Setelah Bebas, Omih Bolak-Balik ke Jakarta dan Lapor ke Polisi

Keluarga Omih (28), buruh PT Panarub Dwikarya yang ditahan gara-gara dituding menebar sms berisi teror bom ke perusahaan bersyukur pengajuan penangguhan penahanan dikabulkan polisi. Meski demikian, keluarga masih jarang berkumpul lantaran Omih masih sibuk mengurusi kasusnya.
Suasana  Gang Makam RT 01/03 Kelurahan Sepatan Kecamatan Sepatan Kabupaten Tangerang tampak lengang. Padahal wilayah ini merupakan kawasan padat penduduk. Saking padatnya, jalannya di kawasan itu hanya setapak dan hanya muat untuk sepeda motor.

Di salah satu rumah itu lah Omih tinggal bersama neneknya yang bernama Nasiwah yang kini berusia 65 tahun. Beberapa bagian di bangunan yang ditempati Omih juga sudah tampak tua dan rapuh. Sabtu (6/10) lalu, warga di lingkungan itu ramai membicarakan Omih yang bebas setelah seminggu lebih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Tangerang gara-gara dituduh menebar SMS teror bom.

Nah, saat pulang ke rumah usai bebas dari LP Wanita, keluarga menyambutnya dengan sukacita. Bahkan sempat digelar syukuran dengan mengundang para tetangga. Sejumlah buruh rekan Omih di PT Panarub Dwikarya bahkan sempat menginap di rumah Omih.

“Omih adalah anak kedua dari enam bersaudara. Dia menjadi tulang punggung keluarga ini setelah saya pindah rumah, karena saya sudah berkeluarga,” kata Rudi kakak pertama Omih kepada Satelit News, Selasa (9/10).

Sehari setelah dibebaskan, aktifitas Omih langsung tinggi. Bahkan keluarganya tidak mengetahui persis apa kesibukan Omih sekarang. Hari Minggu sekitar pukul 08.00, Rudi mengaku adiknya itu sudah berangkat ke Jakarta dan pulang malam hari. Setelah itu, pada Senin nya, Omih berangkat ke Polres Metro Tangerang untuk melapor. “Untuk hari Senin dan Kamis Omih melapor ke Polres Metro karena memang wajib lapor” tukas Rudi.

Hj Enung Obih, bibi Omih menambahkan, kesibukan Omih di Jakarta tidak diketahui kejelasannya. Namun dugaan Obih, hal ini berkaitan dengan masalah yang membelit Omih. “Sejak dibebaskan Omih baru menginap dua malam di rumah. Senin malam saja Omih tidak pulang ke rumah, sejak pagi dia pergi ke Jakarta. Saya tidak tahu persis urusan apa, mungkin terkait masalahnya,” kata Obih.

Meski tidak mendapat kejelasan urusan apa Omih ke Jakarta, namun keluarga tetap memberikan dukungan kepada Omih. Di mata keluarga, Omih dikenal sosok yang baik hati dan suka menolong. “Dia orangnya sabar, ibadahnya juga rajin, meski tidak pernah sekolah di pesantren,” katanya.

Omih, kata Obih, adalah orang tua tunggal. Ia bercerai dengan suaminya saat masih mengandung anaknya. Omih dikenal sangat sayang dengan keluarganya, terutama anaknya saat masih hidup. “Setelah anaknya meninggal dunia, mainan anak-anaknya seperti boneka tetap disimpan rapih. Omih tidak mau mainan itu dibuang. Omih paling sedih jika ditanya soal anaknya,”ucapnya.

Sementara Nasiwah mengaku bersyukur berkat dukungan banyak pihak Omih bisa menghirup udara bebas, meski hanya penangguhan penahanan. Ia mengatakan, kehadiran Omih di rumahnya yang sederhana sangat berarti. “Kadang Omih suka membantu saya memasak di dapur, orangnya rajin,” tandasnya. (fajar aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.