Dokter: Raka Karno Alami Gangguan Kejiwaan

TANGERANG, SNOL Raka Widiatama (21), anak angkat Wakil Gubernur Banten Rano Karno mengalami gangguan kejiwaan bipolar. Demikian pernyataan dr Erwin Kusuma, dokter spesialis jiwa, saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus narkoba yang melibatkan Raka Widiatama dan Karina Aditya di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Selasa (31/7).
“Pada tahun 2010 Raka pernah berobat pada saya. Dia diantar oleh istrinya. Dari hasil pemeriksaan, Raka menderita sakit Bipolar, yakni seseorang yang memiliki kejiwaan yang tidak stabil. Kadang marah, kadang sedih. Penyebab gangguan itu, Raka kerap diejek dan perlakuan kasar oleh teman-temannya sejak kecil,” ucapnya.
Karena itu, kata Erwin, dirinya memberikan obat plus terapi kepada Raka. “Harusnya pengobatan dilakukan secara rutin, tapi saya hanya mengobatinya hanya tiga kali. Sebab, tahu-tahu dia menghilang begitu saja dan tidak pernah datang lagi ke saya meski saya memintanya datang,” ucapnya.
Kelainan jiwa yang dialami Raka juga dikuatkan Parmo alias Robert, sopir pribadi Raka. Salah satu yang meyakinkan Parmo, pernah suatu kali, tanpa ada sebab Raka marah, dan memukul pintu mobil. “Saya sampai takut. Kenapa dia begitu, kaya orang tidak waras,” katanya saat bersaksi di persidangan yang sama.
Gangguan kejiwaan Raka juga dibenarkan oleh dr Sitti Jeus Kadara, Staf Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN). Menurut saksi ketiga ini, berdasarkan hasil interviewnya dengan Raka, terdakwa waktu kecil sering mendapat perlakuan kasar dan ejekan dari teman-temannya. “Kata teman-temannya, Raka adalah anak angkat Rano Karno. Hal itu membekas di hatinya, dan membuat emosinya menjadi labil,” ucap Sitti.
Lantaran itu, setelah menjalani pemeriksaan di BNN, kepada Siti Raka mengaku, sudah dua tahun lamanya Raka menjadi pecandu pil ekstasi untuk menenangkan diri. “Pengakuannya kepada kami, pil ekstasi itu digunakan untuk menenangkan dirinya. Karena dia sering labil dalam sehari-hari,” singkatnya.
Namun demikian, dalam persidangan yang dipimpin Dehel K Sandan terungkap adanya keganjilan berkas pekara. Yakni surat rekomendasi rehabilitasi Raka yang dilakukan BNN. Sampai-sampai, hakim menanyakan mana rekomendasi yang benar, karena ada beberapa versi. “Yang benar mana ini? Surat rekomendasi dari kepolisian tanggal 21 Maret, sementara dari anda 28 Maret, tapi pimpinan anda tanggal 2 Maret?” tanya Dehel kepada Sitti.
Ditanya seperti itu, Sitti tampak gugup dan bingung. Namun Sitti tetap keukeuh minta agar Raka direhabilitasi sebagai pecandu narkoba. Sitti mengakui, setelah Raka ditangkap petugas polisi Polrestro Bandara Soekarno-Hatta pada  6 Maret 2012, keluarga Raka datang ke BNN dan meminta surat rekomendasi rehabilitasi. “Kesimpulan kami, Raka harus direhabilitasi,” pintanya.
Raka Widyarma bersama teman wanitanya, Karina, ditangkap tim buser Polres Bandara Soekarno-Hatta Tangerang pada tanggal 6 Maret 2012. Raka ditangkap karena kepemilikan lima butir ekstasi yang dipesannya melalui situs online dari Malaysia. Adapun penangkapan Raka, dilakukan di Jalan Perkici Raya EB No.42, Bintaro Jaya, Sektor 5, Tangerang Selatan. (pane/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.