Kekeringan Trio Tangerang Lebih Panjang

CIPUTAT,SNOL Musim kemarau yang kini tengah melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada umumnya ternyata dirasakan juga oleh Tangerang. Bahkan untuk wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) saat ini dinilai sebagai kemarau yang jauh lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, selain lama, intensitas hujan yang turun pun sangat sedikit.
“Cukup lama, yakni dari bulan Juni lalu dan hampir tidak diguyur hujan, tahun lalu masih mending, ada curah hujan meskipun sedikit,” ungkap Kepala Balai besar meteorology, Klimatologi  dan Geofisika (BMKG) wilayah II Ciputat, Subarjo, kemarin (27/8).
Subarjo mengatakan, musim kemarau tahun ini terjadi karena suhu muka air laut masih rendah sehingga tidak terjadi penguapan air laut yang menyebabkan hujan. “Untuk Tangerang sendiri merata suhunya berkisar 32-34 derajat,” katanya.
Musim kemarau juga disebabkan karena letak matahari saat ini jauh dari wilayah Indoensia. Matahari saat ini ada di wilayah Lintang Utara.
Kemarau panjang ini tidak hanya melanda tiga wilayah Tangerang saja, melainkan hampir 70 persen wilayah di Indonesia dan juga mengalami kekeringan. Seperti yang terjadi di wilayah Kabupaten Tangerang, menurut Subarjo, kekeringan terjadi wilayah kabupaten lebih banyak memiliki lahan tanah yang belum diproduktifkan. “Berbeda dengan selatan yang sudah padat penduduk, jadi tidak begitu terlihat kekeringannya,” kata Subarjo.
Walau demikian, dia memprediksi tidak akan ada bencana kekeringan yang parah. Menurutnya, selama di Bogor sebagai hulu sungai masih diguyur hujan yang intensitasnya sering, sungai yang mengalir di wilayah Tangerang dan sekitarnya, akan tetap terjaga debit airnya. Cuaca panas yang mengakibatkan kekeringan ini, diprediksi akan berlangsung hingga Oktober mendatang.
“Diprediksi bulan September matahari sudah memasuki ekuator, sehingga pada bulan Oktober atau November mendatang cukup untuk menaikkan air laut dan membentuk awan yang menghasilkan hujan,” jelas Subarjo.
Selama menunggu matahari memasuki ekuator atau garis khatulistiwa, Subarjo menghimbau warga Tangerang dan sekitarnya agar tetap menjaga perilaku seperti membuang puntung rokok sembarangan. Akibat perilaku tersebut, terutama pada ladang rumput yang kering, percikan api yang menimbulkan kebakaran akan sangat mungkin terjadi. “Terkadang kebakaran justru dipicu oleh hal-hal yang sepele, sehingga masyarakat harus berhati-hati,” imbuhnya.
Sementara, Akibat kemarau panjang, para petani di Kabupaten Tangerang semakin kesulitan mendapatkan air untuk mengairi pesawahannya. Seperti yang terjadi di Kecamatan Kemiri, para petani di kawasan Desa Lontar, memasang alat penyedot air untuk mengaliri persawahannya yang mengalami kekeringan, dengan menggunakan alat seadanya dan selang sepanjang 25 Km. Sejumlah petani patungan untuk menggunakan alat tersebut guna menyedot air dari kali sekitar sawah yang airnya semakin surut.
Jiran, salah seorang petani mengaku was-was dengan kekeringan kali ini. Pasalnya sawah garapannya sudah kekeringan sejak beberapa pekan lalu. Dia berusaha menyedot air dari kali menggunakan mesin pompa dengan harapan dapat tetap panen dengan hasil yang maksimal. Meski demikian, air kali yang juga mengalami penurunan volume diprediksi tidak akan bertahan lama untuk dapat membantu mengaliri persawahan yang luasnya mencapai 5 hektar lebih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mencatat ada enam wilayah yang masuk dalam kawasan rawan bencana kekeringan, yakni Villa Pamulang, Reni Jaya, Muncul, Serpong, Ciputat dan Bambu Apus.
Walaupun sudah dipetakan, namun hingga kini belum ada satu pun kecamatan yang melapor adanya bencana kekeringan di wilayahnya. “Semoga hal ini menjadi awal yang baik, bahwa di musim kemarau ini Insya Allah tidak ada bencana kekeringan,” ungkap Ketua Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Tangsel, Tomi Patria saat dihubungi, kemarin (27/8).
Meski belum ada laporan kekeringan, namun dia bersama tim tetap akan mengawasi wilayah yang dipetakan. “Sebagai bentuk persiapan saja, takut-takut yang dikhawatirkan terjadi,” tuturnya.(pramita/eky fajrin/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.