Berkah dari Empat Dewa untuk Penduduk Bumi

Menuju Prosesi Arak-arakan 12 Tahunan Toapekong (2-Habis)
Patung dewa (Kimsin) YS Hok Tek Ceng Sien Malaikat Bumi, YS Ka Lam Ya Pelindung Kelenteng, YS Kwan Seng Tee Kun Dewa Perang, dan Dewi Kwan Im Hud Couw sebagai Dewi Welas Asih, siap mengelilingi Tangerang pada Sabtu (6/10) nanti. Keempat dewa tersebut akan diarak oleh ratusan ribu umat dan masyarakat pada perayaan Arak-arakan 12 Tahunan Toapekong.
Patung keempat dewa dan malaikat bagi penganut Buddha, Kong Hu Cu, dan Tao itu diperkirakan sudah berumur lebih dari 156 tahun. Mulai dari arak-arakan pertama ditahun 1856, patung berukuran kecil ini sudah ada di klenteng yang berada di daerah Pasar Lama Kota Tangerang.

Begitu disakralkan oleh para umat dan masyarakat, keempat patung tersebut nantinya akan menduduki tandu (Joli), tempat dimana patung tersebut diarak oleh ratusan ribu umat. Humas Boen Tek Bio Oey Tjin Eng menjelaskan, keempat patung berusia ratusan tahun itu mempunyai fungsi dan peran masing-masing untuk menjaga umatnya.

“Pertama ada Kimsin YS Hok Tek Ceng Sien. Malaikat bumi ini di hari Jumat (5/10) atau sehari sebelum arak-arakan dimulai, akan kita letakan diujung jalan ini,” jelas Tjin Eng. Tujuannya adalah agar saat pelaksanaan arak-arakan akan berjalan dengan lancar atas perlindungan Malaikat Bumi.

Tjin Eng menjelaskan, secara filosofi malaikat bumilah yang selama ini mendatangkan rejeki dari bumi untuk para umatnya. Tidak hanya Malaikat Bumi yang mengambil peran penting dalam arak-arakan tersebut, masih ada tiga dewa dewi lain yang akan diarak. Mereka adalah YS Ka Lam Ya Pelindung Kelenteng, dipercaya umat sebagai pelindung klenteng dari segala macam mara bahaya. Sementara dewa perang YS Kwan Seng Tee Kun mempunyai sifat yang teguh pendirian dan setia pada tanggung jawab. “Terakhir ada Dewi welas kasih Dewi Kwan Im Hud Couw, kami percaya jika hambanya meminta tolong pasti akan dikabulkan,” jelas Tjin Eng.

Ketiga patung dewa dewi inilah yang nantinya akan diarak secara beriringan dengan berbagai pengisi acara lain. Jarak masing-masing patung hanya sekitar dua hingga tiga ratus meter saja. Sebelum ketiga patung diarak, ada sekitar delapan rombongan yang akan membuka jalan, mulai dari marching band, rebana, karnaval pakaian adat Indonesia, tarian kipas, rabana, hingga barong Bali.

“Barulah rombongan pembawa Pataka dan liong berjalan mengawali seksi prosesi,” kata Tjin Eng. Setelah itu, belasan orang berdandan dan berpakaian seperti figur dewa dewi berjalan rapih turut membuka jalan. Patung dewa YS Kha Lam Ya atau Pelindung Klenteng diarak memasuki prosesi pertama. Dilanjut ada barisan kuda, dibelakangnya berjejer dengan jarak dua hingga tiga ratus meter patung Yms Kwan Seng Te Kun Dewa Perang dan Dewi welas Asih Dewi Kwan Im Hud Couw, diarak dengan tandu (Joli).
“Dibelakangnya baru ada Liong sebagai penutup jalan,” ujar Tjin Eng, menggambarkan suasana prosesi nanti pada Sabtu (6/10).
Tidak hanya itu masih ada delapan arak-arakan seperti kemeriahan festival yang akan berbaris dibelakangnya. Seperti Pat Im, replika perahu pecun, angklung gubrak, tanjidor, reog poborogo, kilinsay, barongsau, dan terakhir liongsay menyisir bersih jalannya prosesi arak-arakan.(pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.