kami bernama Izoard Bus.
Tempat kami menonton itu memang sebuah bus. Tapi, bukan bus biasa. Sama persis dengan “motorhome” yang digunakan tim-tim Formula 1 untuk bermarkas di sirkuit-sirkuit Eropa.
Ketika diparkir, “bus” itu langsung berubah ala Transformer menjadi bangunan VIP yang komplet. Jadi dua tingkat. Di atas terbuka untuk menonton jalur akhir menuju finis. Di bawah jadi bar tempat kami bisa menikmati minuman dan snack. Di atas dan bawah sama-sama ada televisi tempat kami bisa mengikuti perkembangan lomba hari itu.
Di pelatarannya, yang menghadap ke jalur lomba, ditata beberapa meja, sebuah bar, dan sebuah layar televisi. Makanan ringan dan minuman di kawasan itu tidak ada batasannya.
Dasar sudah capek, fasilitas VIP itu tidak terlalu terasa bagi kami. Ada yang tidur selonjoran di lantai atas, pojok lantai bawah, meja depan, dan lain-lain. Ketika melihat ada bule berbaring di lantai bawah depan televisi, saya ikut-ikutan. Eh, ternyata langsung “diobrak” penjaga. Kami pun ketawa-ketiwi.
“Kita ini sedang menonton lomba paling bergengsi di dunia. Dapat fasilitas paling mewah. Malah tidur-tiduran di lantai. Ha ha ha,” komentar salah satu peserta.
Sekitar pukul 17.15, para pembalap mulai mencapai garis finis. Alejandro Valverde (Movistar) finis pertama. Diikuti pasangan Sky Procycling, Chris Froome dan Bradley Wiggins. Baru kemudian yang lain menyusul.
Tak lama setelah finis serta menunaikan tugas-tugas wawancara dan seremoni, para pembalap langsung menuju kawasan parkir bus tim. Tidak lama, tak sampai sejam, semua sudah pergi dari lokasi finis.
Para penonton pun mulai beranjak meninggalkan lokasi. Kawasan VIP kami pun mulai dikemasi. Saya melihat ke arah bukit seberang, layar LED raksasa sudah tidak ada lagi. Layar itu terpasang sedemikian rupa di atas sebuah trailer. Dan langsung melipat ke bawah ketika tidak lagi dibutuhkan, juga trailernya bisa langsung berangkat pergi.
Melihat ke arah finis, podium juga sudah tidak ada! Semuanya serbaportabel. Padahal, jam baru menunjukkan pukul 18.30, hanya 1 jam 15 menit setelah Valverde melintasi garis finis! “Hanya dalam dua jam, semua sudah harus dibersihkan,” jelas Francois Bernard.
Bisa dibayangkan betapa macetnya jalan turun dari Peyragudes. Bus-bus tim, bus-bus personel, mobil-mobil perlengkapan, dan lain-lain antre menuruni gunung. Bercampur aduk dengan para penggemar.
Kami butuh sekitar dua jam untuk kembali ke Pau. Setelah makan malam, kami balik di hotel sekitar pukul 22.30. Semua langsung menuju kamar masing-masing dan tidurrrrr!.
Semua juga bisa tidur dengan tenang. Sebab, besoknya, Jumat (20/7), kami baru check out dari hotel pukul 10.30. Kami akan lanjut mengikuti Tour de France 2012 ke kota selanjutnya. Akhirnya, istirahat dulu, tidak bersepeda!. (azrul ananda-bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.