Aggy Tjetje, Ilmuwan dengan 11 Titel Akademis

Usianya sudah 62 tahun, tapi semangat belajarnya tak pernah surut. Padahal, Aggy Tjetje sudah mengantongi 11 titel akademis, mulai S-1 sampai doktor. Baginya dia, belajar itu sampai mati.Tangannya lincah menyusun daun murbei, selada, wortel, dan kacang panjang. Sekerat daging sapi panggang diletakkan di tengahnya. Daun lalu dilipat dan cres… dikunyah dengan nikmat. ”Saya tidak punya pantangan makan daging, sejauh ini sehat-sehat saja,” kata Aggy saat ditemui di restoran Korea Arangku, Kelapa Gading, Rabu lalu (15/8).
Penampilannya segar dan rapi. Dengan tinggi badan 185 cm, dia kelihatan gagah untuk ukuran pria di usianya.
Agar kesehatan tetap terjaga, Aggy mengaku selalu memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsinya. Misalnya, dia menyeimbangkan antara makan daging dan sayur-sayuran. ”Saya sekarang juga sedang menekuni ilmu pengobatan tradisional Tiongkok, jadi rajin minum ramuan herbal,” papar dia.
Ilmu ”tabib” hanyalah satu di antara 30 skill yang dipelajari dan dikuasainya. Aggy mengaku menguasai ilmu montir radio, reparasi televisi, reparasi kulkas, servis AC, gulung dinamo, ilmu bangunan beton bertulang, pengaspalan jalan, instalasi listrik, fotografi, program komputer, hingga manajemen perhotelan.
Dia juga menguasai ilmu tata buku dan hitung dagang serta pertukangan kayu dan besi. Juga ilmu percetakan dan sablon serta pembuatan bahan bangunan. ”Saya bisa membuat batu bata sendiri,” terang dia.
Aggy juga menguasai 30 bahasa asing dan 100 alat musik serta merupakan praktisi 10 jenis bela diri, ahli berkuda, dan jago menembak. Lengkap! ”Ah, saya belum apa-apa. Masih banyak yang lebih hebat jika dibandingkan dengan saya. Anda cuma belum menemukannya saja,” ucap Aggy merendah.
Pada 2005 Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) menganugerahinya sertifikat sebagai pemegang rekor gelar multidisiplin ilmu terbanyak se-Indonesia. ”Saat itu baru delapan gelar, sekarang sudah sebelas, sebentar lagi tambah tiga,” tutur dia.
Tiga gelar yang baru dikejarnya adalah doktor ilmu hukum di Universitas Trisakti, magister administrasi publik di Universitas Terbuka (UT), dan gelar sarjana (S-1) sosiologi, juga di UT.
Sedangkan gelar akademis yang sudah dia raih, antara lain, sarjana kedokteran (SKed) Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Certificat d’Aptitude a l’Administration des Entreprises/CAAE (MBA Prancis) di l’Universite Pierre Mendes de Grenoble, magister manajemen (MM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).
Selain itu, ada magister artium (MA) kajian wilayah Amerika di Fakultas Pascasarjana UI, sarjana filsafat (SS) di Fakultas Sastra UI, sarjana hukum (SH) di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan sarjana ekonomi (SE) di Fakultas Ekonomi UT.
Aggy juga bergelar sarjana administrasi niaga (Drs) di Fakultas Ketataniagaan & Ketatanegaraan Universitas 17-08-1945 (FKK Untag), sarjana ilmu pemerintahan (SIP) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UT, dan sarjana ilmu komunikasi UT serta doktor (S-3) Studi Ilmu Lingkungan UT.
Jadi, namanya jika ditulis lengkap dengan gelar kira-kira begini: Dr Drs Aggy Tjetje SKed SH SS SE SIP MA MM CAAE. ”Disertasi doktor hukumnya sudah saya siapkan, yakni tentang kudeta,” papar dia.
Menurut Aggy, kudeta termasuk delik hukum yang unik. Sebab, yang bisa dihukum hanyalah upaya percobaan kudetanya. ”Sedangkan kudetanya sebagai sebuah tindakan kalau berhasil tidak bisa dihukum,” katanya.
Tentu saja kudeta yang berhasil tidak dihukum. Sebab, rezim yang berkuasa berganti yang mengudeta. ”Ini yang unik dan akan saya jadikan disertasi doktor saya,” ucap dia.
Dengan sederet gelar itu, Aggy sudah menjalani berbagai profesi. Antara lain, guru SMK, direktur krematorium, produser film dengan dua Piala Citra untuk film Kemelut Hidup (1977), direktur berbagai perusahaan, pengacara, ketua berbagai yayasan, dan aktivis belasan koperasi. Sekarang dia memimpin Institut Agama Buddha Nasional dan menjadi ketua umum DPP Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.
Apa resep menjaga kekuatan otak? Aggy mengaku setiap hari selalu membaca buku. ”Kalau ke luar negeri, saya selalu cari buku di toko buku bandara. Saya lihat daftar isi, saya pilih bab yang menarik, saya baca sekilas. Kalau bagus, baru saya beli,” kata pria yang mengaku sudah mengunjungi 100 kota di dunia ini. Di rumahnya, dia punya perpustakaan pribadi dengan koleksi hingga 20 ribu judul buku.
