Kerjasama Aetra Dinilai Terlalu Mahal

TANGERANG,SNOL Berbeda dengan sistem kerjasama PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang dengan PT Moya Indonesia yang menawarkan penuh keuntungan, kerjasama yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui PDAM Tirta Kerta Rahardja Kabupaten Tangerang dengan PT Aetra dianggap menelan biaya terlalu mahal.
Demikian disinggung Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Benteng Ahmad Marju Kodri, saat bersilaturrahmi dengan Pokja Wartawan harian Tangerang pekan lalu. “Kerjasama yang kami lakukan dengan PT Moya Indonesia melibatkan PDAM, Pemkot Tangerang, DPRD Kota Tangerang dan Kejaksaan Negeri Tangerang, dan masalah biaya atau harga airnya kami kendalikan penuh. Sehingga PDAM Tirta Benteng kedepannya bisa mengendalikan harga air meskipun yang memproduksi adalah PT Moya,” jelasnya.
Sementara itu, kerjasama PDAM TKR dengan PT Aetra, dilakukan tanpa melibatkan PDAM itu sendiri, namun berdasarkan kerjasama pemerintah dengan swasta (KPS), yang mana ada sedikit kekurangan dimana PDAM-nya tidak bisa mengendalikan harga.
“Kalau kami pasti untung karena sistemnya B to B (business to business) yang melibatkan kami selaku PDAM langsung dengan swasta, kalau Aetra itu kerjasamanya antara pemerintah dengan swasta, jelas nanti kebijakannya berbeda. Yang mana dampaknya pasti akan berimbas pada ketidak mampuan PDAM di sana menentukan harga bagi pelanggan,” imbuhnya.
Yang artinya juga, lebih lanjut Marju menyindir, bahwa meskipun PT Moya menanamkan investasinya sangat besar, PDAM Tirta Benteng tidak akan terpengarus soal harga langganan. Bahkan untuk beberapa waktu kedepan tidak akan ada kenaikan dan akan tetap dikenalikan PDAM Tirta Benteng.
“Keyakinan saya, harga langganan di PDAM Tirta Kerta Raharja mungkin akan tidak terkendali, kenaikanya mungkin signifikan di masa mendatang, tapi untuk pastinya kita buktikan saja di masa mendatang,” tukasnya.
Tingginya harga air Aetra juga pernah disoal oleh DPRD Kabupaten Tangerang. Tarif air bersih PT Aetra Air Tangerang dinilai sangat tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Kabupaten Tangerang. ”Tarif air bersih yang diberlakukan semestinya menyesuaikan dengan tarif air PDAM,” kata Ketua Komisi III Bidang Anggaran dan Pendapatan DPRD Kabupaten Tangerang, Muchlis, Selasa, (7/2) lalu.
Aetra menetapkan tarif Rp 13 ribu per meter kubik untuk kalangan industri dan Rp 4.500 per meter kubik untuk golongan rumah tangga. Tarif ini dinilai jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan tarif air PDAM Tirta Kertaraharja milik Pemerintah Kabupaten Tangerang. Tarif air PDAM untuk golongan rumah tangga Rp 1.875 per meter kubik, Rp 8.050 untuk golongan industri kecil, dan dan Rp 9.800 untuk industri besar.
Pada Agustus lalu dihadapan para wartawan, Pihak PT Aetra Air Tangerang sendiri mengaku mengalami over produksi. Walaupun jumlah pelanggannya telah mencapai 6200, ditambah dengan 65 pelanggan industri namun jumlah komsumsinya masih sedikit. “Saat ini rata-rata konsumsi masyarakat dari air bersih hanya 10 kubik. Padahal standar kebutuhan perkeluarga sebenarnya 25 kubik perbulan,” ujar Comercial Director PT Aetra Air Tangerang Untung Suyadi, (15/8).
Sebenarnya, jika masyarakat mau menggunakan air bersih untuk berbagai konsumsi, mereka justru akan menghemat pengeluaran mereka. Pasalnya harga jual rata-rata air hanya Rp4,5 perliternmya atau jauh lebih murah dari air isi ulang ataupun biaya listrik untuk menyedot dengan menggunakan mesin penyedot air. (pane/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.