Jlitheng Suparman, Dalang Minimalis Adopsi Kisah Dunia

Wayang kulit identik dengan pentas semalam suntuk nan melelahkan. Di tangan Jlitheng Suparman, wayang kulit dipentaskan dalam durasi singkat dan padat. Lakon yang dibawakan tak melulu berkutat pada kisah klasik wayang Mahabharata dan Ramayana. Kisah novel Sindhunata hingga kisah klasik asal Yunani dia usung.
Menonton pagelaran wayang kulit semalam suntuk adalah sebuah ’penderitaan’ tersendiri bagi mereka yang tak suka dengan seni tradisi Jawa. Kantuk dan bosan adalah dua soal yang harus dihadapi bagi penonton wayang kulit. Baik yang gemar maupun tidak. Lelucon selucu apa pun dan tuturan filosofis secanggih apa pun tak akan menjadi tontonan penuh tuntunan jika derita pagelaran wayang kulit sudah melanda.

Pertunjukan wayang kulit rawan penderitaan semacam itu tidak muncul pada lakon-lakon yang diusung Jlitheng Suparman. Ki Jlitheng menyodorkan pertunjukan wayang yang segar dengan durasi antara dua hingga empat jam dan disertai pendukung pementasan berjumlah jauh lebih sedikit dari kebanyakan pentas wayang kulit. Wayang Climen namanya.

Jlitheng mulai aktif dengan wayang climen sejak 2010 silam. ”Saya ingin mengembalikan wayang sebagai sebuah tradisi tutur,” ujar Jlitheng Suparman.

Sebagai sebuah tradisi lisan, pertunjukan wayang kulit wajib jauh dari kebosanan bagi penontonnya. Durasi singkat dan pengadeganan di atas kelir yang penuh dialog-dialog segar menjadi upaya Jlitheng mengembalikan tradisi tutur pada wayang. Berangkat dari ide semacam itu, Jlitheng lantas tak ragu mendobrak tabu-tabu yang acap muncul pada sebuah pentas wayang kulit purwa. Seperti pementasan penggalan kisah Bharatyuda di Galeri Salihara pekan lalu misalnya.

Bharatayuda sering dianggap sakral oleh banyak kalangan. Klimaks Mahabharata antara Pandawa dan Kurawa itu konon hanya boleh naik kelir di sebuah lapangan luas, jauh dari kawasan hunian. Tabu mementasakan Bharatayuda di sebuah lokasi dekat hunian jika tidak ingin kebakaran melanda. Laku-laku asketis khas Jawa juga wajib dilakukan oleh sang dalang beserta para pendukung pentas lakon tersebut sebelum pergelaran dimainkan. Di tangan Jlitheng, tabu dan rambu semacam itu tidak berlaku.

Pentas wayang climen dari Jlitheng di Galeri Salihara adalah salah satu buktinya. Pentas dilakukan di ruangan tertutup berpendingin udara nan sejuk, dekat dengan kawasan padat penduduk. Kisah sakral Bharatayuda ditafsirkan sedemikian rupa dengan merujuk kisah Lysistrata karya Aristophanes dari Yunani. Jadilah kisah Bharatayuda yang mestinya memungkasi pertarungan Pandawa dan Kurawa itu batal terjadi akibat mogok seks para perempuan Amarta dan Astina seperti batalnya perang antara Athena dan Sparta oleh aksi serupa para perempuan dua negara kota di Yunani itu.

”Sebagai sebuah tradisi lisan, wayang telah terlanjur masuk dalam kategori seni adiluhung dengan banyak rambu. Ini tak boleh, itu boleh. Ini hanya untuk kraton, itu tidak dan batasan-batasan lainnya. Wayang climen ini adalah seni adiluwung,” kata Jlitheng. Luwung dalam bahasa Jawa berarti seadanya. Tentu bukan ala kadarnya jika kemudian melihat bagaimana Jlitheng menyiapkan pentas-pentas wayang minimalisnya.

Pada persiapan pentas lakon bertajuk Nirasmara di Galeri Salihara misalnya. Lakon dari tafsiran Lysistrata ini dia siapkan tak kurang dari setahun lalu. ”Saya ditelpon mas Sitok (Sitok Srengenge-Kurator Teater Komunitas Salihara, Red) sekitar setahun yang lalu. Sejak itu saya mulai melakukan beberapa persiapan,” katanya. Pada lakon Nirasmara ini, Jlitheng mengakui mendapat kesulitan yang cukup merepotkan hingga harus melakukan perubahan pilihan adegan, penokohan pada lakon, hingga alur cerita.

”Saya melakukan ujicoba pentas dan kemudian melakukan sejumlah perubahan. Perubahan pengadeganan, alur cerita dan lainnya,” lanjutnya.  Pada Nirasmara ini, Sumbadra menjadi pilihan Jlitheng sebagai tokoh utamanya. Salah satu dari 40 istri Arjuna itu menjadi pilihan Jlitheng walau Srikandi selama ini lebih banyak dikenal mereka yang sekalipun awam dengan kisah wayang.  Alasannya, Srikandi sudah terkenal dan cenderung maskulin dengan kepiawaian memanahnya. Padahal, kisah Nirasmara menitikberatkan aksi mogok seksual para perempuan yang lekat pada alam pikir patriarkhis dengan pikat seksualnya.

Proses kreatif yang sama sekali tidak sekadarnya itu menjadikan Nirasmara lakon unik. Pentas wayang Jawa rasa Yunani. Sejak awal gunungan tercabut dari kelir, Jlitheng menabur dialog cair dengan kelakar di sana dan sini. Sayang, seting kelir pada pentas Nisrasmara masih melanjutkan kerancuan gaya menonton wayang yang menempatkan penonton di belakang dalang. Akibatnya, penonton hanya disuguhi gerak wayang tanpa keindahan siluet atas wayang itu sendiri di atas kelir.

Selain Nirasmara, Jlitheng pernah mementasakan lakon Semar Gugat yang merupakan saduran dari novel Semar Mencari Raga karya Sindhunata. Dia juga membawakan saduran dari lakon-lakon klasik, seperti Widarakandhang dari lakon Kangsa Adu Jago dan Dewaruci yang bersumber dari wayang purwa.

Di dunia pedalangan, Jlitheng dikenal sebagai tamatan jurusan Sastra Jawa Fakultas Sastra UNS Surakarta. Dia pernah masuk dalam 10 besar dalang unggulan dalam Festival 50 Dalang di Solo. Pada 2000 ia mendirikan Wayang Kampung Sebelah, sebuah kelompok wayang purwa yang menampilkan satire dan humor, dengan tokoh-tokoh dari kehidupan kita sehari-hari. (hendramasto/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.