Novandri Sebastian, Atlet Aeromodeling Banten Peraih Medali Emas Pertama

Tekad Novandri Sebastian (23) mendulang medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012 akhirnya terealisasi. Atlet Aeromoding ini sukses menjadi penyumbang pertama medali emas bagi kontingen Banten melalui nomor tri lomba free light putra pada Jumat (7/9) lalu.
Sosok Novandri Sebastian terlihat penuh percaya diri namun tetap terkesan rendah hati. Tampak kecerdasan dari caranya berbicara. Jika mengulas Aeromodeling, mata pemuda 23 tahun itu berbinar-binar. Dunia pesawat mini kini memenuhi pikirannya. Apalagi setelah berhasil merebut medali emas pertama Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII.
Di lingkungan teman-temannya, Novandri kerap dipanggil Botim alias Bocah Timor Leste. Sebutan itu disematkan lantaran mahasiswa jurusan teknik mesin, di Universitas Tirtayasa (Untirta) pernah tinggal lama di Timor Leste. Ayahnya, Sipriano Moniz Goncalves merupakan atlet lari asal Timor Timur yang berjodoh dengan Idoh Hafidoh, ibunya yang asli Serang, Banten.
Novandri kecil pernah menghabiskan waktunya di Kota Dili, ibukota Timor Timur selama enam tahun sebelum akhirnya pindah ke Serang di tahun 1999. Hingga kini, bahasa tetun atau bahasa daerah warga Timor Leste masih fasih dikuasainya.
Nama Novandri Sebastian mendadak muncul di berbagai media massa pada hari Jumat (7/9) lalu. Botim jadi sorotan setelah merebut medali emas pertama Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau XVIII. Dia mencatatkan diri sebagai atlet penyumbang emas pertama bagi kontingen Banten.
“Saya bangga bisa memberi medali emas bagi Banten. Selanjutnya, saya masih ingin menikmati hobi Aeromodeling yang sedang saya tekuni ini,” ungkap Novandri.
Perjalanan Novandri mendapatkan medali emas berlangsung penuh perjuangan. Turun di nomor trilomba, dia harus berlomba tiga hari berturut-turut. Di hari pertama, Rabu (5/9), Novandri bermain selama lima ronde melawan 15 atlet dari 15 provinsi pada kategori A1. Di hari pertama, dia berada di urutan kedua.
Di hari kedua, pemuda kelahiran 10 November 1988 itu bersaing di kategori A2 dengan memainkan tujuh ronde. Dia kembali menembus lima besar. Pada hari ketiga kategori free fligh OHLG, Novandri mendapatkan dilai paling bagus dibandingkan lawan-lawannya. Setelah  direkapitulasi pertandingan pertama sampai ketiga, Novandri akhirnya meraih poin tertinggi dan akhirnya berhak mendapatkan medali emas.
Sebenarnya, pemilik hobi merakit robot ini belum begitu lama menekuni dunia Aeromodelling. Semasa SMA, pemuda yang bercita-cita menjadi pengusaha itu merupakan atlet roket peluncur air. Dia bahkan pernah menjadi juara nasional lomba roket air.
Dunia Aeromodelling baru ditekuni pada  2007 silam. Dia tertarik menekuni  salah satu olahraga dirgantara tersebut prinsip kerjanya hampir sama dengan peluncur roket air yang ia geluti. Bak gayung bersambut, di tahun 2010 lalu, lantaran berkenalan dengan atlet senior aeromodelling Banten, Ahmad Tamami saat melakoni demo aeromodelling di kampus Untirta, ia mulai mencicipi olahraga tersebut dengan status atlet.
Karena memang sudah hobi dan memiliki semangat tinggi, dalam waktu singkat Novandri mampu berprestasi di cabor tersebut. Buktinya, ia mampu meraih medali perunggu di nomor tri lomba (OHLG, F1A dan F1H), di ajang Prakualifikasi Pekan Olahraga Nasional (Pra PON). Raihan tersebut mengantarkan dia berlaga di ajang PON XVIII, di Riau, pada 9-25 September mendatang.
“Saya tidak menyangka bisa berprestasi seperti ini. Mungkin karena saya hobi olahraga dirgantara sejak awal. Pokoknya, ini semua saya lakukan dari hati karena ingin terus bergelut dengan olahraga dirgantara sampai tua nanti,”pungkasnya. (gatot riswandi dari riau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.