Patung Lenin dan Monumen Soviet, Jejak Komunisme di Ulan Bator

Hingga 1990, Mongolia berada di bawah pemerintahan komunis. Jejak-jejaknya sampai kini masih terlihat, meski eranya telah berubah. Masyarakat Ulan Bator begitu bangga dengan monumen Zaisan Memorial Hill. Saat saya menginap di rumah tradisional kaum nomaden (Ger) distrik Khan Uul akhir Agustus lalu, sang empunya rumah “memaksa” saya untuk mengunjungi Zaisan Memorial.
Tserendolgor Tseeye, 64, pemilik Ger tersebut, menyatakan tidak lengkap rasanya kalau ke Mongolia belum mendatangi Zaisan Memorial.
“Kamu bisa melihat seluruh Kota Ulan Bator jika bisa sampai di puncak. Pemandangannya sangat indah,” ujar Tseeye sambil menunjuk kerlap-kerlip cahaya di sebuah puncak bukit dari depan rumah mungilnya.

Promosi Tseeye layak dibuktikan. Karena itu, esoknya, saya bersama fotografer Jawa Pos Farid Fandi berangkat menuju Zaisan Memorial dari Bayangol Hotel, tempat kami menginap. Dengan menumpang bus, kami tiba di lokasi dalam 30 menit.

Di kaki bukit, nuansa komunisme sudah sangat terasa. Saat melihat di puncak bukit, tampaklah sebuah patung raksasa berbentuk seorang prajurit membawa bendera Uni Soviet bergambar palu-arit. Di bawahnya ada tank dengan moncong yang siap memberondongkan peluru.
Menurut guide Otgonchimeg Altankhuag, tank itu adalah milik Soviet yang digunakan bertempur dalam Perang Dunia Kedua pada 1943-1945. Kendaraan lapis baja tersebut dibeli Soviet dari bantuan uang rakyat Mongolia.

Relief di momumen menceritakan rute perjalanan tank dari Moskow hingga Berlin, ibu kota Jerman. “Tank ini semula berada di perempatan jalan tengah kota. Namun, pada 2003 dipindah ke sini,” ucap Altankhuag. Kehadiran tank itu menegaskan hubungan yang sangat dekat antara Mongolia dan Soviet di masa lalu. Seberapa mesra hubungan itu? Sambil tersenyum, Altankhuag mengatakan, puncak Zaisan Hill akan menjawab pertanyaan itu.

Dari kaki bukit, puncak Zaisan Hill terlihat cukup tinggi. Ada lebih dari 300 anak tangga yang harus dinaiki untuk bisa sampai ke sana. Tentu saja cukup melelahkan bagi yang jarang naik tangga setinggi itu. Namun, rasa capek terbayar begitu sampai di puncak. Momumen itu sangat elok. Seluruh dinding yang mengelilinginya bergambar mural tentang sejarah panjang bangsa Mongolia dan hubungannya dengan Soviet.

Mural itu mengikuti timeline sejarah yang cukup terperinci. Mulai dukungan Soviet untuk kemerdekaan Mongolia pada 1921 hingga kerja sama kedua negara itu dalam upaya mengalahkan tentara Jepang di Khalkin Gol pada 1939. Kemenangan Soviet atas Nazi Jerman juga ada gambarnya. Ada pula lukisan Kosmonot Yuri Alekseyevich Gagarin, manusia pertama yang berada di luar angkasa pada 12 April 1961.

Sayang mural tersebut tidak terawat dengan baik. Banyak coretan tangan jahil yang merusak tetenger penting itu. Bahkan, prasasti yang memahat nama-nama arsitek dan pelukis mural tersebut hampir tak terlihat karena tertutup grafiti-grafiti tak jelas. “Anak pacaran juga sering memanfaatkan momumen ini untuk bermesraan,” ucap Altankhuag.

