12 Klub Barongsai Adu Kelihaian

TANGERANG,SNOL Sebanyak 12 klub barongsai dari wilayah Tangerang raya dan Rangkasbitung bertanding dalam kejuaraan seni dan olahraga barongsai, Sabtu (29/9). Pada kejuaraan daerah ini mereka bertanding pada kategori barongsai lantai atau tradisional.
Tambur, genjring, dan kenong, alat musik tradisional ini berbunyi nyaring saat mengiringi lincahnya kedua pemain barongsai berwarna merah itu. Mereka adalah klub barongsai dari Wihara Ananda yang menjadi salah seorang peserta dalam pertandingan kejurda, di Tangcity Mall, Kota Tangerang.

Barongsai yang dimainkan oleh dua pemuda itu seperti layaknya tingkah laku hewan yang tengah bermain di sungai, dan mencari makan dihutan. Meloncati kursi sepanjang satu meter yang menyerupai jembatan, serta bermain-main di plastik berwarna biru yang menyerupai air.
Sesampainya dihutan, barongsai nyentrik berwarna merah itu berusaha mencari makan. Buah nanas, sayuran brokoli, dan anggur, dibuat oleh tim Wihara Ananda seperti serangga, konon makanan lezat untuk si barongsai.

Tingkah lincah dan menggemaskan barongsai tersebut selalu diintai tujuh orang juri dari Persatuan Senid an Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Mulai dari gerakan keempat kaki, mimik wajah, hingga tingkah mereka menyusuri properti yang menyerupai hutan tersebut.
Menurut Saferius Junaer, wakil ketua Persobarin Banten, gerak-gerik kedua pemain dibalik tubuh barongsai memang memiliki beberapa kriteria. “Seperti keserasian, keindahan, mimik wajah, kekompakan, dan 10 komponen penilaian juri lainnya,” jelasnya.

Makanya, perlu ada tujuh orang juri dan tiga orang juri utama dalam membuat penilaian. Tidak main-main, untuk mengkalkulasi penilaian, dimasing-masing meja juri tersebut pun disediakan kalkulator untuk menghitung nilai akhir dari sekali penampilan.

Sehingga, pemenang dalam kejuaraan daerah pertama Tangerang itu pun akan objektif. “Total hadiahnya besar, belasan juta untuk seluruh pemenangnya,” ungkap Saferius.

Sementara itu,  Joko Susanto, Ketua Persobarin Banten yang juga pengurus Boen Tek Bio mengatakan, pertandingan ini dalam rangka menyambut arak-arakan 12 tahunan pada  minggu mendatang. “Ini sebagai rangkaian arak-arakan 12 tahunan pada 6 Oktober nanti,” ujarnya.
Joko pun sangat apresiasi dengan pertandingan kali ini, pasalnya tidak hanya masyarakat keturunan saja yang menjadi pemain barongsai maupun pemain musiknya, masyarakat asli Tangerang maupun Banten menjadi pemain barongsai.

Hal ini, menjadi pembuktian kalau barongsai bukan lagi kesenian untuk masyarakat keturunan saja, melainkan masyarakat Banten. “Khususnya Tangerang, tidak pandang agama maupun suku, barongsai sudah menjadi kebudayaan masyarakat Indonesia,” tutupnya. (pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.