Ahmad Yaman, Pelatih Murah Senyum Tim Dayung Banten

Nama Ahmad Yaman memang tak begitu populer. Manajer Dayung Banten itu juga lebih senang berada di belakang ‘perahu’. Namun keberhasilan tim Dayung Banten merebut 1 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu di ajang PON XVIII tak lepas dari tangan dinginnya.
Yaman adalah pria murah senyum. Sosoknya yang ramah dan hangat selalu terlihat. Sebagai seorang manajer, dia mampu dekat dengan pelatih maupun atlet-atletnya. Padahal, anggota tim Dayung Banten sangatlah beragam. Ada yang berasal dari Jawa Barat, Sulawesi Selatan hingga Papua.
“Kami memang seperti membentuk Indonesia kedua karena terdiri dari berbagai suku bangsa. Bagi kami, siapapun anak Indonesia yang ingin dibina sebagai pedayung akan kami tampung. Asalkan mereka menyelesaikan urusan administrasinya terlebih dahulu,” ujar Yaman dalam obrolan santai di Danau Teluk Nopi Teluk Kuantan, Kuansing.
Keakraban sekretaris Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Banten dengan anggota timnya memang tak lepas dari sistem kekeluargaan yang diterapkannya. Sesama anggota tim telah dibiasakan hidup saling berbagi.
Saat ini, atlet asal Papua paling mendominasi tim Dayung Banten. Sebut saja pelatih Kano Putra, Boris Mehue, Spent Stuber Mehue, Ernest Sokoy, Since Litasofa Yom dan beberapa nama lainnya. Mereka rata-rata telah mulai dibina tim Dayung Banten sejak kecil.
“Spent Stuber datang ke Banten dibawa pamannya pada tahun 2002. Waktu itu dia baru berusia 12 tahun. Kemudian Since datang di tahun 2007. Mereka datang tanpa karena ingin menjadi atlet dayung. Saya ingat, ketika datang pertama kali, Spent anak yang sulit. Satu bungkus nasi, dia pakai untuk makan dua kali. Sekarang, dia sudah jadi atlet Pelatnas. Juara Asian Games, SEA Games hingga Asian Beach Games,” ungkap Yaman, warga asli Kecamatan Tangerang Kota Tangerang tersebut.
Yaman menuturkan, keberhasilan anak asuhnya patut disyukuri. Pria kelahiran 15 Agustus itu selalu memberi kepercayaan kepada atlet-atletnya untuk menimba ilmu sedalam-dalamnya di tempat lain, termasuk Pelatnas. Dia tidak pernah khawatir Spent Stuber cs akan ‘kabur’ dan membela provinsi lain di ajang sekelas PON.
Kepercayaan dan rasa satu keluarga itulah yang membuat anggota tim Dayung betah. Peraih perak dan perunggu PON Riau, Spent Stuber bahkan rela tidak ikut Olimpiade London demi membela Banten. Tentunya, keputusan Spent sebelumnya didukung PODSI Pusat yang memang akhirnya tidak mengirimkan atlet ke Dragon Boat alias Perahu Naga ke ajang Olimpade yang baru saja berakhir tersebut.
“Saya senang membela Banten. Saya sejak SMP di sini. Setiap hari saya berlatih Dayung. Biasanya di Situ Cipondoh Kota Tangerang. Apalagi, buat saya, Pak Yaman sudah seperti orang tua sendiri. Di sini, susah senang kami sama-sama,” pungkas Spent. (gatot riswandi riau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.