Bos Pabrik Tower Diadukan ke Disnaker

TIGARAKSA,SNOL Ratusan buruh PT Tehate Putra Tunggal yang berlokasi di Kampung Bulakan RT.09/4 Desa Bitung Jaya Kecamatan Cikupa, Rabu (5/9) mengepung kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Tangerang. Buruh pabrik yang memproduksi tower ini mengadukan manajemen perusahaannya yang tidak memenuhi hak normatif.
Massa buruh PT Tehate Putra Tunggal sudah memenuhi halaman depan kantor Disnaker sejak pagi. Kemudian buruh melakukan orasi menyampaikan aspirasinya. Aksi mendapat penjagaan dari Satpol PP Kabupaten Tangerang dan Polres Kota Tangerang.
Beberapa tuntutan yang disampaikan yakni, ketegasan status sebagai karyawan tetap, penyesuaian upah berdasarkan upah minimum sektoral Rp 1.756.000/bulan, bayar upah karyawan yang diliburkan, klaim kekurangan upah tahun 2010, 2011 dan 2012, bayar THR tahun 2011 dan 2012, berikan Jamsostek paket A dan B, sakit dengan surat keterangan dokter upahnya dibayar dan biaya berobat diganti dan berikan kebebasan berserikat.
“Kami sudah diperlakukan kurang adil oleh perusahaan. 20 tahun kami kerja tapi status kami tidak jelas. Untuk itu masalah ini kami sampaikan ke Disnakertrans. Manajemen harus memenuhi tuntutan kami,” kata Mujiono salahsatu buruh di sela-sela aksi kepada Satelit News, Rabu (5/9).
Ia mengaku sejumlah buruh sempat diliburkan selama dua tahun namun tidak diberikan upah layak. Mirisnya lagi, pekerjaan membuat tower dengan resiko kecelakaan kerja namun tidak diberikan Jamsostek. “Masalah ini kami sampaikan ke Disnakertrans dengan harapan bisa ada tindak lanjut, hingga keputusan sesuai aspirasi kami. Kami sudah melakukan aksi mogok kerja sejak tanggal 28 Agustus kemarin,” tandasnya.
PT Tehate Putra Tunggal merupakan pabrik yang bergerak dibidang metal dan memproduksi tower yang difungsikan untuk seluler dan lainnya. Jumlah karyawan produksinya sekitar 200 orang. “Selama ini kami bekerja dengan sistem mandor dan kedepan kami minta sistem ini dihapus. Kami ingin menuntut kejelasannya” jelasnya.
Yasin, karyawan lainnya juga meminta agar manajemen PT Tehate Putra Tunggal memperhatikan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya. “Jari saya sampai putus akibat kecelakaan kerja sekitar 2008 lalu. Tapi perhatian dari perusahaan sangat minim, kesannya hanya seperti dikasih obat merah,” keluhnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pengawasan Disnakertrans Kabupaten Tangerang, Deni Rohdiani mengatakan bahwa pihaknya belum tahu persis permasalahan yang dihadapi oleh buruh perusahaan tersebut, karena dia baru mendapatkan laporan dan keterangan dari karyawan.
“Sejauh ini kami baru mendapatkan keterangan dari satu pihak, yaitu karyawan. Dan kami akan segera memanggil pihak perusahaan guna dimintai keterangannya. Setelah itu, baru kami bisa menyimpulkan dan bisa mengambil langkah. Terkait tuntutan hak-hak normatif, itu juga sudah menjadi kewenangan kami. Tapi kami juga tidak bisa mengambil langkah, jika hanya mendapatkan keterangan sepihak,” pungkasnya. (fajar aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.