Dia juga selalu menjaga kebugaran tubuh dengan berjalan kaki. ”Saya hindari naik lift atau eskalator. Kalau bisa, naik turun tangga,” tuturnya.
Saat muda, Aggy rutin berlatih berkuda dengan kuda-kuda milik mantan Presiden Soeharto. ”Sekarang sudah jarang berkuda, tapi menembak masih sesekali,” ujar dia sambil memperagakan gerakan menembak.
Pada 1976 dia pernah menjadi wartawan dan kolumnis di harian Merdeka, yang sekarang berganti nama menjadi harian Rakyat Merdeka. Berdasar pengalaman menjadi wartawan itulah, pada 1979 dia menerbitkan harian Lensa Generasi yang berhaluan nasionalis ekstrem.
”Ada beberapa nama yang pernah jadi tim saya. Di antaranya, Christianto Wibisono dan Elman Saragih yang kini menjadi Pemred Metro TV,” jelas dia.
Harian itu kemudian diberedel karena setiap hari menyajikan rubrik Cerita Kosong Hari Ini yang mengolok-olok para pejabat negara kala itu. Misalnya, Dirut Pertamina Ibnu Sutowo dan Menag Alamsjah Ratuperwiranegara. Bahkan, Pangkopkamtib Sudomo pun disindir sebagai kepala bajak laut. Hampir tidak ada pejabat tinggi yang lolos dari olok-olok Aggy dalam rubrik yang diasuhnya itu.
Akibatnya, Menpen Letjen Ali Murtopo kala itu kebakaran jenggot karena dituding sengaja hendak mendiskreditkan para petinggi tersebut. ”Salahnya, kami meletakkan Ali Wahono, adik Ali Murtopo, sebagai ketua yayasan (yang menerbitkan harian itu). Jika tidak, mungkin harian itu masih selamat,” papar dia.
Di antara sekian banyak profesi yang digeluti puluhan tahun, Aggy akhirnya berlabuh pada jabatan rektor Institut Agama Buddha Nasional dan menjadi peracik sekaligus peneliti obat tradisional. Dia kini mempersiapkan pendidikan S-1 pengobatan tradisional untuk menghasilkan pengobat/pengusada (tabib/sinse) di kampus yang dipimpinnya.
Aggy mengklaim diri sebagai orang pertama yang menemukan obat herbal lokal antikanker di Indonesia. Temuan itu mendapat nomor registrasi dari Kementerian Kesehatan pada 2000. ”Saya tak usah sebut merek, nanti dikira iklan,” katanya.
Dia juga mengklaim bahwa ribuan orang telah disembuhkan obat temuannya itu. Mulai penderita asam urat, kolesterol, trigliserida, ureum, kreatinin, stroke, diabetes, malignant hypertension, kista, mioma, kesemutan, nyeri otot sendi, hingga gangguan kesehatan lainnya.
Kini dia sedang membuat obat dari resep para kaisar Tiongkok yang dipelajarinya di Beijing. Obat itu digunakan untuk mencegah pemendekan umur gara-gara pola dan gaya hidup yang keliru sehingga mengakibatkan berbagai penyakit.
”Kalau takdir kita misalnya diberi usia sampai 70 tahun, tapi gara-gara pola makan dan kebiasaan negatif, bisa kurang dari itu,” katanya berfilosofi.
Dia juga sedang berfokus meneliti obat herbal untuk penyakit hepatitis B dan C, penyakit jantung koroner, flu burung dan flu babi, serta HIV/AIDS. Dia rela menyerahkan temuannya untuk negara tanpa imbalan apa pun.
Ketika menemukan obat herbal antikanker 12 tahun lalu, Aggy menyurati Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Wakil Presiden Megawati untuk menyerahkan temuannya itu kepada negara secara cuma-cuma. Tetapi, dia tidak mendapat tanggapan sama sekali dari istana. Begitu pula ketika temuan itu diserahkan kepada Indofarma dan Kimia Farma, niat Aggy tersebut bertepuk sebelah tangan. ”Dibalas pun tidak suratnya. Itulah tata krama BUMN kita di masa lalu,” ujar dia.
Setelah memiliki sebelas gelar dan menunggu tiga titel akademis lagi yang segera diraihnya tahun ini, Aggy masih hendak meneruskan pendidikannya di dua disiplin ilmu. Salah satu impiannya yang belum terwujud adalah menuntut ilmu astronomi dan fisika atom. ”Sesudah dua ilmu itu saya kuasai, saya baru lega sebelum mati nanti,” katanya.
Bagaimana respons keluarga atas segala sepak terjang Aggy? Anak-anaknya maupun istrinya yang sekarang tinggal di luar negeri awalnya ”rewel” setiap Aggy hendak berkuliah lagi. ”Mereka selalu bilang untuk apa lagi, untuk siapa lagi. Tapi, lama-lama mereka maklum,” tegas dia. (ridlwan habib/c11/ari/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.