Pedagang Tahu-Tempe Disweeping

TANGERANG, SNOL Untuk memastikan tidak ada penjaja tahu-tempe berdagang hingga Jumat (27/7) mendatang, para perajin tahu-tempe di Kota Tangerang melakukan aksi sweeping di semua pasar di Kota Akhlakul Karimah tersebut. Sweeping ini merupakan bagian dari aksi mogok produksi tahu-tempe karena tinginya harga kedelai yang sudah menyentuh angka Rp 9.000/kilogram.
“Sejak semalam sampai pagi kami gelar aksi sweeping. Karena ternyata masih ada perajin yang nekat berproduksi untuk dijual. Padahal, gerakan mogok produsi ini kami lakukan semata-mata agar ada perhatian pemerintah atas derita yang kami rasakan,” ucap Kurdi, perajin tempe di Jalan Irigasi Gang Jambu, Cipondoh, Rabu (25/7).
Kurdi yang saat ditemui sudah tidak lagi memproduksi tahu-tempe dan hanya melakukan aktifitas nongkrong dengan empat rekan perajin lainnya, mengaku gusar terhadap adanya perajin lain yang masih berproduksi dan menjual hasil olahan kacang kedele itu di pasaran.
“Kami sweeping untuk menjaga kekompakan saja. Karena instruksi dari organisasi adalah aksi mogok produksi total selama tiga hari, Rabu hingga Jumat,” ucap Kurdi.
Sementara Tono, pengerajian lainnya menyatakan, sejak Selasa malam hingga Rabu dini hari mereka sudah mendatangi perajin tahu, yang letaknya tidak jauh dari sentra tempe di Jalan Irigasi Gang Jambu. Dalam aksi sweeping itu, ia mengambil semua tahu yang diproduksi, tujuannya supaya dia tidak dijual pada saat aksi mogok.
“Selain ke sentra pengrajin, kami juga sweeping ke Pasar Anyar dan pasar-pasar lainnya. Teman-teman dibagi tim untuk memastikan tidak ada penjaja tahu-tempe di pasar,” ujar Tono.
Selain melakukan sweeping, pengurus asosiasi pengusaha tahu-tempe juga rencananya akan mengadu ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera melakukan swasembada kedelai. Hal itu penting dilakukan, agar kedelai tidak lagi langka dan didominasi pemasarannya oleh negara tetangga Malaysia.
“Kalau pengusaha tahu-tempe tergantung harga yang ditentukan Malaysia, harusnya pemerintah malu. Kini saatnya swasembada kedelai dilakukan, karena kami sudah mendesaknya sejak tahun 2007 lalu, saat harga kedelai mulai merangkak naik,” singkatnya.

Masih Jualan Tahu Sisa
Berbeda dengan kenyataan, meskipun ultimatum mogok produksi tahu-tempe massal dan sweeping sudah dilakukan, di Pasar Anyar masih ada penjaja tahu-tempe yang melakukan penjualan. Seperti yang dilakukan dua pedagang, Adit dan Hasan.
“Kami sudah tahu adanya aksi mogok, yang saya jual ini hanya sisa tahu-tempe kemarin, sayang kalau tidak dijual, masih banyak dan masih ada yang cari,” kata Adit.
Menurut Adit dan Hasan,  penjualan komoditas tahu-tempe sepi pada Selasa (24/7) lalu, sehingga menyisakan stok barang yang cukup banyak. “Sayang kalau tak dijual, bisa rugi besar. Seperti tahu cina masih tersisa 70 potong, dan tahu kuning 200 potong. Makanya, yang sisa ini saja yang saya jual, sedangkan produsi baru tidak ada kiriman,” ucap Adit.
Sementara Hasan mengatakan, meski saat ini saat komoditas tahu-tempe sedang sedikit, dia tak berani memanfaatkan momentum dengan menaikkan harga. Misalnya tahu cina tetap dijual Rp 2.500/potong, tahu kuning Rp 5.000/kantong (10 potong), dan tempe. Rp 5.000/potong.
“Ini barang sisa kemarin mas. Kalau tak percaya lihat saja barang, ini tahu-tempe kemarin. Warna tempe sudah agak hitam, dan tahu airnya sudah mengental. Itu tanda sudah menginap. Kalau baru airnya encer, makanya tidak diambil saat ada sweeping,” jelasnya.
Sementara itu, pantauan di Pasar Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, semua penjual tahu-tempe kompak tidak menjual dagangannya. “Kompak semua sampai Jumat nanti, kalaupun ada yang coba-coba berjualan sudah kami sweeping dari malam sebelumnya,” ujar Junaidi di lapaknya kemarin. (pane/pramita/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.