Petani Dihantui Ancaman Puso

TIGARAKSA,SNOL Kemarau panjang membuat semakin cemas petani di Kabupaten Tangerang. Ancaman puso atau gagal panen menghantui mereka. Kalangan petani mendesak pemerintah agar memberikan solusi, salah satunya dengan membuat hujan buatan untuk membasahi lahan pesawahan.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Tangerang, Budi mengungkapkan kemarau panjang kali ini menjadi persoalan serius bagi petani. Sejumlah sumber air yakni Sungai Cisadane, Cidurian dan Cimanceri mengalami penurunan debit air. “Bahkan di wilayah ujung atau hulu, ada keluhan para petani sudah tidak mendapatkan air. Ini persoalan serius,” katanya kepada wartawan koran ini, Minggu (2/9).
”Kemarau kali ini hampir menyeluruh. Kami minta pemerintah segera membuat hujan buatan. Sampai saat ini belum ada langkah konkrit dari pemerintah. Mereka hanya bisa mengawasi saja dan mengimbau agar petani tidak menanam padi di saat musim kemarau,” imbuh Budi, kepada wartawan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang, tutur Budi, pada tahun 2009 lalu luas lahan pertanian 57.000 hektar, dan kini luasnya tinggal 47.000 hektar yang produktif. Dari 47.000 luas lahan pertanian, sekitar 37.000 hektar adalah tanaman padi, sedangkan sisanya adalah tanaman hortikultura (sayur-mayur).
“Rencana Pemkab Tangerang untuk menaikkan hasil pertanian dari 6,5 ton/hektar menjadi 10 ton/hektar, seperti diberitakan media beberapa waktu lalu, bisa gagal karena fuso. Langkah strategis dan efektif sudah harus dipikirkan lebih jauh,” ucapnya.
Terpisah, Camat Kronjo Dedi Ruswandi mengatakan, sejumlah desa di kecamatannya dilanda kekeringan parah. Diantaranya Desa Pagedangan Ilir, Muncung, Rampak dan Pasir. Sumber air untuk warga dan pertanian sudah sulit didapat akibat menurunnya debit air di Sungai Cimanceri dan Sungai Cidurian. “Bahkan daerah yang masih ada airnya saja sudah membutuhkan pompanisasi,” keluhnya.
Mirisnya lagi sumber air dari Sungai Cisadane juga sudah tidak bisa dirasakan warga karena saluran irigasinya yang melintas di kecamatan tersebut sudah mengering. Pihaknya juga sudah melakukan rapat koordinasi dengan tim penanggulangan bencana dari Dinas Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Kabupaten Tangerang. “Bantuan air juga sudah dari Perusahaan Daerah Air Minum,” tegasnya. Kondisi ini juga membuat para kelompok tani resah akan ancaman fuso. Sejumlah petani di wilayahnya sudah menggunakan pompa untuk mengaliri air dari irigasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang, Jarnaji mengatakan, pihaknya tengah melakukan pengawasan kekeringan di sejumlah seluruh kecamatan di Kabupaten Tangerang. “Kemarau kali ini memang membuat debit air di Sungai Cisadane, Cimanceri dan Cidurian menurun. Sehingga membuat kebutuhan air bagi padi terganggu, untuk itu kami terus melakukan pengawasan secara intensif, termasuk cara penanganan masalah kekeringan ini,”pungkasnya. (fajar aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.