Awas, Daging Berformalin Marak Beredar

SERANG, SNOLDinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten, menemukan produk peternakan yang menggunakan formalin atau menggunakan zat berbahaya diperjual belikan di sejumlah pasar tradisional. Antara lain di Pasar Royal, Pasar Babakan, Pasar Anyar dan Pasar Ramadhani Kota Tangerang. Daging yang mengandung formalin juga positif ditemukan di Pasar Begog Pontang dan Pasar Ciruas Kabupaten Serang.
“Temuan daging yang menggunakan formalin itu umumnya pada usus dan leher ayam. Dan itu bagian dari limbah industri peternakan besar, tapi pedagang menjual dipasaran dengan menggunakan formalin agar bagian dari daging itu tidak mudah membusuk,” kata Kabid Produksi Peternakan Distanak Provinsi Banten, Asep Mulya Hidayat dalam keterangan pers Jumat (3/8).
Hasil monitoring di enam kabupaten/kota lain, yakni Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang, dan Kota Tangsel belum ditemukan adanya penyimpangan terhadap keamanan produk hewan seperti daging sapi, daging kerbau, daging kambing, daging ayam dan  telur.
“Meski sempat ada beredar isu ada penjual daging menggunakan formalin, tapi hasil monitoring yang kami lakukan pedagang tidak ada yang menjual daging menganggung zat berbahaya itu. Namun, semua harus diwaspadai,” ujarnya.
Mengantisipasi adanya penyakit pada ternak, serta antisipasi produksi daging di pasaran yang dikhawatirkan menggunakan formalin, Distanak Provinsi Banten juga melakukan sidak ke sejumlah pasar dan lokasi tempat peternakan di Banten yang dimulai sejak 19 Juli 2012 hingga 19 Agustus 2012.
“Sidak sudah dilakukan ke sejumlah pasar dan akan dilakukan juga ke sejumlah tempat lain, yaitu di peternakan yang ada di Lebak, sentra penggemukan sapi di Tangerang, pasar-pasar dan Rumah Potong Hewan yang tersebar disejumlah lokasi,” imbuhnya.
Kemudian, lanjut Asep, pada sisi pengawasan hilir, Distanak berkoordinasi dengan BPOM dan Dinas Kesehatan Provinsi Banten untuk mengawasi daging campuran, daging ayam mati kemaren (tiren), daging suntikan dan yang mengguankan formalin.
“Kami juga melakukan koordinasi Badan Karan Tina di Merak dan Bandara Soekarno Hatta untuk mewaspadai pengiriman produksi daging dari luar daerah Banten. Karena daging yang dikirim dari luar daerah Banten kerap ditemukan menggunakan zat berbahaya,” ucapnya.
Kepala Distanak Provinsi Banten, Agus M Tauchid meminta kepada masyarakat untuk mengantisipasi beredarnya daging sapi asal India yang masuk ke pasaran secara ilegal, menyusul jelang lebaran ini permintaan daging di pasaran meningkat “Meski hasil monitoring yang kami lakukan, ditemukan adanya daging sapi asal India. Tapi masyarakat harus waspada beredarnya daging sapi asal India itu,” kata Agus.
Menurut Agus, kendati secara fisik daging sapi asal india sulit dibedakan, namun masyarakat bisa membedakannya dari harga yang jauh lebih murah dari daging sapi biasa. “Daging sapi asal India dilarang masuk ke Indonesia oleh pemerintah karena rawan terjangkit penyakit kuku dan mulut yang bisa menular kepada manusia. Tetapi daging sapi itu bisa masuk secara ilegal ke pasaran dengan harga yang sangat murah dibandingkan rata-rata harga daging sapi biasa Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram,” ujarnya. (eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.