Sempat Diculik dan Disiksa Preman Cukong Kayu Liar

Ambrosius Ruwindrijarto, Peraih Ramon Magsaysay Award 2012
Perjuangan tak kenal lelah Ambrosius Ruwindrijarto berbuah manis. Kerja kerasnya sebagai aktivis lingkungan membuatnya menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan sekelas Nobel untuk tingkat Asia.
Lagu Always milik band rock kondang Bon Jovi membahana di Kedai Telapak, Bogor, Jawa Barat, tadi malam. Seorang lelaki berkacamata tampak asyik bercengkerama dengan kawan-kawannya di salah satu sudut kedai. Dialah Ambrosius Ruwindrijarto. Dia adalah pionir Perkumpulan Telapak yang berkedudukan di Bogor.
Sosok bersahaja itu tengah menjadi bahan pembicaraan di kalangan koleganya sesama aktivis lingkungan karena baru saja diumumkan sebagai penerima Ramon Magsaysay Award 2012 untuk kategori Emergent Leader. Lelaki yang biasa disapa Ruwi itu mengatakan sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi salah seorang di antara enam penerima penghargaan yang juga kerap disebut sebagai Nobel tingkat Asia itu.
“Saya sedang nyetir saat ponsel saya berbunyi. Saat saya angkat, yang telepon ternyata Presiden RMAF (Ramon Magsaysay Award Foundation) Carmencita Abella. Tentu saja saya kaget dan tidak percaya,” urai Ruwi. “Saya sempat berpikir itu penipuan lewat telepon. Tapi, tidak lama kemudian datang pengumuman resmi via e-mail,” sambungnya, lantas tertawa.
Lelaki kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 14 November 1971, itu bergabung dengan lima peraih penghargaan Ramon Magsaysay 2012 lainnya. Yaitu, Chen Shu-chu dari Taiwan, Romulo Davide (Filipina), Kulandei Francis (India), Syeda Rizwana Hasan (Bangladesh), dan Yang Saing Koma (Kamboja). Ruwi pun resmi masuk klub penerima penghargaan Ramon Magsaysay dari Indonesia. Dia menyusul jejak beberapa tokoh, antara lain mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), penulis Pramoedya Ananta Toer, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.
Pada 25 Agustus mendatang dia berangkat ke Filipina. Selanjutnya, prosesi penyerahan award dilakukan di Philippine Convention Center (PCC), Manila, pada 31 Agustus.
Ruwi merasa belum layak menerima penghormatan bergengsi tersebut. “Apa yang saya lakukan sebenarnya belum apa-apa. Sebab, belum banyak orang yang bergerak demi kelestarian lingkungan,” katanya. “Penghargaan itu saya maknai sebagai tambahan energi untuk bekerja lebih keras demi mewujudkan kelestarian lingkungan hidup dan ekonomi berbasis kerakyatan,” sambung Ruwi.
Bagi Ruwi, bersentuhan dengan alam bebas bukan barang baru. Dia melakukannya sejak berstatus mahasiswa di Fakultas Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kala itu dia kerap melanglang ke alam bebas bersama Lawalata, unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampusnya. Setelah lulus pada 1997, dia membentuk Telapak bersama empat kawannya.
Motivasi awalnya adalah ingin tetap bekerja di bidang lingkungan hidup. Garis merah gerakan Ruwi dkk adalah tujuan mewujudkan kelestarian alam serta membangun ekonomi berbasis kerakyatan bagi nelayan, petani, dan masyarakat adat. Ruwi menjadi ketua organisasi itu pada 2006-2012.
Perkumpulan Telapak terus berkembang. Organisasi tersebut kini beranggota 240 orang dari beragam latar belakang profesi. Lewat organisasi itu pula, Ruwi berjuang membongkar kejahatan lingkungan yang marak terjadi di tanah air. Impian mereka adalah membuat sistem tandingan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) serta mengembalikan kedaulatan petani, nelayan, dan masyarakat adat.
Karena latar belakang anggota yang bervariasi, kegiatan Telapak sangat variatif. Yang concern di bidang perikanan, misalnya, membuat program ramah lingkungan dan menjauhi destructive fishing. Misalnya, yang dulu menghancurkan karang kini justru membudidayakan karang.
Di bidang kehutanan, mereka membentuk koperasi pengelola hutan. Ruwi mengatakan, sekarang saatnya masyarakat adat dan petani hutan mengelola lahan sendiri. Salah satu program yang kini digarap Ruwi adalah pendampingan masyarakat adat Dayak Benuaq di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Suami Cicila Debby itu menjelaskan, masyarakat Dayak Benuaq terusir dari hutan saat zaman kerajaan dan era kolonial Belanda. Mereka kembali menghuni hutan itu setelah Indonesia merdeka. Namun, belakangan mereka kembali terusir setelah masuknya sejumlah korporasi yang diberi pemerintah konsesi untuk mengelola tanah adat melalui hak pengelolaan hutan (HPH).
“Kami menemani mereka untuk berjuang mendapatkan hak atas tanah adat mereka. Sebagai pemilik tanah secara historis, mereka punya hak untuk tidak menjual tanah mereka,” papar Ruwi.
Telapak mengapresiasi langkah pemerintah dalam pengelolaan hutan. Tapi, hasilnya masih parsial. Dibutuhkan solusi holistis yang menguntungkan semua pihak dalam menyelesaikan masalah yang disebutnya sebagai sebuah bencana ekologi.
Menurut dia, salah seorang birokrat di pemerintah revolusioner yang punya ide-ide cemerlang adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ruwi menyimpan keinginan untuk berjumpa dengan Dahlan dan berbagi ide.
Berhadapan dengan korporasi-korporasi besar tentu mengundang risiko. Intimidasi, penculikan, sampai penyiksaan pernah dia alami. Tapi, semangat Ruwi tidak kendur. Dua belas tahun lalu dia terlibat konfrontasi dengan cukong-cukong kayu illegal logging di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dia juga diculik dan disiksa oleh preman suruhan para juragan itu.
Namun, Ruwi enggan menjelaskan lebih jauh tentang peristiwa tersebut. “Mungkin itu karena ketidaktahuan mereka saja. Padahal, sebenarnya apa yang coba kami raih itu membawa kebaikan bagi semua. Bagi pihak korporasi juga,” terangnya.
Ruwi beruntung karena mendapat sokongan penuh dari sang istri. Ruwi menuturkan, dalam sebulan, dirinya bisa sampai tiga minggu traveling dan hanya menyisakan sepekan di rumah. Dia berkeliling tak hanya untuk melakukan pendampingan, tapi sekaligus memantau unit-unit usaha Telapak yang menjadi penopang keuangan organisasi tersebut. Antara lain; Koperasi Hutan Jaya Lestari di Konawe, Sulawesi Tenggara; dan Koperasi Giri Mukti Wana Tirta di Lampung Tengah yang menghasilkan furnitur ramah lingkungan.
Kedai di Bogor adalah salah satu unit usaha Telapak. Selain itu, mereka menerima dana dari sejumlah lembaga donor. Jika luang, Ruwi memanfaatkan waktunya untuk Maringi Rejeki, putri semata wayangnya yang berumur lima tahun. “Saya sudah mengenalkan Ling-Ling (panggilan anaknya, Red) dengan alam. Sejak umur enam bulan, dia saya ajak ke alam bebas,” ucap dia. (dinarsa/c11/ca)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.