UIN Resah Sevel Dekat Kampus

CIPUTAT,SNOL Civitas akedemika Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah resah dengan keberadaan Seven Eleven (Sevel) di kawasan kampus. Betapa tidak, minimarket yang dikemas modern, dipenuhi live musik dan minuman beralkohol itu jauh dari misi pendidikan.
Kekhawatiran atas keberadaan Sevel di kawasan UIN Jakarta memang memiliki dasar yang cukup luas untuk dipertimbangkan. Makanya, pembantu Rektor UIN Jakarta Bidang Kemahasiswaan Dr Sudarnato Abdul Hakim, MA juga turut mengkritisinya.

Menurutnya, keberadaan Sevel di kampus UIN merupakan kecelakaan. Sebab, terlepas dari sisi bisnis, pembangunan Sevel yang berdekatan dengan UIN dan Masjid Fathulloh UIN, membuat misi pendidikan yang diemban kampus menjadi rancu.

“Kawasan pendidikan mengemban tugas membangun moral, etika dan karakter mahasiswa yang mengemban ilmu. Hingga saat ini belum ada jaminan apakah Sevel didekat UIN tidak akan menjual minuman keras dan tidak akan buka 24 jam. Kami juga tercengang, kenapa ijin pendirian Sevel itu diberikan oleh pemerintah daerah,” kata Dr Sudartano. Seyogyanya, kata Sudartano, pemberian ijin pusat-pusat keramaian disesuaikan dengan konsep kawasan. Untuk Sevel di UIN, dikhawatirkan akan merusak sisi religius warga.

“Harus ada perhatian khusus Pemda soal keberadaan sentra bisnis yang tidak sejalan dengan misi pendidikan,” terangnya. Sementara itu, dari sidak yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) didapati Sevel di UIN tersebut tak miliki surat Izin Usaha Toko Modern (IUTM).

“Kami memberikan kesempatan selama tiga hari kepada sevel untuk dapat menunjukan IUTM. Jika tidak bisa menunjukan IUTM, kami akan menutup tempat tersebut,” ujar Abdul Rahman, Kepala Seksi Perdagangan Dalam Negeri pada Disperindag Tangsel. Store Manager Sevel UIN Ciputat Irwan Susanto menjelaskan ijin Sevel semuanya ada di Pusat. Sedangkan untuk kantor cabang tidak memegang surat ijin.

“Kami hanya menjalankan tugas, untuk masalah perizinan ada di pusat. Jadi saat ini kami tidak pegang, “ elaknya. Terpisah, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Tangsel, Dadang Sofyan mengatakan, bersama DPRD, pihaknya tengah menggodok aturan perizinan baru bagi usaha minimarket, yakni Izin Usaha Toko Moderen (IUTM).

“Aturan itu guna mengatur segala aspek dalam bisnis toko moderen, termasuk jarak antar toko moderen serta jarak antara toko moderen dengan toko tradisional,” ucapnya. (pane/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.