Teror SMS Bom, Buruh Diciduk

TANGERANG, SNOL Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pribahasa itu rasanya tepat ditujukan kepada Omi binti Sanen (28). Belum hilang kesedihan ditinggal buah hati untuk selamanya, Sabtu (29/9) lalu karyawan PT Panarub itu ditangkap karena mengirim teror akan meledakkan pabrik tempatnya bekerja. Warga Kelurahan Sepatan, Sepatan, Kabupaten Tangerang, ini pun meringkuk di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Tangerang.
Teror itu dikirim Omi melalui pesan singkat (SMS). Teror itu dipicu persoalan izin cuti yang ditolak perusahaan. Akibat tak diberi cuti, Omi jadi tak bisa merawat anaknya yang sedang sakit. Buah hati Omi yang baru berusia 11 bulan itu akhirnya meninggal. Itulah yang membuat Omi marah. Ia lalu mengirimkan SMS berisi teror akan meledakkan perusahaan pembuat sepatu itu. Rupanya perusahaan menanggapi serius ancaman Omi. Mereka mengadukan ke polisi. Wanita berusia 28 tahun dari Sepatan, Kabupaten Tangerang, itu pun akhirnya diciduk petugas Polres Metro Tangerang.

Penangkapan Omi sang buruh mendapat simpati dari puluhan buruh wanita sesama rekannya bekerja di Panarub Dwi Karya. Mereka sengaja datang ke Lapas untuk menjenguk. Namun ternyata mereka tidak diizinkan menjenguk Omi. Akhirnya, kesal dengan aturan tersebut, Senin (1/10) puluhan karyawan PT Panarub mendemo Lapas Wanita Tangerang. Mereka mendesak pihak Lapas agar memberi izin jenguk kepada para buruh dan keluarga Omi.

Pengurus Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) Kota Tangerang, Saban, di sela aksi demo menjelaskan, Omi ditangkap polisi karena menyebarkan SMS berisi ancaman ke beberapa karyawan dan satpam PT Panarub. Isi SMS nya berbunyi, ‘hati-hati yang di dalam, malam ini sedang dirakit bom, besok akan diledakkan’. Hal ini Menurut Saban, dilakukan Omi karena merasa kesal dengan pihak perusahaan yang telah semena-mena terhadap Omi, lantaran pernah ikut demo menuntut hak normatif.

Lalu, kata Saban, ketika Omi meminta cuti untuk mengurus anaknya yang sedang sakit, perusahaan tidak mengizinkan hingga akhirnya anak Omi meninggal dunia. “Persoalan ini menimbulkan kekesalan, akhirnya Omi mengirim SMS ancaman. Tapi sebenarnya dia tidak ada maksud untuk itu (mengebom perusahaan,red). Jadinya dia dituduh sebagai teroris,” ungkap Saban.

Dikatakan Saban, dirinya bersama rekan-rekan Omi melakukan demo karena tidak diizinkan menjenguk Omi yang saat ini ditahan di sel karantina. “Tujuan kami ingin membesuk teman kami, tapi lapas tidak mengizinkan. Kami kesal, jadi kami demo,” tukas Saban.

Kakak Omi, Rudi mengaku adiknya ditangkap petugas dari Polres Metro Tangerang saat berada di rumahnya, Sabtu (29/9) lalu. Petugas yang datang langsung menggeledah rumah dan membawa Omi tanpa menunjukkan surat izin penangkapan.

“Mereka masuk saja ke rumah tanpa permisi. Prosedurnya kan harus ada surat penggilan dulu, baru penangkapan. Tapi mereka langsung menangkap,” beber Rudi, ketika ditemui di Lapas Wanita kemarin (1/10).

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang, AKBP Suharyanto membenarkan pihaknya telah melakukan penahanan terkait ancaman bom yang dilakukan Omi melalui SMS.  “Omi kita tangkap pada hari Sabtu, karena adanya laporan mengenai ancaman bom yang dilakukan Omi melalui pesan singkatnya ke beberapa teman dan security. Kemudian kami lakukan pemeriksaan terhadap Omi,” kata Suharyanto.

Dalam pemeriksaan, Omi mengaku kesal dengan pihak perusahaan yang tidak memberikan izin sewaktu anaknya sakit hingga meninggal dunia sekitar 1 tahun yang lalu. “Omi bisa dijerat pasal 336 KUHP mengenai ancaman serta UU IT pasal 45 ayat 1 dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara,” tandas Kasat. (jarkasih/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.