51 Dilaporkan Hilang, Evakuasi Bahuga Terkendala Cuaca

MERAK, SNOL Tim Search and Rescue (SAR) gabungan hingga kemarin telah menerima pengaduan dari 26 warga yang melaporkan kehilangan keluarganya. Dari dua 26 laporan itu, tercatat 43 warga dilaporkan hilang. Jumlah itu jauh lebih banyak dibanding laporan yang masuk ke Posko pengaduan PT ASDP Bakauheni, yang hanya terdapat enam warga yang dilaporkan hilang.
Sementara di petugas di PT ASDP Merak dilaporkan dua warga hilang, dan diduga kuat terperangkap di dalam kapal. Lantaran sopir dan kernet sebuah perusahaan ekspedisi itu kendaraannya tercatat di dalam manifes KMP Bahuga Jaya yang tenggelam di perairan Selat Sunda, Rabu (26/9) lalu. Jumlah keseluruhan yang dilaporkan hilang mencapai 51 orang.

Koordinator Tim SAR di Pelabuhan Bakauheni Lampung, Saidar R Jaya membenarkan adanya pengaduan warga yang melaporkan keluarganya yang hilang tersebut. Jumlah itu berdasarkan pengaduan yang masuk ke Posko Tim SAR Bakauheni.

Sedangkan pengaduan yang masuk ke Posko PT ASDP Merak hingga, Senin (1/10),  terdapat enam orang. Mereka antara lain, Rita Sulastri warga Cimahi, Jawa Barat, Yuliantoni warga Ketibung, Kabupaten Lampung Selatan, Asih Yatin (20), warga Lampung Timur, Khonidin (40) warga Pekalongan, Jawa Tengah, serta Andi Sriyono dan Bambang Sukoco, keduanya warga Merbau Mataram, Lampung Selatan.

Petugas PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Bakauheni, Lampung, Suyati, mengatakan pihaknya sudah menerima laporan dari keluarga yang mengaku korban hilang di kapal Bahuga Jaya. Sebelumnya terdapat dua orang, namun kali ini bertambah empat orang lagi menyatakan keluarganya hilang sebagai penumpang Bahuga Jaya. “Tambah empat lagi yang melaporkan korban hilang,” katanya.

Dihubungi terpisah, otoritas pelabuhan mengaku kacaunya manifes KMP Bahuga Jaya. Kondisi itu terjadi lantaran sulitnya menerapkan sistem pelayanan seperti boarding pass pada Bandara ataupun pencatatan bagi para penumpang yang berada di dalam kendaraan yang berpenumpang lebih dari satu orang.

Kepala Otoritas Pelabuhan Direktorat Jenderal Kementerian Perhubungan Darat, Endi Suprasetio yang ditemui Banten Pos (Satelit News Group), Senin (1/10), mengaku pihaknya kesulitan melaksanakan penghitungan penumpang kapal, terutama bagi mereka yang berada di dalam bus atau kendaraan lainnya, karena sistem ticketing yang penghitungannya secara general. Sehingga sangat wajar jika jumlah manifes pada insiden ini kacau balau. “Ya memang sistem perhitungan manifes di Pelabuhan Merak sangat sulit dilakukan dengan berbagai alasan,” kilah Endi.

Diceritakannya, pihaknya pernah memberikan form kosong kepada pengurus perusahaan operasional bus untuk mendata para penumpang yang hendak menyeberang. Namun saat dilakukan sidak di atas bus, semua nama yang dipanggil palsu. “Saya pernah naik, namun tak satupun penumpang tercatat dalam daftar. Mereka yang dipanggil tak ada yang menyahut. Itulah sulitnya menggunakan form,” ujar Endi.
Ia memaklumi jika para sopir maupun para pengurus bus enggan mengisi form tersebut secara benar lantaran waktu bersandar kapal hanya 15 menit, sehingga mereka dikejar-kejar waktu yang sangat sempit.

Evakuasi Terkendala Cuaca
Sementara, cuaca buruk yang terjadi di perairan Selat Sunda kemarin membuat tim penyelam gabungan kembali gagal menjangkau bangkai KMP Bahuga Jaya. Derasnya arus bawah laut pada kedalaman 20 meter membuat 12 orang tim penyelam khusus dari Wilayah Barat Marinir TNI AL tidak bisa menjangkau obyek kapal di kedalaman 76,5 meter. Posisi kapa berada pada 50.52 derajat – 44.00 derajat lintang selatan dan 10.50 derajat – 51.09 derajat bujur timur.

Komandan Brigif 3 Marinir yang memimpin Evakuasi korban KMP Bahuga Jaya, Kolonel Marinir Hardimo, mengatakan sejak pagi hingga sore hari kecepatan arus bawah laut itu mencapai 8 knot, sehingga penyelaman ditunda sementara. Karena jika dipaksakan, khawatir tali khusu untuk panduan akan kembali terputus oleh arus. “Mungkin esok hari akan kami coba melakukan penyelaman lagi. Mudah-mudahan arus lautnya tidak kuat lagi,” katanya.

Ia mengungkapkan karakteristik arus bawah laut di daerah tersebut sangat sulit diprediksi sehingga pihaknya masih mempelajari waktu-waktu tertentu untuk dapat diselami secara aman. (ned/rmol/dam/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.