Gadis Cantik Dijual ke Korea

SERANG, SNOL Seorang gadis asal Pandeglang nyaris menjadi korban trafficking (perdagangan manusia) di Korea Selatan. Korban berhasil diselamatkan setelah sebelumnya dicekoki soju, minuman keras khas Korea di hari pertama bekerja. Kini dara berwajah manis itu telah kembali ke pangkuan orangtuanya, setelah 20 hari berada dalam kegamangan.
Diperoleh keterangan, korban sebut saja bernama Wati (20), tergiur bekerja di Negeri Ginseng itu setelah ia berkenalan dengan seseorang yang mengaku kameraman televisi terkemuka di tanah air. Pria berinisial ID yang selanjutnya membawanya berkenalan dengan seorang Agency di Ciracas, Jakarta Timur, pada Januari 2012 silam. Pada Agency itu, ia kembali dikenalkan dengan seorang wanita berinisial DN, yang selanjutnya membawanya ke sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja khusus hiburan yakni PT Kamajaya Divasindo, yang terletak di Jakarta Timur.
Sejak pertemuan awal tahun ini, korban tak langsung memutuskan untuk berangkat. Niatannya bekerja di luar negeri baru disetujui pada April 2012, setelah mendapat persetujuan orangtua atau  setelah kedua orangtua korban membaca isi kontrak kerja anaknya tersebut. Diantaranya, bekerja sebagai penyanyi dan menerima gaji sebesar Rp 4 juta per bulan bersih setelah dipotong macam-macam, dengan kontrak kerja dua tahun.
Nahas, setibanya di Kawasan Degu, Korea Selatan di hari pertama kerja, pada Senin (2/7) lalu, Wati langsung dicekoki minuman keras. Tak hanya itu, dia pun mendapat perlakuan kasar dari para tamu tempatnya bekerja.
Agus Setiawan, dari Tim Pengacara Muslim (TPM) Provinsi Banten, mengaku mendapat pengaduan dari orang tua korban satu hari setelah anaknya berada di Negeri Ginseng tersebut. Anaknya berhasil menghubungi orang tuanya, dan mengadukan nasibnya yang bekerja tidak sesuai kontrak. “Di hari pertama bekerja, korban dipaksa meminum minuman keras, sampai akhirnya shock,” jelas Agus, saat menggelar temu wartawan, Minggu (22/7) di Kantor Pengacara Asrek.
Dikatakan Agus, korban berhasil dipulangkan setelah ia melakukan koordinasi dengan TPM Indonesia dan menghubungi Jaringan Komunitas Al-Ikhlas di Korea. Setelah empat hari berada di Korea, korban pun akhirnya berhasil dievakuasi ke KBRI Korea Selatan.
“Ini kita lakukan sangat cepat, karena khawatir akan menjadi korban trafficking bila lambat sehari saja dalam penanganannya. Setelah mendapat pengaduan, kita langsung koordinasi. Dan selanjutnya kita menghubungi Komunitas Jaringan Muslim Al-Ikhlas di Korea. Jaringan ini konsen mengurus para TKI yang bekerja tidak sesuai kontrak,” jelas Agus.
Kembali dijelaskan Agus, untuk bisa memulangkan korban tidaklah mudah. Di hari kedua bekerja, korban sempat shock dan nyaris hilang kontak. Namun akhirnya pada hari ketiga, korban kembali bisa berkonumikasi. Akhirnya Jaringan Komunitas Muslim Al-Ikhlas meminta korban kembali bekerja, dan pura-pura pingsan saat bekerja. Upaya itu ternyata berhasil. Korban diselamatkan ketika berada di sebuah rumah sakit.
“Selanjutnya korban dievakuasi ke KBRI dan berhasil dipulangkan,” jelasnya, seraya mengatakan kasus itu sudah dilaporkannya ke Polda Banten, untuk ditindak lanjuti. Namun, hingga kemarin belum ada perkembangan penyidikannya.
Wajah Wati, hingga kemarin masih diselimuti kesedihan. Kendati ia merasa bersyukur bisa pulang selamat dari ancaman yang menakutkan itu, Wati yang didampingi ibunya kemarin, mengaku nekat bekerja di Korea karena diiming-imingi akan diorbitkan menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia merasa percaya kepada seorang kameraman televisi swasta nasional yang menjanjikan pekerjaan itu. Bahkan ia pun sempat mengikuti audisi, hingga ia pun sempat menjalani shooting pengambilan gambar yang dilakukan di rumahnya di Pandeglang. Namun ternyata, semua itu hanyalah tipu muslihat yang menjebaknya. (bagas/dam/cr-1/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.