Demo Tolak Galian Tanah Nyaris Ricuh

RAJEG,SNOL Aktivitas galian tanah terus menuai protes. Puluhan warga Kampung Jungkel, Desa Tanjakan Mekar Kecamatan Rajeg, menggelar aksi demo di lokasi penambangan di wilayah itu, Selasa (24/7). Nyaris terjadi bentrok antara warga yang kontra dengan yang pro adanya penambangan.
Sekitar pukul 14.00 Wib puluhan warga mendatangi lokasi galian dan langsung minta aktivitas galian berhenti. Saat itu ada beberapa truk dan beko yang sedang mengeruk tanah. Namun, sejumlah warga yang pro terhadap keberadaan galian itu menolak permintaan mereka. Kedua kubu warga pun adu argumentasi. Perwakilan pengelola galian kemudian menemui warga untuk memberikan penjelasan.
Aceng (35) salahsatu warga kepada wartawan menilai, aktivitas galian di sekitar lokasi tersebut merusak lingkungan. Selain menimbulkan polusi udara, tonase truk tanah juga terlampau besar. Sehingga dikhawatirkan bisa merusak jalan. Jika kondisi hujan aktivitas galian ini juga bisa membuat banjir karena lokasi galian menjadi lebih rendah.
“Kami keberatan dengan adanya aktivitas galian ini. Ini bisa merusak lingkungan. Polusi dari aktivitas galian ini juga bisa merugikan masyarakat, karena banyak debu serta dampak galian musim hujan akan menimbulkan banjir,” keluhnya kepada wartawan, kemarin.
Warga lainnya yang enggan disebutkan namanya mengaku, aktivitas galian itu sebetulnya hanya untuk membuat lahan lebih rendah dari sekitarnya. Sehingga bisa menampung air hujan, karena lahan yang ada sangat tandus dan sulit menampung air. “Lahannya sulit digunakan untuk lahan pertanian. Nah, agar bisa digenangi air maka harus dibuat cekungan. Rencananya akan ditanami padi,” kata dia.
Endang, perwakilan proyek penggalian tanah mengatakan, penggalian tanah tersebut sudah ada kesepakatan antara pemilik dengan pihak proyek. Lahan yang dikeruk kata dia sekitar 1000 meter lebih dengan kedalaman sekitar satu meter lebih. “Kami hanya membeli, karena pemilik lahan menjual untuk pengerukan. Rencananya digunakan untuk menampung air untuk persawahan,” ucapnya.
Jaro Inan menambahkan, lahan tersebut sulit untuk digunakan bercocok tanam. Lahan itu sebagai sawah tadah hujan sulit menampung air dan digali lebih rendah dan mudah untuk mendapatkan air. “Kami tidak menggali terlalu dalam. Hanya agar kondisi tanah mudah mendapatkan air, karena selama ini sulit untuk mendapatkan air. Apalagi pada saat musim kemarau seperti ini,” tukasnya. (fajar aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.