Bermula dari Renovasi Besar-besaran 156 Tahun Silam di Boen Tek Bio

Menuju Prosesi Arak-Arakan 12 Tahunan Toapekong (1)
Pemindahan Kimsin atau patung dewa dari klenteng Boen Tek Bio ke klenteng Boen San Bio 156 tahun silam, menjadi tradisi 12 tahunan sekali yang sudah punya nama hingga ke mancanegara.
Gemuruh suara simbal dan gong mengiringi pengangkatan tempat yang akan dipanggul pada perayaan Arak-Arakan 12 Tahunan, Sabtu 6 Oktober nanti. Beberapa perempuan berbaju merah menggotong disetiap kanan kiri dan depan belakang tempat keempat Kimsin itu.
Tempat tersebut dipindahkan dari sebuah ruangan di pojok Klenteng Boen Tek Bio, menuju pelataran utama, sehingga siapa pun yang lewat klenteng yang berada di kawasan Pasar Lama Kota Tangerang itu bisa melihatnya.

Dikatakan Oey Tjin Eng Humas klenteng tersebut, dulu sekitar 156 tahun lalu, adanya prosesi arak-arakan ini karena adanya renovasi besar-besaran yang dilakukan klenteng Boen Tek Bio. “Dimana para Kimsin yang ada di Klenteng Boen Tek Bio dititipkan sementara di Klenteng Boen San Bio selama masa renovasi,” jelas Tjin Eng.

Kimsin atau patung dewa yang dititipkan tersebut adalah YS Hok Tek Ceng Sien atau Malaikat Bumi, YS Ka Lam Ya Pelindung Kelenteng, YS Kwan Seng Tee Kun Dewa Perang, dan Dewi Kwan Im Hud Couw sebagai Dewi Welas Asih.

Setelah renovasi besar-besaran selesai, pemulangan kembali empat Kimsin tersebut disambut meriah diiringi secara massal oleh umat dan masyarakat Tangerang pada masa 1856. Semenjak itu prosesi arak-arakan pemulangan Kimsin pun selalu dilaksanakan setiap 12 tahunan sekali.
“Saat itu bertepatan dengan tahun naga atau liong, mulai saat itu prosesi arak-arakan selalu dilakukan ditiap tahun naga,” ujar Tjin Eng.
Tidak terasa sejak tahun pertama hingga tahun ini sudah 156 tahun berlalu, dan untuk tahun ini sudah memasuki ke 14 kalinya prosesi Arak-Arakan 12 tahunan Toapekong dilakukan.

Walaupun sudah ratusan tahun berlalu, perayaan Toapekong tetap ditunggu umat dan masyarakat Tangerang. Diperkiraan akan ada ratusan ribu orang memadati rute arak-arakan. Jalur seperti Jalan Kisamaun atau daerah Pasar Baru, Jalan Daan Mogot, Jalan Damayanti, MT Haryono, dan beberapa jalur protokol Kota Tangerang akan ditutup karena dijejali ratusan ribu orang.

“Akan banyak orang tumpah ruah disana, mereka akan berlomba untuk dapat memegang Toapekong. Jalan akan ditutup, akan banyak arak-arakan disepanjang jalan tersebut,” jelas Tjin Eng. Selain umat dan masyarakat dari daerah Tangerang maupun Indonesia, umat yang berada di mancanegara pun akan datang dan menghadiri prosesi arak-arakan tersebut.

Hal tersebut tergambar saat tahun 2000 silam, dimana semua orang akan tumpah disepanjang rute. Untuk memohon keberkahan, menolak bala, mengusir roh jahat, umat dan masyarakat tersebut akan berlomba menggotong Toapekong.

Uniknya, prosesi Arak-Arakan 12 Tahunan ini tidak hanya dijadikan sebagai ajang religius umat Kong Hu Tju, Tao, dan Buddha saja, masyarakat umumpun sudah menganggapnya sebagai kebudayaan yang menarik. “Ini sudah jadi kebudayaan, sangat menarik, bisa dijadikan sebagai kebudayaan Tangerang dan Indonesia pada umumnya,” jelas Tjin Eng. (pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.