Aspura, Biayai Pendidikan 5 Anaknya dari Timun

Buah timun suri tidaklah asing lagi bagi Aspura (73). Begitu juga dengan jenis timun lainnya. Pasalnya sudah 40 tahun kakek renta ini menjadi petani buah yang laris manis saat Ramadhan tiba. Keuntungan dari hasil penjualan, dia alokasikan untuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Di daerah Kecamatan Pinang Kota Tangerang, masih banyak tanah garapan yang dikelola warga untuk berkebun. Tidak terkecuali yang dilakukan Aspura, warga asli Pinang yang sudah mengelola tanah milik orang untuk ditanaminya timun suri dan buah timun lainnya di luar Ramadhan.
Puluhan tahun kakek renta ini memanen timun suri, membuatnya akrab dengan buah yang berstruktur legit ini. Seperti saat Satelit News datang ke kebun garapanya, tampak Aspura tengah melayani seorang pembeli yang datang langsung ke hamparan timun suri seluas dua ribu meter persegi itu.
“Pilih saja mau yang mana bu, semua matang langsung dari pohonnya. Silahkan pilih, berbagai ukuran hanya Rp 5 ribu saja,” tawar Aspura layaknya seorang penjual yang mengobral barang dagangannya.
Walaupun usia renta, semangat menawari timun suri kesayangannya tidaklah kendur. Sehingga si pembeli mau membeli lima buah timun suri seberat masing-masing satu kilogram. Uang Rp 25 ribu langsung masuk ke saku kemeja lusuh yang dipakainya.
Sudah 40 tahun Aspura menempati kebun yang berada di pinggir jalan tol Karang Tengah-Jakarta itu. Kakek enam orang cucu itu mengaku, tidak pernah sekalipun dia mencabut buah dari tangkai sebelum matang.
“Harus jatuh sendiri dari tangkainya, baru bisa diambil. Itu tandanya sudah matang,” ungkap Aspura, sembari memperlihatkan timun suri yang sudah matang.
Bayangkan, selama bulan Ramadhan, dia mendapat keuntungan hingga Rp 3 juta dari hasil panennya. Kini, Aspura hanya menggunakan hasil panen untuk jajan cucunya saja.
Dulu, waktu kelima anaknya masih sekolah, Aspura menggunakan uang hasil panen untuk menyekolahkan mereka. “Alhamdulillah sekarang anak saya ada yang menjadi guru, kepala sekolah, dan pegawai swasta, saya sangat bersyukur,” ungkap Aspura, tanpa terasa dia mengeluarkan air mata disudut matanya yang menua.
Tiap pagi, Aspura percaya, buah-buah kesayangannya ini akan banyak yang matang dipohon dan akan jatuh sendiri ketanah. Namun tidak akan sebanyak diperkirakannya, sering Aspura menemui buah kesayangannya itu menyusut dipagi hari. Iseng menyelidiki di malam hari, ternyata dia mendapati orang tidak bertanggung jawab mencuri timun surinya dengan membawa berkarung-karung. “Apalah daya saya, mau bawa gagang sapu pun kalau tenaga ini kalah, saya malah takut karena mereka bawa golok,” ungkapnya pasrah. Walaupun demikian, Aspura tetap bersyukur dengan hasil yang didapat.(pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.