Benar kata Tseyee, dari puncak bukit itu pemandangan Kota Ulan Bator begitu cantik. Perbukitan, gedung-gedung, serta rumah-rumah tradisional warga Mongolia tampak apik, ditambah Tuul River yang mengalir di pinggiran Ulan Bator. Menurut mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris, Otgontenger University (perguruan tinggi swasta paling elite di Mongolia, Red) itu, pemerintah memang berupaya menjaga keutuhan momunen tersebut meski kini sudah berganti rezim. Selain Momumen Patung Genghis Khan dan lapangan utama tengah kota Ulan Bator Sukhbaatar Square, Zaisan Memorial menjadi salah satu objek wisata andalan Mongolia.

Di pusat Kota Ulan Bator, patung Vladimir Ilyich Ulyanov alias Lenin, pendiri Republik Federasi Sosialis Soviet, masih tegap berdiri. Tidak hanya satu, tetapi dua buah. Yang satu, satu badan penuh. Satu patung lagi hanya kepala. Iklim demokrasi mulai bersemi di Mongolia pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1990. Sistem satu partai yang hanya mengizinkan berdirinya Partai Rakyat Mongolia (Mongolian People’s Party ‘MPP) sudah dihapus. Meski begitu, pengaruh Partai Rakyat Revolusioner Mongolia (Mongolian People’s Revolutionary Party ‘MPRP), turunan MPP, masih sangat kuat. Partai itu masih berhaluan komunis. Namun, kekuasaan MPRP akhirnya juga habis pada Agustus lalu.

Pemilihan Umum 2012 menjadi tonggak penting sejarah politik Mongolia. Kali pertama Partai Demokrat menjadi pemenang pemilu dengan jumlah suara 35,32 persen, mengalahkan MPRP yang memperoleh 31,31 persen. Sisa-sisa perselisihan politik antarpartai masih terasa saat saya tiba di Mongolia awal Agustus lalu. Pemerintahan yang berkuasa masih dalam proses transisi. Calon perdana menteri dari Partai Demokrat Norov Altankhuyag ditentang DPR setempat. Koalisi Partai MPRP yang memiliki kursi lebih banyak di DPR mengajukan nama ketua umum mereka, U. Enkhtuvshin, menjadi perdana menteri.

Namun, ketegangan itu akhirnya cair begitu Altankhuyag diputuskan menjadi perdana menteri dalam sebuah pemilihan yang berlangsung alot. Kondisi chaos yang diprediksi akan pecah tidak terjadi. Chimska Mistig, mahasiswi National University Mongolian, asal Provinsi Khentii mengatakan, kemenangan Partai Demokrat memang membawa kegairahan baru bagi negerinya. Di banyak tempat, anak-anak muda dari golongan menengah mengorganisasi diri untuk mempromosikan partai tersebut. Chimska sadar bahwa MPRP yang berpengalaman sejak 1921 sulit dikalahkan. Kepercayaan rakyat kecil masih sangat kuat.

“Namun, saya melihat Partai Demokrat membawa harapan baru. Menyenangkan rasanya bekerja untuk politik. Kami sangat bersemangat menyambut sejarah baru ini,” ucap gadis 23 tahun itu. Chimska menambahkan, hampir 400 ribu di antara 1,8 juta pemilih (penduduk Mongolia 2,8 juta) mencoblos Partai Demokrat. “Itu prestasi tersendiri. Di tengah apatisme politik yang berkembang, terutama di kalangan kaum muda, angka tersebut sangat bagus,” imbuhnya.

Di atas itu semua, Chimska mengakui bahwa komunisme menjadi bagian sejarah yang sangat penting bagi negerinya. Dia sepakat bahwa monumen dan patung yang menggambarkan kejayaan komunisme harus tetap dijaga sebagai bagian dari sejarah. “Selain pengingat, itu menjadi objek wisata yang baik,” tegasnya.

Song Jae-sun, turis Korea Selatan yang saya temui, membenarkan perkataan Chimska. “Mongolia sebenarnya tidak ada apa-apanya. Jauh kalau dibandingkan dengan Bali. Namun, momunem ini termasuk objek wisata yang harus dikunjungi,” ujar Song. (aiur rohman*/c4/ari/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.