Bocah Penderita Hydrocepalus di Panimbang itu Terpaksa Dirawat di Rumah..

PANIMBANG, SNOL Nizamudin Aulia (5), bocah penderita Hydrocepalus (pembesaran kepala) asal Kampung Cengkudu, Desa Diteureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, terpaksa dirawat di rumah lantaran orang tuanya tidak berasal dari golongan tak mampu.
Anak kedua dari pasangan Samsuri dan Siti Aliyah ini, tidak berdaya dengan kepala yang terus membesar. Hanya menangis yang bisa dilakukannya. Aulia harus bertahan dirawat di rumah yang sangat sederhana, dengan dinding bilik dan alas lantai seadanya. Siti Aliyah bercerita, sejak usia anaknya 3 bulan sudah terlihat tanda-tanda pembesaran dikepala. Saat itu orang tuanya hanya membawanya ke Puskesmas dan berkonsultasi dengan orang pintar dilingkungan kampungnya, dengan harapan ada hidayah penyembuhan, tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Setahun, dua tahun, tiga tahun sampai lima tahun, kata Aliyah, seiring bertambahnya usia Aulia, pembesaran dikepalanya juga turut bertambah. Bahkan, kondisi tubuh Aulia yang terus menurun membuatnya semakin khawatir, karena pasokan makanan tidak ada yang masuk selain susu.
“Saking paniknya, kami pernah nekat datang ke Rumah Sakit Pandeglang, atas rujukan pihak Puskesmas. Kemudian pihak Rumah Sakit memberi kami surat rujukan ke Rumah Sakit Cipto di Jakarta,” kata Aliyah.

Sesampainya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, pasien ditolak dengan alas an surat rujukan yang dibawa pihak keluarga tidak lengkap. Sehingga, pihak keluarga yang hanya berbekal surat Jamkesmas, kecewa. Dan tidak menyangka, kenapa surat rujukan yang dibawanya dari RSUD Pandeglang tidak berguna.

Yang paling memukul perasaan, pihak Rumah Sakit meminta uang sebesar Rp 24 juta, untuk biaya operasi dan perawatan anaknya. “Saya hanya seorang tukang jahit, dan suami saya hanya buruh kasar, dengan penghasilan yang tidak menentu. Dari mana kami punya uang sebanyak itu,” ujar Aliyah.

Sejak saat itu, pihak keluarga memutuskan untuk merawat Aulia dirawat di rumah. “Saat ini kami berfikir, apapun yang kami lakukan, hanya untuk Aulia. Dan saya terus menjahit untuk kelangsungan hidup kami,” ujarnya dengan nada lirih. Sang Ayah Samsuri mengaku, tidak ada jalan keluar untuk menyembuhkan anaknya selain berserah diri kepada Allah SWT. Upaya dan tindakan yang dilakukannya selama ini, seolah selalu menemui jalan buntu. “Kami berharap ada hidayah dan kekuasaan Allah yang dapat menolong kami,” imbuhnya.(mardiana/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.